Senin, 03 Desember 2018

TEKNOLOGI INFORMASI ( TI ) DALAM PAI


Oleh: Nuthpaturahman

1. UNIVERSAL SKILL ABAD 21 DAN PEMBELAJARAN BERBASIS TI
1.1.    Universal Skill Abad 21
Skill menurut kamus bahasa Inggris artinya keterampilan, kecakapan, kepandaian, bakat atau kepiawaian, sedangkan universal artinya menyeluruh. Menurut Armala, skill adalah “kemampuan intelektual yang biasa berhubungan erat dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kemampuan ini diperoleh dengan cara belajar”[1] Sedangkan menurut Francis Green, “Skill is widely regarded as a focus for analytical research and as a core object for policy interventions in the modern global high-technology era.”[2]
Dari definisi dan paparan tersebut maka universal skill abad 21 dapat di maknai sebagai kemampuan dalam ilmu pengetahuan di bidang teknologi secara menyeluruh guna menghadapi dan mengikuti segala perubahan dan kemajuan TI di abad 21. Di era teknologi seperti jaman sekarang ini TI merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia, dengan adanya TI manusia bisa saling berkomunikasi dan saling berbagi informasi secara cepat dan tepat dengan waktu yang singkat.
Perkembangan Teknologi Informasi berjalan begitu cepat dan banyak memberikan kemudahan bagi manusia untuk melakukan komunikasi atau mendapatkan informasi tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu. Hampir semua aktivitas manusia selalu berhubungan dengan peralatan Teknologi Informasi. Di kantor atau lembaga pendidikan berbagai peralatan seperti komputer, laptop, dan internet juga sangat mendominasi cara kerja manusia secara modern dalam menghasilkan sebuah informasi.

1.2.     Hubungannya Dengan Pembelajaran Berbasis TI
Kecanggihan teknologi informasi memberikan tantangan besar bagi dunia pendidik dalam globalisasi tanpa batas di era informasi. Tantangan ini haruslah diterima sebagai hadiah besar bagi dunia pendidikan, kerena teknologi informasi dapat menjadi alat yang sangat berharga dan dapat  menghasilkan hasil yang luar biasa jika digunakan dan diintegrasikan dengan benar dan bijak dalam proses pembelajaran. Sebagaimana yang dipaparkan oleh Wan Noor Hazlina Wan Jusoh dan Kamaruzaman Jusoff, “Educational technology and multimedia can be valuable tools when they are integrated into the curriculum appropriately to achieve learning gains, particularly when they are combined with a twenty-first-century curriculum.”[3] Yang maksudnya adalah Teknologi dapat dijadikan sebagai pendidikan ketika teknologi tersebut diintegrasikan ke dalam kurikulum, terutama jika digabungkan ke dalam abad sekarang.
Pemanfaatan Teknologi informasi dalam pembelajaran dapat membuat pelajaran menjadi menyenangkan dan dapat meningkatkan minat siswa dalam mengikuti pelajaran tersebut. Di bandingkan dengan pembelajaran tradisional yang gurunya hanya ceramah sehingga dalam mengikuti proses belajar siswa cenderung pasif. Dalam hal ini seorang guru merupakan salah satu ujung tombak dalam proses pembelajaran bagi ketercapaiannya tujuan pendidikan, guru dituntut untuk terus meningkatkan kompetensi dan kualitas diri kemajuan teknologi di abad 21 ini.
Wan Noor Hazlina Wan Jusoh dan Kamaruzaman Jusoff kembali memaparkan, “Muslim educators need to equip themselves with ICT skills especially multimedia in order to cater the growth of students in all aspects; spiritual, intellectual, imaginative, physical, scientific, linguistic, both individually and collectively. If we fulfill this, only then we able to produce balanced students spiritually, physically and mentally...”.[4] Maksudnya adalah seorang pendidik muslim haruslah membekali diri dengan keterampilan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) untuk memenuhi pertumbuhan siswa dalam semua aspek; spiritual, intelektual, imajinatif, fisik, ilmiah, linguistik, baik individual dan kolektif hingga mampu menghasilkan keseimbangan rohani, fisik dan mental.
Pendapat senada juga diungkapkan oleh Stephanie Bell, “In the twenty-first century, students use computers in very advanced ways, but we must remember that they are still children and need guidance to use technology safely and effectively. Technology as a means, not an end, enables students to experiment with different technologies for all aspects of PBL. An authentic use of technology is highly engaging to students, because it taps into their fluency with computers”.[5] Maksudnya adalah teknologi bukanlah sekedar alat atau tujuan akhir, maka kita sebagai seorang guru yang berada pada abad ini haruslah bisa membimbing siswanya dalam penggunaan teknologi dengan aman dan efisien, sehingga siswa dapat bereksperimen dan tertarik dalam penggunaan komputer.
Perkembangan teknologi abad ini dalam dunia pendidikan telah banyak memperlihatkan keuntungan dan perubahan yang signifikan, sehingga daya imajinasi, kreativitas, fantasi, emosi peserta didik berkembang ke arah yang lebih baik. Selain itu pembelajaran dapat semakin berkembang dengan adanya inovasi elearning memudahkan proses pendidikan, serta memungkinkan berkembangnya kelas virtual atau kelas yang berbasis “teleconference” yang tidak mengharuskan seorang guru dan murid berada dalam satu ruangan.
Pembelajaran berbasis teknologi tersebut telah dibuktikan oleh Zulkifli. M (eds) pada penelitiannya yang berjudul “ON ICT-BASED LEARNING MODEL OF ISLAMIC EDUCATION AT SENIOR HIGH SCHOOL 4 KENDARI SOUTH-EAST SULAWESI PROVINCE”, yang berkesimpulan 87,88% siswa kelas XI IPS-2, 86,11% siswa kelas XI IPA-2 aktif dalam pembelajaran dan 85,69% siswa kelas XI IPS-2, 90,75% kelas XI IPA-2 menyatakan puas dan sangat senang dengan alasan bahwa pembelajaran PAI berbasis TIK dapat mempercepat pemahaman  materi, tepat, efektif, efisien, menarik dan menyenangkan karena diskusi dapat dilakukan secara online.[6]





2. PEMBELAJARAN TRADISIONAL,  WEB FACILITATED,  BLENDED DAN PEMBELAJARAN ONLINE

2.1.    Pembelajaran Tradisional
Pembelajaran tradisional adalah suatu model pembelajaran tanpa memanfaatkan fasilitas teknologi. Model ini berpusat pada guru dengan menempatkan peserta didik sebagai objek dalam proses belajar mengajar dan guru di tuntut menjadi serba bisa sebagai sumber belajar peserta didik. Sebagaimana yang dikatakan oleh Harasim (1995) “Collaborative learning is fundamentally different from the traditional "direct-transfer" or "one-way knowledge transmission" model in which the instructor is the only source of knowledge or skills”.[7]
2.2.    Web Facilitated
Web Facilitated merupakan proses pembelajaran dengan memanfaatkan fasilitas yang tersedia di  web online untuk membantu peningkatan penguasaan bahan ajar yang tidak terpenuhi dalam proses tatap muka, pemanfaatan ini lebih banyak dengan pengumpulan tugas.
Huaibo Xin, Monica Kempland dan Faustina H. Blankson mengemukakan, “The web facilitated section met face to face in class three hours each week, and used Blackboard Learning Management System (Blackboard 9.0 version) as an enhancement to the class; assignments, additional readings and other materials were provided to students through Blackboard to supplement traditional, in-class instruction. The hybrid section included 65% of coursework spent in a traditional face-to-face class setting, while additional web-facilitated lectures, assignments and activities were conducted using Blackboard. No face-to-face interactions were conducted for the online class, and all assignments, lectures and activities were presented via Blackboard”.[8]
Web sebagai pembelajaran yang dihasilkan berupa web yang memiliki beberapa fasilitas sepert forum diskusi atau obrolan. Forum diskusi disediakan untuk peserta didik dan guru, guru dapat menggunakan forum diskusi sebagai penyampai materi, sedangkan peserta didik dapat menanggapi dan memberikan tangapan atau komentar di dalam forum tersebut.
2.3.    Blended
Menurut Harton (2006) yang dikutip oleh Wajeha Thabit Al-Ani, blended learning adalah “as any mixture of any form of learning possible: classroom, virtual-classroom, or standalone learning”,[9] maksudnya adalah sebagai salah satu  campuran atau pemaduan dari segala bentuk pembelajaran yang memungkinkan, seperti pembelajaran di ruang kelas, kelas virtual, atau belajar sendiri.
Sedangkan Kaye Thorne dan David Mackey, kegiatan pembelajaran alami yang didukung dan ditingkatkan kemudian mencampurkannya dengan media cd-rom, virtual classroom,  voice-mail, e-mail, video streaming. [10]
Dari definisi tersebut blended adalah suatu model pembelajaran yang menggabungkan atau memadukan pembelajaran tradisional (face to face) dengan media teknologi. Media teknologi tersebut berupa komputer yang terhubung dengan internet (online) atau tidak (ofline), multimedia dan sebagainya.


2.4.    Pembelajaran Online
Pembelajaran online atau online learning merupakan bagian dari e-learning, akan tetapi online learning memiliki cakupan yang lebih sempit, yaitu suatu rangkaian aplikasi menggunakan media elektronik untuk membuat pembelajaran yang menggunakan  jaringan komputer yang terhubung dengan internet secara langsung dan global.
Menurut David Huni dan Seng Chee Tan, “Over the Internet, we are now beginning to see many community-based sites where opinions are being shared by experts and Opinionators' over all kinds of issues, products, and ideas. In other words, the Internet has now enabled differing and distributed expertise to be within reach as long as there are individuals, who, for some reasons or others, are willing to make a contribution. Very often, when we are able to attend to a problem On the job', the situated context through which the problem has arisen often provides the abundant contextualized engagement of tasks”.[11] Maksudnya adalah melalui sebuah Internet, kita bisa memulai kegiatan bersama oleh para ahli dan membicarakan masalah atau ide-ide. Dengan kata lain, bersedia untuk memberikan kontribusi untuk menghadiri masalah pada pekerjaan, konteks terletak di mana masalah timbul sering memberikan konseptualisasi.
Jeffrey W. Butler menambahkan, To engage teachers in this endeavor, we must show the strong advantages of teaching and learning online. Some advantages include providing course continuity for absent students, teachers or substitute teachers; automatic access to tutorials; unlimited student access to review content prior to testing; compatibility with traditional scheduling; a complete course is prepared for new teachers; differentiated instruction and exponential learning is facilitated; virtual field trips are possible; multi sensory learning is fostered; content can be customized for students' learning styles; and electronic feedback analyzes student involvement in the course”.[12] Maksudnya adalah terlibat guru dalam menunjukkan keuntungan dari pengajaran dan pembelajaran online. Beberapa keuntungan termasuk memberikan kursus kontinuitas untuk peserta didik. guru mengakses siswa dapat untuk meninjau konten sebelum pengujian; kompatibilitas dengan penjadwalan tradisional; kursus lengkap disiapkan oleh guru yang dibedakan dan pembelajaran eksponensial difasilitasi; kunjungan lapangan virtual dan disesuaikan untuk gaya belajar siswa; dan umpan balik keterlibatan siswa dalam kursus.



3. BLENDED LEARNING
Ketika merancang model blended learning yang perlu diperhatikan adalah pembagian dari beberapa materi pembelajaran yang mencampurkan tatap muka dengan online, yang biasanya 50%  tatap muka di kelas dan 50% dilakukan secara online.[13] Adapun model-model tersebut adalah:
3.1.    Face-to-Face Driver
“The teacher still delivers the majority of curriculum. . .,This model is quickly evolving beyond remediation to allow teachers to integrate Web 2.0 technology to more fully engage students in online discussions, activities, and projects beyond the physical classroom”.[14] Dalam model ini guru memberikan silabus atau materi pelajaran kepada peserta didik dan kemudian melibatkan tidak sekedar tatap muka di ruang kelas, melainkan melibatkan siswa dalam diskusi online atau kegiatan di luar kelas dengan mengintegrasikan teknologi berbasis web.
3.2.    Rotation
“This blends self-paced work online with face-to-face instruction. In this model, the face-to-face teacher usually oversees the online york” [15]
“In a blended learning rotation model, students shift between traditional face-to-face, synchronous instruction and online content delivery in their home, a computer lab, or in a classroom”.[16]
Seperti  namanya model ini berjalan secara rotasi atau berputar yaitu kegiatan pembelajaran yang terlebih dahulu dilakukan secara offline dan kemudian dilanjutkan dengan online dengan bantuan media berbasis web sambil bertatap muka di dalam kelas yang di bimbing dan diawasi oleh guru atau pendidik.
3.3.    Flex
“The flex blended learning model features a learning management interface that delivers most of the curricula, and teachers provide on-site support on an as-needed basis through tutoring and small-group sessions”.[17]
Dalam model ini tatap muka hanya merupakan pengayaan atau pelengkap saja yang dilakukan oleh guru yang tidak harus profesional dengan peserta didik yang telah membentuk kelompok diskusi. Kemudian setelah melakukan tatap muka tersebut barulah peserta membawanya atau mencampurnya dengan pembelajaran online yang dibimbing oleh guru yang profesional.
Hal yang serupa juga di ungkapkan oleh M. Gail Derrick, Michael K. Ponton dan Paul B. Carr, “The online and face-to-face research courses were designed to provide opportunities for students to work towards these larger goals. For example, students in the face-to-face instruction were provided opportunities to work collaboratively in groups while students in the distance courses worked independently in similar assignments.” [18]
3.4.    Online Lap
“Learning takes place on a school campus in a computer lab. Online teachers deliver curriculum via an online learning platform”.[19] Pada model ini pembelajaran berlangsung di dalam ruang laboratorium komputer dan silabus atau materi pelajaran di bagikan oleh pendidik secara online. Di dalam ruang laboratorium tersebut peserta didik dipantau atau diawasi oleh orang yang tidak perlu terlatih dalam pelajaran yang diajarkan, pengawasan berfungsi hanya untuk menjaga disiplin dalam belajar terus berjalan.
3.5.    Self-Blend
“Student comments on the Online Discussion Rating Forms, Course Evaluations, and Final Reflections indicate that students appreciated the online resources and the ability to search for resources themselves, while also seeking further structure in optional in-seat workshops.”[20]
Dalam model ini peserta didik dibekali terlebih dahulu oleh pendidik dengan pembelajaran online dan offline di ruang kelas, kemudian selanjutnya peserta didik mengikuti kursus secara online yang dilakukan di luar kelas, baik di rumah maupun di mana saja. Dalam kursus online yang dilakukan di luar kelas, peserta didik dapat saling berkomunikasi atau bertatap muka melalui grup/komunitas dengan fasilitas teleconference di kelas virtual yang telah dibentuk  sebelumnya di dunia maya (internet).
3.6.    Online Driver
Staker dan Horn (2012) yang dikutip oleh Erica Lynn Kolat mengatakan “whole-school experience in which within each course (e.g., math), students divide their time between attending a brick-and-mortar campus and learning remotely using online delivery of content and instruction.”[21]. Kemudian Kafer (2003) juga mengatakan “An enriched-virtual model allows students to complete online courses at home, supported by face-to-face teachers, as needed by students.” [22]
Dari paparan tersebut maka dapat dipaparkan bahwa pada model ini sebelumnya seorang guru atau pendidik memberikan pengarahan terlebih dahulu kepada peserta didik melalui tatap muka di dalam kelas, kemudian guru mengupluad materi pelajaran ke web atau internet yang selanjutnya murid atau peserta didik dapat mendownload materi tersebut dan mengikuti instruksi yang ada di dalamnya serta mempelajarinya secara mandiri di rumah masing-masing.
Setelah mempelajari materi yang diberikan oleh guru secara online, maka dilanjutkan dengan mendiskusikan atau mempelajari ulang materi tersebut ke ruang kelas bersama guru dengan tatap muka dan online.

Dalam blended learning ada sebuah model yang di sebut dengan flipped classroom atau membalik, model ini merupakan bagian dari model rotation. Menurut Staker dan Horn (2012) yang kutip oleh Erica Lynn Kolat, “In a flipped classroom, teachers provide resources (typically vendorcreated, or teacher-created videos) for students to access content that is typically delivered through direct instruction outside of class time.” [23]
Sedangkan menurut Jacob Lowell Bishop dan Matthew A Verleger, “We define the flipped classroom as an educational technique that consists of two parts: interactive group learning activities inside the classroom, and direct computer-based individual instruction outside the classroom.”[24]
 Perbedaan yang tampak dengan model tradisional adalah: pada model tradisional perkuliahan dilakukan di sekolah/kampus dan bookwork di lakukan di rumah, sebaliknya pada model perkuliahan dilakukan lebih aktif dilakukan rumah dan bookwork di lakukan di sekolah/kampus. Dalam flipped classroom ini pendidik/dosen menjelaskan materi perkuliahan melalui sebuah video yang dibuat sebelumnya dan peserta didik mengaksesnya dari jarak jauh. Dalam kata lain model ini dapat dikatakan sebagai perkuliahan jarak jauh secara online.
Menurut analisa penulis dari beberapa model blended learning dapat diimplikasikan ke dalam materi pembelajaran PAI adalah Flipped Classroom, Self-Blend dan Online Driver. Misalnya materi PAI Akhlak Tasawuf yang membahas tentang akhlak kepada Khalid dan akhlak kepada makhluk.



SILABUS KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI) AL WASHLIYAH BARABAI

1.      Mata Kuliah                :   Akhlak Tasawuf
2.      Jumlah SKS                :   2 SKS
3.      Jurusan/Prodi              :   Tarbiah dan Dakwah/PAI dan BPI
4.      Tujuan Mata Kuliah    :   Mahasiswa mampu memahami dan menerapkan akhlak Islami dengan  pemahaman dan penerapan yang luas serta mengenal dan memahami aliran-aliran dalam Tasawuf dan Tarekat sebagai proses menjadi sarjana muslim yang berakhlak mulia.
5.      Silabus

No.
Pertemuan ke
Kompetensi
Dasar
Materi Pokok
Indikator
1.
I
Mampu mendeskripsikan konsep dasar akhlak
Akhlak terhadap Khaliq dan Akhlak terhadap makhluk
Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan akhlak terhadap Khaliq dan akhlak terhadap makhluk

Berdasarkan silabus tersebut, maka mengimplikasikannya pada tiga model tersebut, sebagai berikut:
No.
Model
Caranya
1.
















2.















3.
Flipped Classroom
















Self-Blend















Online Driver
1.1.    Pendidik menyampaikan materi pokok tentang akhlak terhadap Khaliq dan akhlak terhadap makhluk secara tradisional/tatap muka (face-to-face).
1.2.    Peserta didik mengikuti perkuliahan secara online, di mana dalam perkuliahan tersebut peserta didik menerima penjelasan materi yang dibahas secara online dari internet, baik berupa artikel atau video (video berupa penjelasan tentang materi yang dibahas) melalui di website yang telah dibuat oleh pendidik.
1.3.    Setelah mendapatkan dan menerima penjelasan, peserta didik membawanya dalam kelas untuk dibahas bersama-sama sebagai pembuktian pemahaman mereka pada topik yang dibahas.

2.1.    Seorang pendidik membelakali dan menjelaskan akhlak terhadap Khaliq dan akhlak terhadap makhluk kepada peserta didik secara tatap muka (tradisional) dan secara online yang berlangsung di dalam kelas.
2.2.    Peserta didik ditugaskan mengikuti pembelajaran secara online atau kursus online di luar jam pelajaran kelas (di rumah atau di mana saja) pada sebuah web pembelajaran (elearrning) yang tata caranya sudah dijelaskan sebelumnya. Di sini peserta mengambil (mendownload) tugasnya masing-masing secara online baik berupa pertanyaan (test) atau makalah dan tugas itu dikumpulkan secara online (di upload) di web elearrning tersebut.

3.1.     Pendidik memaparkan dan menjelaskan secara umum tentang akhlak terhadap Khaliq dan akhlak terhadap makhluk kepada peserta didik.
3.2.     Peserta didik belajar dengan sendirinya secara online di sebuah web yang telah di buat oleh pendidik, di sini peserta didik berkolaborasi dalam belajar dan memahami penjelasan dari pendidik dari web tersebut.
3.3.     Pendidik memantau dan menilai perkembangan peserta didik dalam memahami materi yang dibahas.



4. SOSIAL MEDIA SEBAGAI PROSES PEMBELAJARAN PAI
Media pembelajaran memiliki dampak positif dan keuntungan, dimana proses pembelajaran terjadi tanpa adanya keterbatasan dalam hal waktu dan kondisi. Di samping itu prinsip pembelajaran dapat terpenuhi dan dapat memotivasi anak untuk aktif belajar.
Dan McCole (eds) dalam penelitiannya, “didapatkan data bahwa 52 orang dari 60 siswa atau sekitar (87%) memilih menggunakan jejaring sosial Facebook, dimana selama 1 semester siswa menulis 283 postingan yang menghasilkan 840 komentar. Hasil dari survei menunjukkan bahwa facebook membawa banyak dampak positif bagi siswa yaitu untuk pemahaman, Selain itu sebagian orang berpikir Facebook memiliki dampak positif pada hubungan siswa dengan siswa lain pendidik”.[25]Dan McCole (eds) menyatakan, “In a large study of over 36,000 college students from the U.S. and found that just over 90% of college students use online social networking sites, and of these, 97% use Facebook”.[26] Maksudnya adalah ditemukan lebih dari 36.000 mahasiswa dari Amerika Serikat dan Kanada bahwa lebih dari 90% siswa yang kuliah menggunakan situs online jejaring sosial, dan  97% menggunakan Facebook.
Kelebihan lain dari Facebook karena memiliki beberapa fitur yang bisa dimanfaatkan sebagai media pembelajaran di antaranya: 1) Fitur grup dan halaman, pengguna facebook dapat membuat dan bergabung pada sebuah grup/halaman yang mengarah ke grup/halaman yang telah dibuat oleh guru mata pelajaran, sehingga peserta didik dapat belajar tentang materi pelajaran dan guru pun kebanjiran pengunjung yang tidak lain adalah peserta dirinya sendiri. 2) Fitur chat, fitur ini dapat digunakan oleh peserta didik untuk saling berkomunikasi kepada  sesama pengguna facebook atau guru dan bisa menjadi media diskusi secara online. 3) Fitur Status Update, lewat fitur ini guru dapat mengupdate status berupa bahan ajar yang memungkinkan peserta didiknya dapat merespons dan memberi komentar terhadap update status gurunya. 4) Fitur Share, lewat fitur ini guru dapat men-share materi pelajar baik berupa link, video atau tulisan singkat yang kemudian diakses oleh peserta didik.




DAFTAR PUSTAKA

Armala. Meraih Sukses Itu Gampang. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, t.h.

Bell, Stephanie. “Project-Based Learning for the 21st Century: Skills For The Future”, The Clearing House, vol. 2, no. 83, (2010): h.42.

Bishop, Jacob Lowell. and Matthew A Verleger, “The Flipped Classroom: A Survey of the Research.” American Society for Engineering Education, 6219 (2013): h.5.

Boyer, Naomi. and Maxine Kelly, “Breaking The Institutional Mold: Blended Instruction, Self-Direction, And Multi-Level Adult Education.” International Journal of Self-Directed Learning, Vol. 2, No. 1 (2005): h. 12.

Butler, Jeffrey W. “Online Learning: Lessons Learned”, Techniques, vol. 85, no. 6 (2010): h. 34.

Derrick, M. Gail. Michael K. Ponton dan Paul B. Carr, “A Preliminary Analysis Of Learner Autonomy In Online And Face-To-Face Settings.” International Journal of Self-Directed Learning, Vol. 2, No. 1 (2005): h. 66.

Francis Green, “What is Skill? An Inter-Disciplinary Synthesis.” Disertasi, Centre for Learning and Life Chances in Knowledge Economies and Societies, Institure of Education University of London, London, 2011.

Huni, David. and Seng Chee Tan, “Ow The Internet Facilitates Learning As Dialog: Design Considerations for Online Discussions”, International Journal of Instructional Media, vol. 32, no. 1 (2005): h. 39.

Jusoh, Wan Noor Hazlina Wan and Kamaruzaman Jusoff. “Using Multimedia in Teaching Islamic Studies”, Journal Media and Communication Studies, vol. 1, no. 5 (2009): h. 086-088.

Kemplang, Huaibo Xin, Monica. and Faustina H. Blankson, “Adaptability and Replicability of Web-Facilitated, Hybrid, and Online Learning In An Undergraduate Exercise Psychology Course”, The Turkish Online Journal of Educational Technology, vol. 14, no. 1 (2015): h. 21.

Kolat, Erica Lynn. “Blended And Online Learning In K-12 Traditional School Districts Of Southwestern Pennsylvania.” Disertasi, Graduate Faculty of The School of Education, University Of Pittsburgh, 2014.

Lukman, Rebeka. and Majda Krajnc, “Exploring Non-traditional Learning Methods in Virtual and Real-world Environments”, Educational Technology & Society, vol. 15, no.1, (2012): h. 238.

M, Zulkifli. et al., eds., “On Ict-Based Learning Model Of Islamic Education At Senior High School 4 Kendari South-East Sulawesi Province,” Journal of Arts Science & Commerce, vol. iv, no. 4 (2013): h. 37-38.

McCole, Dan. et al., eds., “Integrating Facebook into the College Classroom: Student Perceptions and Recommendations for Faculty”, Nacta Journal (2014): h. 246-247.

Sahin, Mehmet. “Blended Learning Model In Mechanical Manufacturing Training,” African Journal of Business Management, vol. 4, no. 12 (18 September 2010): h. 2521.

Thorne, Kaye. and David Mackey. Everything You Ever Needed to Know About Training. London: Kogan Page Publishers, 2007.

Tucker, Catlin R. Blended Learning in Grades 4–12. London: Corwin Press, 2012.


Wajeha Thabit Al-Ani, “Blended Learning Approach Using Moodle and Student’s Achievement at Sultan Qaboos University in Oman,” Journal of Education and Learning, vol. 2, no. 3 (2013): h. 96.



[1] Armala, Meraih Sukses Itu Gampang, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, t.h.), h.13.
[2] Francis Green, “What is Skill? An Inter-Disciplinary Synthesis” (Disertasi, Centre for Learning and Life Chances in Knowledge Economies and Societies, Institure of Education University of London, London, 2011), h. 4.
[3] Wan Noor Hazlina Wan Jusoh and Kamaruzaman Jusoff, “Using Multimedia in Teaching Islamic Studies”, Journal Media and Communication Studies, vol. 1,  no. 5 (2009): h. 086-087.
[4]  Ibid, h. 088.
[5] Stephanie Bell, “Project-Based Learning for the 21st Century: Skills For The Future”, The Clearing House, vol. 2, no. 83, (2010):  h.42.
[6] Zulkifli. M, et al., eds., “On Ict-Based Learning Model Of Islamic Education At Senior High School 4 Kendari South-East Sulawesi Province,” Journal of Arts Science & Commerce, vol. iv, no. 4 (2013): h. 37-38.
[7] Rebeka Lukman and Majda Krajnc, “Exploring Non-traditional Learning Methods in Virtual and Real-world Environments”, Educational Technology & Society, vol. 15, no.1, (2012): h. 238.
[8] Huaibo Xin, Monica Kemplang and Faustina H. Blankson, “Adaptability and Replicability of Web-Facilitated, Hybrid, and Online Learning In An Undergraduate Exercise Psychology Course”,  The Turkish Online Journal of Educational Technology, vol. 14, no. 1 (2015): h. 21.
[9] Wajeha Thabit Al-Ani, “Blended Learning Approach Using Moodle and Student’s Achievement at Sultan Qaboos University in Oman,” Journal of Education and Learning, vol. 2, no. 3 (2013): h. 96.
[10] Kaye Thorne and David Mackey, Everything You Ever Needed to Know About Training, (London: Kogan Page Publishers, 2007), h.113.
[11] David Huni and Seng Chee Tan, “Ow The Internet Facilitates Learning As Dialog: Design Considerations for Online Discussions”, International Journal of Instructional Media, vol. 32, no. 1 (2005): h. 39.
[12] Jeffrey W. Butler, “Online Learning: Lessons Learned”, Techniques, vol. 85, no. 6 (2010): h. 34.
[13] Mehmet Sahin, “Blended Learning Model In Mechanical Manufacturing Training,” African Journal of Business Management, vol. 4, no. 12 (18 September 2010): h. 2521.
[14] Catlin R.Tucker, Blended Learning in Grades 4–12,(London: Corwin Press, 2012), h.13-14.
[15] Ibid.
[16] Erica Lynn Kolat, “Blended And Online Learning In K-12 Traditional School Districts Of Southwestern Pennsylvania” (Disertasi, Graduate Faculty of The School of Education, University Of Pittsburgh, 2014), h. 41.
[17] Ibid.
[18] M. Gail Derrick, Michael K. Ponton dan Paul B. Carr, “A Preliminary Analysis Of Learner Autonomy In Online And Face-To-Face Settings.” International Journal of Self-Directed Learning, Vol. 2, No. 1 (2005): h. 66.
[19] Catlin R.Tucker, Blended Learning in Grades, . . . , h.13-14.
[20] Naomi Boyer and Maxine Kelly, “Breaking The Institutional Mold: Blended Instruction,
Self-Direction, And Multi-Level Adult Education.” International Journal of Self-Directed Learning, Vol. 2, No. 1 (2005): h. 12.
[21] Erica Lynn Kolat, “Blended And Online Learning In K-12 Traditional School Districts Of Southwestern Pennsylvania” . . . , h. 44.
[22] Ibid, h. 45.
[23] Erica Lynn Kolat, “Blended And Online Learning In K-12 Traditional School Districts Of Southwestern Pennsylvania” . . . , h. 42.
[24] Jacob Lowell Bishop and Matthew A Verleger, “The Flipped Classroom: A Survey of the Research.” American Society for Engineering Education, 6219 (2013): h.5.
[25] Dan McCole, et al., eds., “Integrating Facebook into the College Classroom: Student Perceptions and Recommendations for Faculty”, Nacta Journal (2014): h. 246-247.

[26] Ibid, h. 244.

Kamis, 12 Oktober 2017

TERAPI TASAWUF


BAB I
PENDAHULUAN

Dalam kehidupan, orang banyak mengaitkan tasawuf dengan unsur kejiwaan dalam diri manusia. Hal ini cukup beralasan, mengingat dalam substansi pembahasannya, tasawuf selalu membicarakan persoalan-persoalan yang berkisar pada jiwa manusia. Hanya saja, dalam jiwa yang dimaksud adalah jiwa manusia muslim, yang tentunya tidak lepas dari sentuhan-sentuhan Keislaman. Dari sinilah, tasawuf kelihatan identik dengan unsur kejiwaan manusia muslim.
Kehidupan manusia seyoganya dapat membawa kemakmuran dan kebahagiaan hidup bersama menuju tatanan kehidupan yang bermoral dan berakhlak. Tapi pada kenyataannya bahwa  masih banyak yang mengalami kesukaran, mental menurun, jiwa gelisah, ketegangan, dan tekanan perasaan sering terjadi di tengah kehidupan yang beraneka ragam. pandangan psikologi hal semacam ini disebut dengan gangguan jiwa, jika ini terjadi pada tatanan yang luas di memasyarakat maka disebut dengan istilah penyakit masyarakat.
Menanggapi masalah tersebut, dalam kajian tasawuf disebabkan kurangnya pengaruh ajaran agama hingga menimbulkan penyakit hati seperti angkuh, iri, dengki dan sombong yang  melanda hati manusia.
Manusia modern masa kini, meskipun sarat dengan atribut keagamaan tetapi pada hakikatnya mereka mengalami kekeringan batin kerena mengejar hal-hal menjauhkannya dari Tuhan, yang menimbulkan sikap egois, keduniaan dan kebebasan melakukan apa saja. Sikap-sikap tersebut membuat dirinya dipenuhi dengan sifat-sifat tercela. Pada kondisi seperti ini pengobatan medis pun sering tidak dapat membantu sama  sekali. Inilah yang menjadi akar masalah kesehatan dalam jiwa manusia. Penyebabnya tidak lain manusia lupa dengan aspek dan hakikatnya di dunia ini adalah untuk beribadah kepada Sang Khalik. Menyikapi masalah ini menurut hemat penulis, ajaran tasawuf mampu memberikan solusi sebagai alternatif untuk menggapai jiwa yang sehat.



BAB II
TERAPI TASAWUF
Oleh: H.Nuthpaturahman
Dosen STAI Al-Washliyah Barabai

A.    Definisi Terapi (Psikoterapi)
Istilah Psikoterapi (psychotherapy) mempunyai pengertian cukup banyak dan kabur, terutama karena istilah tersebut digunakan dalam berbagai bidang operasional ilmu empiris seperti psikiatri, psikologi, bimbingan dan penyuluhan, kerja sosial, pendidikan dan ilmu agama. Secara harfiah Psikoterapi berasal dari kata psycho yang artinya jiwa, dan therapy yang artinya penyembuhan, pengobatan, dan perawatan. Oleh karena itu psikoterapi disebut juga dengan istilah terapi kejiwaan, terapi mental atau terapi pikiran. Jadi, psikoterapi sama dengan penyembuhan jiwa.[1]
Secara terminologi psikoterapi (psychotherapy) adalah pengobatan alam pikiran, atau lebih tepatnya, pengobatan dan perawatan gangguan psikis melalui metode psikologis. Pengertian psikoterapi mencakup berbagai teknik yang bertujuan untuk membantu individu dalam mengatasi gangguan emosional dengan cara memodifikasi perilaku, pikiran, dan emosinya seperti halnya proses pendidikan kembali, sehingga individu tersebut mampu mengembangkan dirinya dalam mengatasi masalah psikisnya.[2]
Pengertian psikoterapi selain digunakan untuk penyembuhan penyakit mental, juga dapat digunakan untuk membantu, mempertahankan dan mengembangkan integritas jiwa, agar ia tetap tumbuh secara sehat dan memiliki kemampuan penyesuaian diri lebih efektif terhadap lingkungannya. Dengan demikian, tugas utama psikoterapi di sini adalah memberi pemahaman dan wawasan yang utuh mengenai diri pasien serta memodifikasi atau bahkan mengubah tingkah laku yang dianggap menyimpang.
Psikoterapi berbeda dengan pengobatan tradisional yang sering memandang gangguan psikologis sebagai gangguan karena sihir, kesurupan jin atau karena roh jahat. Anggapan-anggapan yang kurang tepat tersebut karena sebagian masyarakat terlalu mempercayai takhayul dan kurang wawasan ilmiahnya. Dalam psikoterapi, gangguan psikologis diidentifikasi secara ilmiah dengan standar tertentu kemudian dilakukan proses psikoterapi menggunakan cara-cara modern yang terbukti berhasil mengatasi hambatan psikologis. Dalam psikoterapi tidak ada hal-hal yang bersifat mistik, klien psikoterapi juga tidak diberi obat karena yang sakit adalah jiwanya, bukan fisiknya.

B.     Definisi Tasawuf
Berasal dari kata suffah (صفة) yang artinya segolongan sahabat-sahabat Nabi yang menyisihkan dirinya di serambi masjid Nabawi, karena di serambi itu para sahabat selalu duduk bersama-sama Rasulullah untuk mendengarkan fatwa-fatwa beliau untuk disampaikan kepada orang lain. Berasal dari kata sūfatun (صوفة) yang artinya bulu binatang, maksudnya orang yang memasuki tasawuf itu memakai baju dari bulu binatang dan tidak senang memakai pakaian yang indah-indah sebagaimana yang dipakai oleh kebanyakan orang. Berasal dari kata sūuf al sufa’ (صوفة الصفا) yang artinya bulu yang terlembut, dengan dimaksud bahwa orang bertasawuf  itu bersifat lembut dan berasal dari kata safa’ (صفا) yang artinya suci bersih, karena orang-orang yang mengamalkan tasawuf itu, selalu suci bersih lahir dan batin dan selalu meninggalkan perbuatan-perbuatan yang kotor yang dapat menyebabkan kemurkaan Allah.[3]

Tasawuf menurut para ahli sufi, di antaranya:

  1. Syekh Muhammad Al-Kurdi.

Tasawuf adalah suatu ilmu yang dengannya dapat diketahui kebaikan dan keburukan jiwa, cara membersihkannya dari sifat-sifat yang buruk dan mengisinya dengan sifat-sifat terpuji menuju keridaan Allah dan meninggalkan larangannya menuju larangannya.

  1. Imam Gazali
Tasawuf adalah ilmu yang membahas cara-cara seseorang mendekatkan diri kepada Allah Swt. Tasawuf adalah budi pekerti barang siapa yang memberikan budi pekerti atasmu, berarti ia memberikan bekal atas dirimu dalam bertasawuf, maka hamba yang jiwanya menerima (perintah) untuk beramal karena sesungguhnya mereka melakukan akhlak terpuji, karena mereka telah menempuh jalan nur dengan petunjuk imannya.

  1. Harun Nasution
Tasawuf yang menggambarkan hidup kepasrahan dalam menjalani hidup yang serba kekurangan.

  1. Syekh Abul Hasan asy-Syadzili
Tasawuf sebagai praktek dan latihan diri melalui cinta yang dalam dan ibadah untuk mengembalikan diri kepada jalan Tuhan.

  1. Syeikh Ahmad Zorruq
Ilmu yang dengannya manusia dapat memperbaiki hati dan menjadikannya semata-mata bagi Allah, dengan menggunakan pengetahuan Islam, khususnya fiqih dan pengetahuan yang berkaitan, untuk memperbaiki amal dan menjaganya dalam batas-batas syariat Islam agar kebijaksanaan menjadi nyata.

  1. Al-Syibli
Tasawuf ialah mengabdikan diri kepada Allah Swt tanpa keluh kesah.

  1. Ibnu Kaldum
Tasawuf adalah sebagian ilmu dari ajaran Islam yang bertujuan agar seseorang tekun beribadah dan memutuskan hubungan selain Allah hanya menghadap Allah semata, menolak hiasan-hiasan duniawi, serta membenci sesuatu yang memperaya manusia dan menyendiri menuju jalan Allah dalam beribadah.[4]

Dari pengertian tersebut di atas dapat dipahami, bahwa merupakan ilmu yang membahas cara-cara mendekatkan diri kepada Allah,  seperti berakhlak mulia, tekun dalam beribadah tanpa keluh kesah, memutuskan hubungan selain Allah karena kita merasa tidak memiliki suatu apapun di dunia ini dan kita tidak dimiliki oleh siapa pun di kalangan makhluk, menolak hiasan-hiasan duniawi seperti kelezatan dari harta benda yang biasa memperdaya manusia, dan menyendiri menuju jalan Allah dalam untuk beribadah. Tasawuf juga merupakan kesungguhan untuk membersihkan dan memperdalam kerohanian dalam rangka mendekatkan kepada Allah, sehingga dengan itu maka segala konsentrasi seseorang hanya tertuju kepada-Nya.

C.    Aspek dan Efek Terapi Tasawuf
Tasawuf sebagai terapi menawarkan cara Islami dalam pengobatan kejiwaan yang dialami manusia, yaitu dengan cara melalui kepasrahan. Terapi tasawuf bukanlah bermaksud mengubah posisi maupun menggantikan tempat yang selama ini di dominasi oleh medis, justru cara terapi ini memiliki karakter dan fungsi melengkapi. Karena terapi tasawuf merupakan terapi pengobatan yang bersifat alternatif.
Mengenai aspek dan efek dari tasawuf sebagai terapi kejiwaan dalam Islam dapat diuraikan sebagai berikut:
1.      Aspek Taubat
Taubat berarti al-ruju’ min ’l-żanbi, al-ruju’ ‘an ’l-żanbi, kembali dari berbuat dosa menuju kebaikan atau meninggalkan dosa. Dosa dimaknai sebagai ḥijāb (tirai/dinding/penghalang) dari Kekasih (Tuhan). Oleh karena itu menjauhkan diri dari hal-hal yang tidak disukai oleh Allah adalah perkara wajib. Hal ini dapat dilakukan dengan jalan al-‘ilm  (pengetahuan), an-nadm (penyesalan) dan al-‘azm (kemauan atau niat).[5]
Hijāb (tirai/dinding/penghalang) terjadi akibat dari dosa manusia, sebagaimana yang dijelaskan oleh Rasulullah saw:
Apabila seorang mukmin melakukan itu, maka dalam hatinya terdapat satu noktah (titik hitam kotor). Kemudian bila dia bertaubat, melepaskan diri dan memohon ampun, maka hatinya akan mengkilap. Apabila dia menambah dosanya, maka bertambahlah noktah tadi. Itulah hijab.[6]

Dosa secara psikologis merupakan beban bagi seseorang yang melakukannya. Akibat dosa yang dilakukannya itu, tidak jarang mengakibatkan manusia menjadi stres/depresi, yang pada gilirannya mendatangkan penyakit. Hal ini dapat dimaknai dari pemahaman tentang noktah/titik hitam,  yang secara fisik dapat dimaknai sebagai bakteri atau bibit penyakit. Dengan demikian, dosa adalah bibit penyakit secara fisik maupun secara psikis. Cara ampuh untuk menghilangkan bibit penyakit itu, tidak lain dengan taubat.

2.      Aspek Wara’
Wara’ adalah mensucikan hati dan berbagai anggota badan.[7] Juga diartikan sebagai menjaga diri dari segala aktivitas yang tidak dapat mengganggu stabilitas jiwa. Hal ini berupa perilaku seperti makanan yang haram, yang meragukan (subhat), serta yang merugikan.[8]
Sebuah cerita, ketika seorang laki-laki datang kepada seorang dokter dan menceritakan bahwa istrinya tidak bisa melahirkan anak. Dokter memeriksa wanita itu dan mendengar denyut jantungnya, lalu berkata: “Saya tidak bisa mengobatinya, sebab saya menemukan bahwa setidak-tidaknya engkau akan meninggal dunia dalam waktu empat puluh hari.” Mendengar keterangan ini, wanita itu pun demikian sedihnya, sehingga ia tidak dapat makan sesuatu pun selama empat puluh hari. Tetapi ia tidak juga meninggal dalam jangka waktu diramalkan. Sang suami membawa persoalan itu kepada dokter, dan dokter kemudian berkata, “Ya, saya tahu itu. Sekarang ia akan menjadi subur”. Sang suami menanyakan kembali bagaimana hal itu terjadi. Dokter menjawab, “Istrimu terlalu gemuk, dan ini mengganggu kesuburannya. Saya tahu bahwa satu-satunya jalan yang akan menjauhkannya dari makanan adalah ketakutan akan kematian. Karena itu, ia sekarang sembuh.”[9]
Dapat dipahami bahwa makan adalah baik, tapi jika melebihi kebutuhan, maka makanan justru akan menjadi penyakit. Sebaliknya orang yang wara’, akan benar-benar memilih makanan yang bersih dan hanya cukup bagi mencukupi kebutuhan hidupnya, meskipun makanan itu melimpah, menjaga syahwat makan agar tidak menjadi sumber penyakit, baik hati maupun fisik. Dalam sudut pandang lain, perilaku wara’ ini akan cenderung kepada zuhud.

3.      Aspek Zuhud
Zuhud dapat diartikan sebagai sikap mental untuk menjauhkan
diri dari kehidupan di dunia demi akhirat, dengan kata lain menyeimbangkan antara aspek-aspek lahiriah dan batiniah, jasmaniah dan rohaniah. Atau dalam pengertian lain diartikan sebagai Proses kontrol emosional negatif menuju positif, seperti hawa nafsu, amarah, dan syahwat, dan sebagainya.  Sebagaimana Q.S. al-Baraqah/2: 201


وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (٢٠١)

Artinya: dan di antara mereka ada orang yang berdoa: Ya Tuhan Kami, berilah Kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah Kami dari siksa neraka.

Berdasarkan pengertian di atas, maka jelaslah bahwa zuhud dapat dijadikan sebagai sarana untuk penyembuhan bagi penyakit jiwa. Penyakit jiwa yang dimaksud tentu saja penyakit jiwa yang disebabkan oleh materi, sehingga melupakan segalanya, bahkan melupakan dirinya sendiri. Mengutamakan tenaga tanpa menghiraukan kesehatan, seperti memakan makanan yang haram, berlebih-lebihan terhadap yang halal. Pada akhirnya, materi merasa tidak tercukupi, Allah pun ditinggalkan, yang akhirnya justru penyakit lahir yang datang (seperti diabetes, strok, lumpuh dan lain-lain), yang juga bisa jadi disebabkan oleh adanya penyakit seperti stres/depresi. Dalam hal ini zuhud akan dapat menjadi obat yang mujarab dalam mengatasinya.

4.      Aspek Sabar
Sifat sabar dalam Islam menempati posisi yang istimewa sebagai
inti perbuatan hati, sebagaimana Q.S. an-Nahl/16: 41-42


وَالَّذِينَ هَاجَرُوا فِي اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مَا ظُلِمُوا لَنُبَوِّئَنَّهُمْ فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَلأجْرُ الآخِرَةِ أَكْبَرُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ (٤١)الَّذِينَ صَبَرُوا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ (٤٢)

Artinya: 41. dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dianiaya, pasti Kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di dunia. dan Sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar, kalau mereka mengetahui. 42. (yaitu) orang-orang yang sabar dan hanya kepada Tuhan saja mereka sabar (bertawakal.

Dengan demikian, maka sabar akan dapat dijadikan sebagai sarana penyembuhan yang ampuh. Ketika mendapat ujian berupa sakit, maka seseorang dapat menggunakan kesabarannya dalam menahan serangan rasa sakit dengan mengembalikannya kepada Allah. Sabar atas segala keputusan-Nya, sehingga rasa sakit justru menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah dan memahami betapa besar kekuasaannya. Pada gilirannya, sakit fisik tidak akan menambah sakit psikis (kejiwaan) dan sebaliknya, jika semuanya dikembalikan kepada Allah Yang Maha Penyembuh.

5.      Aspek Ridha
Ridha secara etimologis berarti rela, tidak marah. Menurut al Hujwiri, ridha terbagi menjadi dua, yaitu ridha Allah terhadap
hambanya, dan ridha hamba terhadap Allah. Ridha Allah terhadap hamba-Nya, adalah dengan cara memberikan pahala, nikmat, dan karamah-Nya,
Sedangkan ridha hamba kepada Allah adalah melaksanakan segala perintah-Nya dan tunduk atas segala hukum-hukum-Nya.[10]
Kaitannya dengan masalah terapi dalam kesehatan kesembuhan, terlihat jelas bahwa riḍha menjadi salah satu sarana jiwa atas segala keputusan atau ketentuan Allah. Seringkali penyakit menjadi bertambah parah, akibat hilangnya kerelaan hati menerima keadaan, sehingga hati menjadi kotor dan pikiran kusut, yang pada gilirannya penyakit datang dan bertambah. Jika demikian, maka ridha Allah tidak akan turun kepada hamba untuk memberikan pahala dan nikmat-Nya, sehingga penyakit menjadi sulit untuk disembuhkan.
Oleh karena itu, ridha hamba terhadap ketentuan Allah pada dirinya, akan menentukan ridha Allah pula terhadap hamba-Nya. Dengan kata lain, kerelaan hati menerima penyakit yang ditentukan Allah pada diri seseorang, akan menentukan kesembuhan yang diberikan Allah kepada hamba yang diridhai-Nya. Sebagaimana sabda Rasulullah saw: “akan merasakan kelezatan/kemanisan iman orang-orang yang ridha terhadap Allah sebagai Rabb-nya dan Islam sebagai agamanya serta (nabi) Muhammad sebagai rasulnya (HR. Muslim).[11]

6.      Aspek Tawakal
Dari segi bahasa, tawakal berasal dari kata ‘tawakala’ yang memiliki arti menyerahkan, mempercayakan dan mewakilkan. Seseorang yang bertawakal adalah seseorang yang menyerahkan, mempercayakan dan mewakilkan segala urusannya hanya kepada Allah Swt. Lawan dari sifat tawakal adalah sifat-sifat tercela, yaitu takabur, bangga diri, sandaran kosong pada diri dan kekuatan-kekuatan materi semata dengan mengesampingkan tawakal kepada allah.[12]
Menurut al-Qusyairi, tawakal bertempat hati, sedangkan gerakan lahiriah tidak menanggalkan tawakal dalam hati manakala si hamba telah yakin bahwa takdir datang dari Allah, sehingga ketika ia mendapatkan kemudahan dalam sesuatu, maka ia melihat kemudahan dari Allah di dalamnya.[13] Sedangkan al-Ghazali mengatakan tawakal ialah menyerahkan urusan kepada seseorang yang kemudian disebut wakil, dan memercayakan kepadanya dalam urusan tersebut.[14] Dalam Q.S. al-Anfal/8: 61

وَإِنْ جَنَحُوا لِلسَّلْمِ فَاجْنَحْ لَهَا وَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ (٦١)  

Artinya: dan jika mereka condong kepada perdamaian, Maka condonglah kepadanya dan bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui.

Obat apa pun yang diinjeksikan ke dalam tubuh, tidak akan bermanfaat manakala dalam hati seseorang tidak ada rasa tawakal dan ridha. Ada pepatah mengatakan, “Jangan pergi ke dokter, kalau engkau membawa obat”. Artinya, ketika seseorang diberi obat, dia belum bisa berserah diri pada satu obat, melainkan masih berpikiran obat lain, yang menurutnya memungkinkan untuk menyembuhkan. Ia belum ridha jika diobati dengan satu jenis obat. Hal ini tentu saja, kecil kemungkinan untuk sembuh dari penyakit, sebab goyahnya keyakinan dalam diri akan sembuhnya suatu penyakit. Oleh karena itu, tawakal dan ridha, dapat dijadikan salah satu terapi untuk mempercepat proses penyembuhan, di samping tentu saja untuk pencegahan penyakit
Tawakal juga memberikan pemahaman bahwa tawakal itu terkait erat dengan ikhtiar atau dapat disimpulkan bahwa tidak ada tawakal tanpa ikhtiar. Orang-orang yang memiliki sifat tawakal ini akan selalu bisa bersyukur jika mendapat keberhasilan atau kebahagiaan dalam hidupnya ataupun dalam usahanya. Ini dikarenakan dia sadar bahwa segala keberhasilannya adalah atas kehendak dan rahmat dari Allah Swt.
Jika sedang mengalami kegagalan maka orang yang tawakal akan selalu ikhlas dalam menerima kegagalannya tersebut tanpa berlarut-larut dalam kesedihan dan merasa putus asa. karena orang yang tawakal menyadari bahwa setiap keputusan dari allah merupakan keputusan yang terbaik. Sikap tawakal ini harus ada dan ditanamkan pada setiap diri umat muslim. karena sifat tawakal ini memiliki banyak sekali keuntungan bagi diri kita agar terhindar dari sikap cepat putus asa dan sebagainya.

7.      Aspek Muqarabah
Muqarabah dinyatakan dalam Q.S. al-Baqarah/2: 186

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ (١٨٦)  

Artinya: dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka (jawablah), bahwasanya aku adalah dekat. aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.

Ayat tersebut di atas menjelaskan tentang cara membangun keakraban bersama Allah Swt, yaitu berdoa, menjalankan perintah-Nya dan beriman kepada-Nya. Menurut Amin al-Najar, muqarabah bersandar kepada-Nya semata, merasa tenteram bersama-Nya, dan meminta pertolongan-Nya. Ketika seorang hamba telah berlaku seperti itu, maka Allah akan menganugerahkan keakraban kepada-Nya. [15]
Kunci penyembuhan dengan metode ini adalah doa, di mana Allah akan mengabulkan doa orang yang dekat dengan-Nya, karena sesungguhnya Dia dekat. Sebagaimana diketahui bahwa kekuatan doa begitu penting dalam terapi apa pun sebagai sugesti diri dan upaya meraih anugerah  Allah  Swt.

8.      Aspek Muraqabah
Muraqabah ialah konsentrasi penuh dan waspada terhadap segenap kekuatan jiwa, pikiran, imajinasi, dan tindakan; suatu pengawasan diri yang cermat atas keadaan lahir dan batin sehingga menghasilkan terpeliharanya suasana hati yang jernih dan sehat. Kejernihan dan kesehatan hati terukur dan kemampuan hati untuk menjalankan fungsinya.[16]
Fungsi hati adalah hikmah dan pengenalan Tuhan (ma’rifah). Tanpa hikmah dan ma’rifah, dapat muncullah berbagal penyakit hati, seperti sombong, dengki, curang, dan berbagai bentuk perasaan, pikiran, dan perilaku negatif lainnya. Muraqabah adalah terapi yang bersifat pribadi (preventive) supaya hati bisa tetap menjalankan fungsinya. Orang yang senantiasa dalam kondisi muraqabah berarti merasa selalu terawasi dan terlihat oleh Tuhan. Pikiran dan perasaannya senantiasa terkontrol dan bekerja dalam batas-batas ketentuan hukum, sehingga melahirkan perilaku (moral) yang luhur. Berkaitan  dengan  hati  Allah  berfirman  Q.S.  Qaaf/50: 16

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الإنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ (١٦

Artinya: dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.

Dengan demikian, muraqabah pangkal ketaatan dan bisa memelihara diri dari dosa, merasa malu kepada-Nya, berhati-hati dalam berbicara, bersikap dan melakukan perbuatan, tidak pernah merasa ditinggalkan Allah, ikhlas dalam menjalankan ketaatan dan bertaubat ketika karena menjalankan kemaksiatan, bersyukur terhadap nikmat, sabar ketika datang musibah, istiqamah dalam kebaikan dan sebagainya yang bernilai positif.
Kesadaran dalam bermuraqabah, akan melahirkan prinsip, 1) Tuhan selalu hadir dalam hati, 2) malaikat yang mencatat amal perbuatan manusia, 3) Alquran sebagai pedoman hidup, 4) Rasul sebagai teladan, 5) teratur dalam segala hal, sebagai perwujudan dari iman kepada takdir Allah Swt, baik yang bernilai positif maupun yang bernilai negatif. Orang seperti ini akan terpancar akhlak karimah, dan terhindar dari perbuatan dosa. Dan pada gilirannya akan sehat jasmani dan rohani.[17]

9.      Aspek Zikir
Zikir dalam arti sempit memiliki makna menyebut asma-asma Allah dalam berbagai kesempatan. Sedangkan dalam arti luas mengingat segala keagungan dan kasih sayang Allah Swt yang telah diberikan, serta dengan menaati perintahnya dan menjauhi larangannya. Zikir dapat mengembalikan kesadaran seseorang yang hilang, sebab aktivitas zikir mendorong seseorang untuk mengingat, menyebut kembali hal-hal yang tersembunyi dalam hatinya. Zikir juga mampu mengingatkan seseorang bahwa yang membuat dan menyembuhkan penyakit hanyalah Allah Swt semata, sehingga zikir mampu memberi sugesti penyembuhannya.
Melakukan zikir sama halnya nilainya dengan terapi rileksasi, yaitu satu bentuk terapi dengan menekankan upaya mengantarkan pasien bagaimana cara ia harus beristirahat dan bersantai-santai melalui pengurangan ketegangan atau tekanan psikologis. Kunci utama keadaan jiwa mereka itu adalah karena melakukan zikir. Seperti firman Allah dalam Q.S.  al-Ra’d /13: 28

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ (٢٨)  

Artinya: (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.

Terapi dengan doa dan munajat. Doa adalah permohonan kepada Allah Swt agar segala gangguan dan penyakit jiwa yang dideritanya hilang. Allah yang memberikan penyakit dan Dia pula yang memberikan kesembuhan. Doa dan munajah banyak didapat dalam setiap ibadah, baik dalam shalat, puasa, haji, maupun dalam aktivitas sehari-hari. Agar doa dapat diterima maka diperlukan syarat-syarat khusus, di antaranya dengan membaca istigfar terlebih dahulu. Istigfar tidak hanya berarti memohon ampunan kepada Allah, tetapi memiliki makna taubat. Dalam melakukan terapi ini, masing-masing individu memiliki tingkat kualitas yang berbeda seiring pengetahuan, pengalaman, dan pengamalan yang dimiliki. Tentunya hal itu mempengaruhi tingkat kemujaraban terapi yang diberikan. Perbedaan itu dapat dipahami sebab dalam Islam mempercayai adanya anugerah dan kekuatan agung di luar kekuatan manusia, yaitu Allah swt.




BAB III
SIMPULAN

Eksistensi manusia yang terdiri dari jasmani dan rohani, mental dan spiritual yang satu sama lain harus memiliki keseimbangan dalam interaksi dengan lingkungan di mana ia berada. Kemampuan menyesuaikan diri dan mengontrol emosi dalam menyikapi berbagai problema kehidupan menjadikan manusia rentan pada gangguan jiwa seperti stres, cemas dan gelisah.
Kemajuan sains dan teknologi pada masyarakat modern dan munculnya
pemahaman yang membuat manusia semakin jauh dari  keagamaan dan lingkungan sosial sehingga mengangap dirinya adalah pencipta karya nyata. Berlandaskan pada akal (menuhankan rasio) sebagai penyelamat bagi dirinya menjadikan dirinya termasuk dalam kategori orang yang mengalami gangguan kesehatan jiwa. Hadirnya konsep tasawuf dalam terapi memberikan solusi bagi jiwa manusia. Melalui maqam taubat meluruskan jalan yang salah, maqam zuhud mengubah gaya hidup, dan maqam ridha konsep diri untuk lebih mengenal hakikat dari seorang hamba yang harus rela dan cinta pada ketentuan dari yang Maha Kuasa. Tasawuf dapat memberikan peranannya dalam menciptakan kesehatan jiwa manusia yang efektivitasnya nampak pada kelebihan utama spiritualitas yang menenangkan, dan mengajak manusia untuk kembali pada fitrahnya, sebagai manusia yang terdiri dari unsur jasmani dan rohani. Oleh karena itu dapat diharapkan pada masa yang akan datang, tasawuf menjadi rujukan utama, baik dalam arti secara utuh tasawuf, atau dalam bentuk pendamping dunia medis.



DAFTAR PUSTAKA

Ahyani, Abdul Aziz. Psikologi Agama. Bandung: Sinar Baru Algensindo, 1995.
Al-Barini, Abd al-Aziz. Terapi Mensucikan Hati. Diterjemahkan oleh Ida Nursida dan Tiar AnwarBacthiar. Cet. 1. Bandung: PT. Mizan Pustaka, 2008.
Al-Jauziyah, Madarijus Salikin Ibn Qayyim. Jalan Menuju Allah, diterjemahkan oleh Kathur Suhardi. Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 1998.
Al-Najar, Amir. Psikoterapi Sufistik dalam Kehidupan Modern. Bandung: Hikmah, 2004.
Athaillah, Ibnu Athaillah al-Iskandariah Syekh ahamd ibn. Diterjemahkan oleh Abu Jihaduddin, Mempertajam Mata Hati, diterjemahkan oleh  Rifqi al-Hanif. T.k: Bintang Pelajar, 1990.
Hasyim, Muhammad. Dialog Antara Tasawuf dan Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002.
Hendrawan, Sanerya. Spiritual Manajement. Cet. 1. Bandung: PT.Mizan Pustaka, 2009.
Kartanegara, Mulyadhi. Menyelami Lubuk Tasawuf. Ciracas, Jakarta: Erlangga, 2006.
Mazhahiri,  Husain. Menelusuri Makna Jihad. Jakarta:Lentera, 2000.
Mujib, Abdul. Nuansa-nuansa Psikologi Islam. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2002.
Solihin, M. dan Rosihon Anwar. Kamus Tasawuf. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002.
Studi Pendidikan Agama Islam, Pembahasan Tasawuf, dalam http://www.masuk-islam.com/pembahasan-tasawwuf-lengkap-pengertian-tasawuf-dasar-dasar-tasawauf-tujuan tasawuf- perkembangan-tasawauf-dll.html, (diakses tanggal 23 Februari 2017, pukul 15.00).
Syukur, M. Amin. Sufi Healing. Nomor 8, volume 20. Jakarta: IAIN Wali Songo, 2012.
Taslim, Abdullah. “Anugerah Penglihatan”, Majalah Kesehatan Muslim, edisi 12 tahun 1 (2014).



[1] Abdul Aziz Ahyani, Psikologi Agama, (Bandung: Sinar Baru Algensindo, 1995), h. 156.
[2] Abdul Mujib, Nuansa-nuansa Psikologi Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2002), h. 207.
[3] Ibnu Athaillah al-Iskandariah Syekh ahamd ibn Athaillah, diterjemahkan oleh Abu Jihaduddin, Mempertajam Mata Hati, diterjemahkan oleh  Rifqi al-Hanif, (t.k: Bintang Pelajar, 1990), h. 5.
[4] Studi Pendidikan Agama Islam, Pembahasan Tasawuf, dalam http://www.masuk-islam.com/pembahasan-tasawwuf-lengkap-pengertian-tasawuf-dasar-dasar-tasawauf-tujuan tasawuf- perkembangan-tasawauf-dll.html, (diakses tanggal 23 Februari 2017, pukul 15.00).
[5] M.Solihin dan Rosihon Anwar, Kamus Tasawuf, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002), h. 126. 
[6] Madarijus Salikin Ibn Qayyim al-Jauziyah, Jalan Menuju Allah, diterjemahkan oleh Kathur Suhardi, (Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 1998), h. 233.
[7] Amir al-Najar, Psikoterapi Sufistik dalam Kehidupan Modern, (Bandung: Hikmah, 2004), h. 65. 
[8] Muhammad Hasyim, Dialog Antara Tasawuf dan Psikologi, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002), h. 31. 
[9] M. Amin Syukur, Sufi Healing, Nomor 8, Volume 20 (Jakarta: IAIN Wali Songo, 2012), h. 399.
[10] Al-Hujwiri, Kashf al-Mahjūb, (t.k.: t.p., 1974), h. 404-405.
[11] Abdullah Taslim, “Anugerah Penglihatan”, Majalah Kesehatan Muslim, edisi 12 tahun 1 (2014), h. 7. 
[12] Husain Mazhahiri,  Menelusuri Makna Jihad, (Jakarta:Lentera, 2000), h. 81.
[13] Mulyadhi Kartanegara, Menyelami Lubuk Tasawuf, (Ciracas, Jakarta:Erlangga, 2006), h. 194. 
[14] Ibid,  h. 199.
[15] Amir al-Najar, Psikoterapi . . ., h. 97.
[16] Sanerya Hendrawan, Spiritual Manajement, cet. 1, (Bandung: PT.Mizan Pustaka, 2009), h. 41
[17]Abd al-Aziz al-Barini, Terapi Mensucikan Hati, diterjemahkan oleh Ida Nursida dan Tiar AnwarBacthiar, cet.1, ( Bandung: PT. Mizan Pustaka, 2008), h. 478-491

Artikel Terbaru

HAKIKAT BELAJAR Oleh: Nuthpaturahman _________________________ BAB I PENDAHULUAN A.     Latar Belakang Masa...

Arsip