Oleh: Nuthpaturahman
1. UNIVERSAL
SKILL ABAD 21 DAN PEMBELAJARAN BERBASIS TI
1.1.
Universal
Skill Abad 21
Skill menurut kamus bahasa Inggris
artinya keterampilan, kecakapan, kepandaian, bakat atau kepiawaian, sedangkan
universal artinya menyeluruh. Menurut Armala, skill adalah “kemampuan
intelektual yang biasa berhubungan erat dengan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Kemampuan ini diperoleh dengan cara belajar”[1]
Sedangkan menurut Francis Green, “Skill is widely regarded as a focus for
analytical research and as a core object for policy interventions in the modern
global high-technology era.”[2]
Dari definisi dan paparan tersebut maka universal
skill abad 21 dapat di maknai sebagai kemampuan dalam ilmu pengetahuan di
bidang teknologi secara menyeluruh guna menghadapi dan mengikuti segala
perubahan dan kemajuan TI di abad 21. Di era teknologi seperti jaman sekarang
ini TI merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia, dengan
adanya TI manusia bisa saling berkomunikasi dan saling berbagi informasi secara
cepat dan tepat dengan waktu yang singkat.
Perkembangan Teknologi Informasi
berjalan begitu cepat dan banyak memberikan kemudahan bagi manusia untuk
melakukan komunikasi atau mendapatkan informasi tanpa dibatasi oleh ruang dan
waktu. Hampir semua aktivitas manusia selalu berhubungan dengan peralatan
Teknologi Informasi. Di kantor atau lembaga pendidikan berbagai peralatan
seperti komputer, laptop, dan internet juga sangat mendominasi cara kerja
manusia secara modern dalam menghasilkan sebuah informasi.
1.2.
Hubungannya Dengan Pembelajaran Berbasis TI
Kecanggihan
teknologi informasi memberikan tantangan besar
bagi dunia pendidik dalam globalisasi tanpa batas di era informasi. Tantangan ini haruslah
diterima sebagai hadiah besar bagi dunia pendidikan, kerena teknologi informasi
dapat menjadi alat yang sangat berharga dan dapat menghasilkan hasil yang luar biasa jika
digunakan dan diintegrasikan dengan benar dan bijak dalam proses pembelajaran. Sebagaimana
yang dipaparkan oleh Wan Noor Hazlina Wan Jusoh dan Kamaruzaman Jusoff, “Educational
technology and multimedia can be valuable tools when they are integrated into
the curriculum appropriately to achieve learning gains, particularly when they
are combined with a twenty-first-century curriculum.”[3] Yang maksudnya adalah Teknologi dapat dijadikan
sebagai pendidikan ketika teknologi tersebut diintegrasikan ke dalam kurikulum,
terutama jika digabungkan ke dalam abad sekarang.
Pemanfaatan
Teknologi informasi dalam pembelajaran dapat membuat pelajaran menjadi
menyenangkan dan dapat meningkatkan minat siswa dalam mengikuti pelajaran
tersebut. Di bandingkan dengan pembelajaran tradisional yang gurunya hanya
ceramah sehingga dalam mengikuti proses belajar siswa cenderung pasif. Dalam hal ini seorang guru merupakan salah satu ujung tombak dalam
proses pembelajaran bagi ketercapaiannya tujuan
pendidikan, guru dituntut untuk terus meningkatkan kompetensi dan kualitas diri
kemajuan teknologi di abad 21 ini.
Wan Noor Hazlina
Wan Jusoh dan Kamaruzaman Jusoff kembali memaparkan, “Muslim
educators need to equip themselves with ICT skills especially multimedia in
order to cater the growth of students in all aspects; spiritual, intellectual,
imaginative, physical, scientific, linguistic, both individually and
collectively. If we fulfill this, only then we able to produce balanced
students spiritually, physically and mentally...”.[4] Maksudnya adalah seorang
pendidik muslim haruslah membekali diri dengan keterampilan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) untuk
memenuhi pertumbuhan siswa dalam semua aspek;
spiritual, intelektual, imajinatif,
fisik, ilmiah, linguistik, baik individual dan kolektif hingga mampu
menghasilkan keseimbangan rohani, fisik dan mental.
Pendapat senada juga diungkapkan oleh Stephanie
Bell, “In the twenty-first century, students use computers in very
advanced ways, but we must remember that they are still children and need
guidance to use technology safely and effectively. Technology as a means, not
an end, enables students to experiment with different technologies for all
aspects of PBL. An authentic use of technology is highly engaging to students,
because it taps into their fluency with computers”.[5] Maksudnya
adalah teknologi bukanlah sekedar alat atau tujuan akhir, maka kita sebagai
seorang guru yang berada pada abad ini haruslah bisa membimbing siswanya dalam
penggunaan teknologi dengan aman dan efisien, sehingga siswa dapat bereksperimen
dan tertarik dalam penggunaan komputer.
Perkembangan teknologi abad ini dalam dunia pendidikan telah banyak memperlihatkan
keuntungan dan perubahan yang signifikan, sehingga daya imajinasi, kreativitas,
fantasi, emosi peserta didik berkembang ke arah yang lebih baik. Selain itu pembelajaran
dapat semakin berkembang dengan adanya inovasi elearning memudahkan proses pendidikan, serta memungkinkan berkembangnya kelas
virtual atau kelas yang berbasis “teleconference” yang tidak
mengharuskan seorang guru dan murid berada dalam satu ruangan.
Pembelajaran berbasis teknologi tersebut
telah dibuktikan oleh Zulkifli. M (eds) pada penelitiannya yang
berjudul “ON ICT-BASED LEARNING MODEL OF ISLAMIC EDUCATION
AT SENIOR HIGH SCHOOL 4 KENDARI SOUTH-EAST SULAWESI PROVINCE”, yang
berkesimpulan 87,88% siswa kelas XI IPS-2, 86,11% siswa kelas XI IPA-2 aktif
dalam pembelajaran dan 85,69% siswa kelas XI IPS-2, 90,75% kelas XI IPA-2 menyatakan
puas dan sangat senang dengan alasan bahwa pembelajaran PAI berbasis TIK dapat
mempercepat pemahaman materi, tepat,
efektif, efisien, menarik dan menyenangkan karena diskusi dapat dilakukan
secara online.[6]
2. PEMBELAJARAN TRADISIONAL, WEB
FACILITATED, BLENDED DAN PEMBELAJARAN
ONLINE
2.1.
Pembelajaran
Tradisional
Pembelajaran tradisional adalah suatu
model pembelajaran tanpa memanfaatkan fasilitas teknologi. Model ini berpusat
pada guru dengan menempatkan peserta didik sebagai objek dalam
proses belajar mengajar dan guru di tuntut menjadi serba bisa sebagai sumber
belajar peserta didik. Sebagaimana yang dikatakan oleh Harasim
(1995) “Collaborative learning is fundamentally different from the
traditional "direct-transfer" or "one-way knowledge
transmission" model in which the instructor is the only source of
knowledge or skills”.[7]
2.2.
Web
Facilitated
Web Facilitated merupakan proses
pembelajaran dengan memanfaatkan fasilitas yang tersedia di web
online untuk membantu peningkatan penguasaan bahan ajar yang tidak terpenuhi
dalam proses tatap muka, pemanfaatan ini lebih banyak dengan pengumpulan tugas.
Huaibo Xin, Monica Kempland dan Faustina
H. Blankson mengemukakan, “The
web facilitated section met face to face in class three hours each week, and
used Blackboard Learning Management System (Blackboard 9.0 version) as an
enhancement to the class; assignments, additional readings and other materials
were provided to students through Blackboard to supplement traditional,
in-class instruction. The hybrid section included 65% of coursework spent in a
traditional face-to-face class setting, while additional web-facilitated
lectures, assignments and activities were conducted using Blackboard. No
face-to-face interactions were conducted for the online class, and all
assignments, lectures and activities were presented via Blackboard”.[8]
Web sebagai pembelajaran yang dihasilkan
berupa web yang memiliki beberapa fasilitas sepert forum diskusi atau obrolan.
Forum diskusi disediakan untuk peserta didik dan guru, guru dapat menggunakan
forum diskusi sebagai penyampai materi, sedangkan peserta didik dapat
menanggapi dan memberikan tangapan atau komentar di dalam forum tersebut.
2.3.
Blended
Menurut Harton (2006) yang dikutip oleh
Wajeha Thabit Al-Ani, blended learning adalah “as any mixture of any form of
learning possible: classroom, virtual-classroom, or standalone learning”,[9]
maksudnya adalah sebagai salah satu
campuran atau pemaduan dari segala bentuk pembelajaran yang
memungkinkan, seperti pembelajaran di ruang kelas, kelas virtual, atau belajar
sendiri.
Sedangkan Kaye Thorne dan David Mackey,
kegiatan pembelajaran alami yang didukung dan ditingkatkan kemudian mencampurkannya
dengan media cd-rom, virtual classroom,
voice-mail, e-mail, video streaming. [10]
Dari definisi tersebut blended adalah
suatu model pembelajaran yang menggabungkan atau memadukan pembelajaran
tradisional (face to face) dengan media teknologi. Media teknologi tersebut
berupa komputer yang terhubung dengan internet (online) atau tidak (ofline), multimedia
dan sebagainya.
2.4.
Pembelajaran
Online
Pembelajaran online atau online
learning merupakan bagian dari e-learning, akan tetapi online
learning memiliki cakupan yang lebih sempit, yaitu suatu
rangkaian aplikasi menggunakan media elektronik untuk membuat pembelajaran yang
menggunakan jaringan komputer
yang terhubung dengan internet secara langsung dan
global.
Menurut David Huni dan Seng Chee Tan,
“Over the
Internet, we are now beginning to see many community-based sites where opinions
are being shared by experts and Opinionators' over all kinds of issues,
products, and ideas. In other words, the Internet has now enabled differing and
distributed expertise to be within reach as long as there are individuals, who,
for some reasons or others, are willing to make a contribution. Very often,
when we are able to attend to a problem On the job', the situated context
through which the problem has arisen often provides the abundant contextualized
engagement of tasks”.[11] Maksudnya
adalah melalui sebuah Internet, kita bisa memulai kegiatan bersama oleh para
ahli dan membicarakan masalah atau ide-ide. Dengan kata lain, bersedia untuk
memberikan kontribusi untuk menghadiri masalah pada pekerjaan, konteks terletak
di mana masalah timbul sering memberikan konseptualisasi.
Jeffrey W. Butler menambahkan, “To engage teachers in this endeavor, we must
show the strong advantages of teaching and learning online. Some advantages
include providing course continuity for absent students, teachers or substitute
teachers; automatic access to tutorials; unlimited student access to review
content prior to testing; compatibility with traditional scheduling; a complete
course is prepared for new teachers; differentiated instruction and exponential
learning is facilitated; virtual field trips are possible; multi sensory
learning is fostered; content can be customized for students' learning styles;
and electronic feedback analyzes student involvement in the course”.[12] Maksudnya
adalah terlibat guru dalam menunjukkan keuntungan dari pengajaran dan
pembelajaran online. Beberapa keuntungan termasuk memberikan kursus kontinuitas
untuk peserta didik. guru mengakses siswa dapat untuk meninjau konten sebelum
pengujian; kompatibilitas dengan penjadwalan tradisional; kursus lengkap
disiapkan oleh guru yang dibedakan dan pembelajaran eksponensial difasilitasi;
kunjungan lapangan virtual dan disesuaikan untuk gaya belajar siswa; dan umpan
balik keterlibatan siswa dalam kursus.
3. BLENDED LEARNING
Ketika merancang model blended learning yang perlu
diperhatikan adalah pembagian dari beberapa materi pembelajaran yang
mencampurkan tatap muka dengan online, yang biasanya 50% tatap muka di kelas dan 50% dilakukan secara
online.[13]
Adapun model-model tersebut adalah:
3.1.
Face-to-Face
Driver
“The teacher still delivers the
majority of curriculum. . .,This model is quickly evolving beyond remediation
to allow teachers to integrate Web 2.0 technology to more fully engage students
in online discussions, activities, and projects beyond the physical classroom”.[14] Dalam model ini guru memberikan silabus atau materi pelajaran kepada
peserta didik dan kemudian melibatkan tidak sekedar tatap muka di ruang kelas,
melainkan melibatkan siswa dalam diskusi online atau kegiatan di luar kelas dengan
mengintegrasikan teknologi berbasis web.
3.2.
Rotation
“This blends self-paced work online
with face-to-face instruction. In this model, the face-to-face teacher usually
oversees the online york” [15]
“In a blended learning rotation
model, students shift between traditional face-to-face, synchronous instruction
and online content delivery in their home, a computer lab, or in a classroom”.[16]
Seperti namanya model ini berjalan secara rotasi
atau berputar yaitu kegiatan pembelajaran yang terlebih dahulu dilakukan secara
offline dan kemudian dilanjutkan dengan online dengan bantuan media berbasis
web sambil bertatap muka di dalam kelas yang di bimbing dan diawasi oleh guru
atau pendidik.
3.3.
Flex
“The
flex blended learning model features a learning management interface that
delivers most of the curricula, and teachers provide on-site support on an
as-needed basis through tutoring and small-group sessions”.[17]
Dalam model ini tatap muka hanya
merupakan pengayaan atau pelengkap saja yang dilakukan oleh guru yang tidak
harus profesional dengan peserta didik yang telah membentuk kelompok diskusi. Kemudian
setelah melakukan tatap muka tersebut barulah peserta membawanya atau
mencampurnya dengan pembelajaran online yang dibimbing oleh guru yang profesional.
Hal yang serupa juga di ungkapkan oleh M. Gail Derrick, Michael K. Ponton dan Paul B. Carr, “The online and
face-to-face research courses were designed to provide opportunities for
students to work towards these larger goals. For example, students in the
face-to-face instruction were provided opportunities to work collaboratively in
groups while students in the distance courses worked independently in similar
assignments.” [18]
3.4.
Online Lap
“Learning
takes place on a school campus in a computer lab. Online teachers deliver
curriculum via an online learning platform”.[19] Pada
model ini pembelajaran berlangsung di dalam ruang laboratorium komputer dan
silabus atau materi pelajaran di bagikan oleh pendidik secara online. Di dalam
ruang laboratorium tersebut peserta didik dipantau atau diawasi oleh orang yang
tidak perlu terlatih dalam pelajaran yang diajarkan, pengawasan berfungsi hanya
untuk menjaga disiplin dalam belajar terus berjalan.
3.5.
Self-Blend
“Student
comments on the Online Discussion Rating Forms, Course Evaluations, and Final
Reflections indicate that students appreciated the online resources and the
ability to search for resources themselves, while also seeking further
structure in optional in-seat workshops.”[20]
Dalam model ini peserta didik dibekali terlebih
dahulu oleh pendidik dengan pembelajaran online dan offline di ruang kelas,
kemudian selanjutnya peserta didik mengikuti kursus secara online yang
dilakukan di luar kelas, baik di rumah maupun di mana saja. Dalam kursus online
yang dilakukan di luar kelas, peserta didik dapat saling berkomunikasi atau
bertatap muka melalui grup/komunitas dengan fasilitas teleconference di kelas
virtual yang telah dibentuk sebelumnya di
dunia maya (internet).
3.6.
Online Driver
Staker dan Horn (2012) yang dikutip oleh Erica Lynn Kolat mengatakan “whole-school experience in which within each course (e.g., math), students divide their time between attending a brick-and-mortar campus and learning remotely using online delivery of content and instruction.”[21]. Kemudian Kafer (2003) juga mengatakan “An enriched-virtual model allows students to complete online courses at home, supported by face-to-face teachers, as needed by students.” [22]
Dari paparan tersebut maka dapat
dipaparkan bahwa pada model ini sebelumnya seorang guru atau pendidik
memberikan pengarahan terlebih dahulu kepada peserta didik melalui tatap muka
di dalam kelas, kemudian guru mengupluad materi pelajaran ke web atau internet
yang selanjutnya murid atau peserta didik dapat mendownload materi tersebut dan
mengikuti instruksi yang ada di dalamnya serta mempelajarinya secara mandiri di
rumah masing-masing.
Setelah mempelajari materi yang
diberikan oleh guru secara online, maka dilanjutkan dengan mendiskusikan atau
mempelajari ulang materi tersebut ke ruang kelas bersama guru dengan tatap muka
dan online.
Dalam blended learning ada sebuah model yang di
sebut dengan flipped classroom atau membalik, model ini merupakan
bagian dari model rotation. Menurut Staker dan Horn (2012) yang kutip
oleh Erica Lynn Kolat, “In a flipped
classroom, teachers provide resources (typically vendorcreated, or
teacher-created videos) for students to access content that is typically
delivered through direct instruction outside of class time.” [23]
Sedangkan menurut Jacob Lowell Bishop dan Matthew A Verleger,
“We define the flipped classroom as an educational technique that consists
of two parts: interactive group learning activities inside the classroom, and
direct computer-based individual instruction outside the classroom.”[24]
Perbedaan yang tampak dengan model
tradisional adalah: pada model tradisional perkuliahan dilakukan di
sekolah/kampus dan bookwork di lakukan di rumah, sebaliknya pada model
perkuliahan dilakukan lebih aktif dilakukan rumah dan bookwork di lakukan di
sekolah/kampus. Dalam flipped classroom ini pendidik/dosen menjelaskan materi
perkuliahan melalui sebuah video yang dibuat sebelumnya dan peserta didik
mengaksesnya dari jarak jauh. Dalam kata lain model ini dapat dikatakan sebagai
perkuliahan jarak jauh secara online.
Menurut analisa penulis
dari beberapa
model blended learning dapat diimplikasikan ke dalam materi pembelajaran
PAI adalah Flipped Classroom, Self-Blend dan Online Driver.
Misalnya materi PAI Akhlak Tasawuf yang membahas tentang akhlak kepada Khalid
dan akhlak kepada makhluk.
SILABUS
KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI
SEKOLAH
TINGGI AGAMA ISLAM (STAI) AL WASHLIYAH BARABAI
1.
Mata Kuliah : Akhlak Tasawuf
2.
Jumlah SKS : 2 SKS
3.
Jurusan/Prodi : Tarbiah
dan Dakwah/PAI dan BPI
4.
Tujuan Mata Kuliah : Mahasiswa
mampu memahami dan menerapkan akhlak Islami dengan pemahaman dan penerapan yang luas serta
mengenal dan memahami aliran-aliran dalam Tasawuf dan Tarekat sebagai proses
menjadi sarjana muslim yang berakhlak mulia.
5.
Silabus
No.
|
Pertemuan ke
|
Kompetensi
Dasar
|
Materi Pokok
|
Indikator
|
1.
|
I
|
Mampu
mendeskripsikan konsep dasar akhlak
|
Akhlak
terhadap Khaliq dan Akhlak terhadap makhluk
|
Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan
akhlak terhadap Khaliq dan akhlak terhadap makhluk
|
Berdasarkan silabus tersebut, maka mengimplikasikannya pada
tiga model tersebut, sebagai berikut:
No.
|
Model
|
Caranya
|
1.
2.
3.
|
Flipped Classroom
Self-Blend
Online Driver
|
1.1.
Pendidik
menyampaikan materi pokok tentang akhlak terhadap Khaliq dan akhlak terhadap
makhluk secara tradisional/tatap muka (face-to-face).
1.2.
Peserta didik mengikuti
perkuliahan secara online, di mana dalam perkuliahan tersebut peserta didik
menerima penjelasan materi yang dibahas secara online dari internet, baik
berupa artikel atau video (video berupa penjelasan tentang materi yang
dibahas) melalui di website yang telah dibuat oleh pendidik.
1.3.
Setelah
mendapatkan dan menerima penjelasan, peserta didik membawanya dalam kelas
untuk dibahas bersama-sama sebagai pembuktian pemahaman mereka pada topik
yang dibahas.
2.1.
Seorang pendidik membelakali
dan menjelaskan akhlak terhadap Khaliq dan akhlak terhadap makhluk kepada peserta
didik secara tatap muka (tradisional) dan secara online yang berlangsung di
dalam kelas.
2.2.
Peserta didik ditugaskan
mengikuti pembelajaran secara online atau kursus online di luar jam pelajaran
kelas (di rumah atau di mana saja) pada sebuah web pembelajaran (elearrning) yang
tata caranya sudah dijelaskan sebelumnya. Di sini peserta mengambil
(mendownload) tugasnya masing-masing secara online baik berupa pertanyaan
(test) atau makalah dan tugas itu dikumpulkan secara online (di upload) di
web elearrning tersebut.
3.1.
Pendidik
memaparkan dan menjelaskan secara umum tentang akhlak terhadap Khaliq dan akhlak
terhadap makhluk kepada peserta didik.
3.2.
Peserta didik belajar
dengan sendirinya secara online di sebuah web yang telah di buat oleh
pendidik, di sini peserta didik berkolaborasi dalam belajar dan memahami
penjelasan dari pendidik dari web tersebut.
3.3.
Pendidik memantau
dan menilai perkembangan peserta didik dalam memahami materi yang dibahas.
|
4. SOSIAL MEDIA SEBAGAI PROSES
PEMBELAJARAN PAI
Media pembelajaran memiliki dampak positif dan keuntungan, dimana
proses pembelajaran terjadi tanpa adanya keterbatasan dalam hal waktu dan
kondisi. Di samping itu
didapatkan
data bahwa 52 orang dari 60 siswa atau sekitar (87%) memilih menggunakan jejaring
sosial Facebook, dimana selama 1 semester siswa menulis 283 postingan yang menghasilkan
840 komentar. Hasil dari survei menunjukkan bahwa facebook membawa banyak dampak
positif bagi siswa yaitu untuk pemahaman, Selain itu sebagian orang berpikir
Facebook memiliki dampak positif pada hubungan siswa dengan siswa lain pendidik”.[25]. menyatakan, “In a large study of over 36,000 college students from the U.S. and found that just over 90% of college students use online social networking sites, and of these, 97% use Facebook”.[26] Maksudnya adalah ditemukan lebih dari 36.000 mahasiswa dari Amerika Serikat dan Kanada bahwa lebih dari 90% siswa yang kuliah menggunakan situs online jejaring sosial, dan 97% menggunakan Facebook.
Kelebihan lain dari Facebook karena memiliki beberapa fitur
yang bisa dimanfaatkan sebagai media pembelajaran di antaranya: 1) Fitur grup
dan halaman, pengguna facebook dapat membuat dan bergabung pada sebuah grup/halaman
yang mengarah ke grup/halaman yang telah dibuat oleh guru mata pelajaran, sehingga
peserta didik dapat belajar tentang materi pelajaran dan guru pun kebanjiran
pengunjung yang tidak lain adalah peserta dirinya sendiri. 2) Fitur chat, fitur
ini dapat digunakan oleh peserta didik untuk saling berkomunikasi kepada sesama pengguna facebook atau guru dan bisa
menjadi media diskusi secara online. 3) Fitur Status Update, lewat fitur ini
guru dapat mengupdate status berupa bahan ajar yang memungkinkan peserta
didiknya dapat merespons dan memberi komentar terhadap update status gurunya.
4) Fitur Share, lewat fitur ini guru dapat men-share materi pelajar baik berupa
link, video atau tulisan singkat yang kemudian diakses oleh peserta didik.
DAFTAR PUSTAKA
Armala. Meraih Sukses Itu Gampang. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama,
t.h.
Bell, Stephanie. “Project-Based Learning for the 21st Century: Skills
For The Future”, The Clearing House, vol. 2, no. 83, (2010): h.42.
Bishop, Jacob Lowell. and Matthew A Verleger, “The Flipped Classroom: A
Survey of the Research.” American Society for Engineering Education, 6219
(2013): h.5.
Boyer, Naomi. and Maxine Kelly, “Breaking The Institutional Mold:
Blended Instruction, Self-Direction, And Multi-Level Adult Education.”
International Journal of Self-Directed Learning, Vol. 2, No. 1 (2005): h. 12.
Butler, Jeffrey W. “Online Learning: Lessons Learned”, Techniques, vol.
85, no. 6 (2010): h. 34.
Derrick, M. Gail. Michael K. Ponton dan Paul B. Carr, “A Preliminary
Analysis Of Learner Autonomy In Online And Face-To-Face Settings.” International
Journal of Self-Directed Learning, Vol. 2, No. 1 (2005): h. 66.
Francis Green, “What is Skill? An Inter-Disciplinary Synthesis.”
Disertasi, Centre for Learning and Life Chances in Knowledge Economies and
Societies, Institure of Education University of London, London, 2011.
Huni, David. and Seng Chee Tan, “Ow The Internet Facilitates Learning
As Dialog: Design Considerations for Online Discussions”, International Journal
of Instructional Media, vol. 32, no. 1 (2005): h. 39.
Jusoh, Wan Noor Hazlina Wan and Kamaruzaman Jusoff. “Using Multimedia
in Teaching Islamic Studies”, Journal Media and Communication Studies, vol. 1,
no. 5 (2009): h. 086-088.
Kemplang, Huaibo Xin, Monica. and Faustina H. Blankson, “Adaptability
and Replicability of Web-Facilitated, Hybrid, and Online Learning In An
Undergraduate Exercise Psychology Course”, The Turkish Online Journal of
Educational Technology, vol. 14, no. 1 (2015): h. 21.
Kolat, Erica Lynn. “Blended And Online Learning In K-12 Traditional
School Districts Of Southwestern Pennsylvania.” Disertasi, Graduate Faculty of
The School of Education, University Of Pittsburgh, 2014.
Lukman, Rebeka. and Majda Krajnc, “Exploring Non-traditional Learning
Methods in Virtual and Real-world Environments”, Educational Technology
& Society, vol. 15, no.1, (2012): h. 238.
M, Zulkifli. et al., eds., “On Ict-Based Learning Model Of Islamic
Education At Senior High School 4 Kendari South-East Sulawesi Province,”
Journal of Arts Science & Commerce, vol. iv, no. 4 (2013): h. 37-38.
McCole, Dan. et al., eds., “Integrating Facebook into the College
Classroom: Student Perceptions and Recommendations for Faculty”, Nacta Journal
(2014): h. 246-247.
Sahin, Mehmet. “Blended Learning Model In Mechanical Manufacturing
Training,” African Journal of Business Management, vol. 4, no. 12 (18 September
2010): h. 2521.
Thorne, Kaye. and David Mackey. Everything You Ever Needed to Know
About Training. London: Kogan Page Publishers, 2007.
Tucker, Catlin R. Blended Learning in Grades 4–12. London: Corwin
Press, 2012.
Wajeha Thabit Al-Ani, “Blended Learning Approach Using Moodle and
Student’s Achievement at Sultan Qaboos University in Oman,” Journal of
Education and Learning, vol. 2, no. 3 (2013): h. 96.
[1] Armala, Meraih
Sukses Itu Gampang, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, t.h.), h.13.
[2] Francis
Green, “What is Skill? An Inter-Disciplinary Synthesis” (Disertasi, Centre
for Learning and Life Chances in Knowledge Economies and Societies, Institure
of Education University of London, London, 2011), h. 4.
[3] Wan
Noor Hazlina Wan Jusoh and Kamaruzaman Jusoff, “Using Multimedia in Teaching
Islamic Studies”, Journal Media and Communication Studies, vol. 1, no.
5 (2009): h. 086-087.
[4] Ibid, h.
088.
[5] Stephanie
Bell, “Project-Based Learning for the 21st Century: Skills For The
Future”, The Clearing House, vol. 2, no. 83, (2010): h.42.
[6] Zulkifli.
M, et al., eds., “On Ict-Based Learning Model Of Islamic Education At
Senior High School 4 Kendari South-East Sulawesi Province,” Journal of
Arts Science & Commerce, vol. iv, no. 4 (2013): h. 37-38.
[7] Rebeka
Lukman and Majda Krajnc, “Exploring Non-traditional Learning Methods in Virtual
and Real-world Environments”, Educational Technology & Society, vol.
15, no.1, (2012): h. 238.
[8] Huaibo
Xin, Monica Kemplang and Faustina H. Blankson, “Adaptability and
Replicability of Web-Facilitated, Hybrid, and Online Learning In An
Undergraduate Exercise Psychology Course”, The Turkish Online
Journal of Educational Technology, vol. 14, no. 1 (2015): h. 21.
[9] Wajeha
Thabit Al-Ani, “Blended Learning Approach Using Moodle and Student’s
Achievement at Sultan Qaboos University in Oman,” Journal of Education and
Learning, vol. 2, no. 3 (2013): h. 96.
[10] Kaye
Thorne and David Mackey, Everything You Ever Needed to Know About Training, (London:
Kogan Page Publishers, 2007), h.113.
[11] David
Huni and Seng Chee Tan, “Ow The Internet Facilitates Learning As Dialog: Design
Considerations for Online Discussions”, International Journal of
Instructional Media, vol. 32, no. 1 (2005): h. 39.
[12] Jeffrey
W. Butler, “Online Learning: Lessons Learned”, Techniques, vol. 85,
no. 6 (2010): h. 34.
[13] Mehmet
Sahin, “Blended Learning Model In Mechanical Manufacturing Training,” African
Journal of Business Management, vol. 4, no. 12 (18 September 2010): h. 2521.
[14] Catlin
R.Tucker, Blended Learning in Grades 4–12,(London: Corwin Press, 2012),
h.13-14.
[15] Ibid.
[16] Erica
Lynn Kolat, “Blended And Online Learning In K-12 Traditional School Districts
Of Southwestern Pennsylvania” (Disertasi, Graduate Faculty of The School of
Education, University Of Pittsburgh, 2014), h. 41.
[17] Ibid.
[18] M.
Gail Derrick, Michael K. Ponton dan Paul B. Carr, “A Preliminary Analysis Of
Learner Autonomy In Online And Face-To-Face Settings.” International
Journal of Self-Directed Learning, Vol. 2, No. 1 (2005): h. 66.
[19] Catlin
R.Tucker, Blended Learning in Grades, . . . , h.13-14.
[20] Naomi
Boyer and Maxine Kelly, “Breaking The Institutional Mold: Blended Instruction,
Self-Direction, And Multi-Level Adult Education.” International Journal of Self-Directed Learning, Vol. 2, No. 1 (2005): h. 12.
Self-Direction, And Multi-Level Adult Education.” International Journal of Self-Directed Learning, Vol. 2, No. 1 (2005): h. 12.
[21] Erica
Lynn Kolat, “Blended And Online Learning In K-12 Traditional School Districts
Of Southwestern Pennsylvania” . . . , h. 44.
[22] Ibid, h.
45.
[23] Erica
Lynn Kolat, “Blended And Online Learning In K-12 Traditional School Districts
Of Southwestern Pennsylvania” . . . , h. 42.
[24] Jacob
Lowell Bishop and Matthew A Verleger, “The Flipped Classroom: A Survey of the
Research.” American Society for Engineering Education, 6219 (2013):
h.5.
[25] Dan
McCole, et al., eds., “Integrating Facebook into the College
Classroom: Student Perceptions and Recommendations for Faculty”, Nacta
Journal (2014): h. 246-247.
[26] Ibid, h.
244.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar