BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
Dalam kehidupan, orang banyak mengaitkan tasawuf dengan
unsur kejiwaan dalam diri manusia. Hal ini cukup beralasan, mengingat dalam
substansi pembahasannya, tasawuf selalu membicarakan persoalan-persoalan yang
berkisar pada jiwa manusia. Hanya saja, dalam jiwa yang dimaksud adalah jiwa
manusia muslim, yang tentunya tidak lepas dari sentuhan-sentuhan Keislaman.
Dari sinilah, tasawuf kelihatan identik dengan unsur kejiwaan manusia muslim.
Kehidupan manusia seyoganya dapat membawa kemakmuran dan
kebahagiaan hidup bersama menuju tatanan kehidupan yang bermoral dan berakhlak.
Tapi pada kenyataannya bahwa masih
banyak yang mengalami kesukaran, mental menurun, jiwa gelisah, ketegangan, dan
tekanan perasaan sering terjadi di tengah kehidupan yang beraneka ragam.
pandangan psikologi hal semacam ini disebut dengan gangguan jiwa, jika ini
terjadi pada tatanan yang luas di memasyarakat maka disebut dengan istilah penyakit
masyarakat.
Menanggapi masalah tersebut, dalam kajian tasawuf
disebabkan kurangnya pengaruh ajaran agama hingga menimbulkan penyakit hati
seperti angkuh, iri, dengki dan sombong yang
melanda hati manusia.
Manusia modern masa kini, meskipun sarat dengan atribut
keagamaan tetapi pada hakikatnya mereka mengalami kekeringan batin kerena
mengejar hal-hal menjauhkannya dari Tuhan, yang menimbulkan sikap egois,
keduniaan dan kebebasan melakukan apa saja. Sikap-sikap tersebut membuat dirinya
dipenuhi dengan sifat-sifat tercela. Pada kondisi seperti ini pengobatan medis
pun sering tidak dapat membantu sama sekali.
Inilah yang menjadi akar masalah kesehatan dalam jiwa manusia. Penyebabnya
tidak lain manusia lupa dengan aspek dan hakikatnya di dunia ini adalah untuk beribadah
kepada Sang Khalik. Menyikapi masalah ini menurut hemat penulis, ajaran tasawuf
mampu memberikan solusi sebagai alternatif untuk menggapai jiwa yang sehat.
BAB II
TERAPI TASAWUF
Oleh: H.Nuthpaturahman
TERAPI TASAWUF
Oleh: H.Nuthpaturahman
Dosen STAI Al-Washliyah Barabai
A.
Definisi
Terapi (Psikoterapi)
Istilah Psikoterapi (psychotherapy)
mempunyai pengertian cukup banyak dan kabur, terutama karena istilah tersebut
digunakan dalam berbagai bidang operasional ilmu empiris seperti psikiatri,
psikologi, bimbingan dan penyuluhan, kerja sosial, pendidikan dan ilmu agama.
Secara harfiah Psikoterapi berasal dari kata psycho yang artinya jiwa,
dan therapy yang artinya penyembuhan, pengobatan, dan perawatan.
Oleh karena itu psikoterapi disebut juga dengan istilah terapi kejiwaan, terapi
mental atau terapi pikiran. Jadi, psikoterapi sama dengan penyembuhan jiwa.[1]
Secara terminologi psikoterapi (psychotherapy)
adalah pengobatan alam pikiran, atau lebih tepatnya, pengobatan dan perawatan
gangguan psikis melalui metode psikologis. Pengertian psikoterapi mencakup
berbagai teknik yang bertujuan untuk membantu individu dalam mengatasi gangguan
emosional dengan cara memodifikasi perilaku, pikiran, dan emosinya seperti
halnya proses pendidikan kembali, sehingga individu tersebut mampu
mengembangkan dirinya dalam mengatasi masalah psikisnya.[2]
Pengertian psikoterapi selain digunakan
untuk penyembuhan penyakit mental, juga dapat digunakan untuk membantu,
mempertahankan dan mengembangkan integritas jiwa, agar ia tetap tumbuh secara
sehat dan memiliki kemampuan penyesuaian diri lebih efektif terhadap
lingkungannya. Dengan demikian, tugas utama psikoterapi di sini adalah memberi
pemahaman dan wawasan yang utuh mengenai diri pasien serta memodifikasi atau
bahkan mengubah tingkah laku yang dianggap menyimpang.
Psikoterapi berbeda dengan pengobatan
tradisional yang sering memandang gangguan psikologis sebagai gangguan karena
sihir, kesurupan jin atau karena roh jahat. Anggapan-anggapan yang kurang tepat
tersebut karena sebagian masyarakat terlalu mempercayai takhayul dan kurang
wawasan ilmiahnya. Dalam psikoterapi, gangguan psikologis diidentifikasi secara
ilmiah dengan standar tertentu kemudian dilakukan proses psikoterapi
menggunakan cara-cara modern yang terbukti berhasil mengatasi hambatan
psikologis. Dalam psikoterapi tidak ada hal-hal yang bersifat mistik, klien
psikoterapi juga tidak diberi obat karena yang sakit adalah jiwanya, bukan
fisiknya.
B.
Definisi Tasawuf
Berasal dari kata suffah (صفة) yang artinya segolongan
sahabat-sahabat Nabi yang menyisihkan dirinya di serambi masjid Nabawi, karena
di serambi itu para sahabat selalu duduk bersama-sama Rasulullah untuk
mendengarkan fatwa-fatwa beliau untuk disampaikan kepada orang lain. Berasal
dari kata sūfatun (صوفة) yang artinya bulu binatang, maksudnya orang yang memasuki
tasawuf itu memakai baju dari bulu binatang dan tidak senang memakai pakaian
yang indah-indah sebagaimana yang dipakai oleh kebanyakan orang. Berasal dari
kata sūuf al sufa’ (صوفة الصفا) yang artinya bulu yang terlembut, dengan dimaksud bahwa
orang bertasawuf itu bersifat lembut dan berasal dari kata safa’ (صفا) yang artinya suci bersih,
karena orang-orang yang mengamalkan tasawuf itu, selalu suci bersih
lahir dan batin dan selalu meninggalkan perbuatan-perbuatan yang
kotor yang dapat menyebabkan kemurkaan Allah.[3]
Tasawuf menurut para ahli sufi, di antaranya:
- Syekh Muhammad Al-Kurdi.
Tasawuf adalah suatu ilmu yang dengannya dapat diketahui
kebaikan dan keburukan jiwa, cara membersihkannya dari sifat-sifat yang buruk
dan mengisinya dengan sifat-sifat terpuji menuju keridaan Allah dan
meninggalkan larangannya menuju larangannya.
- Imam Gazali
Tasawuf adalah ilmu yang membahas cara-cara seseorang
mendekatkan diri kepada Allah Swt. Tasawuf adalah budi pekerti barang siapa
yang memberikan budi pekerti atasmu, berarti ia memberikan bekal atas dirimu
dalam bertasawuf, maka hamba yang jiwanya menerima (perintah) untuk beramal
karena sesungguhnya mereka melakukan akhlak terpuji, karena mereka telah
menempuh jalan nur dengan petunjuk imannya.
- Harun Nasution
Tasawuf yang menggambarkan hidup kepasrahan dalam
menjalani hidup yang serba kekurangan.
- Syekh Abul Hasan asy-Syadzili
Tasawuf sebagai praktek dan latihan diri melalui cinta
yang dalam dan ibadah untuk mengembalikan diri kepada jalan Tuhan.
- Syeikh Ahmad Zorruq
Ilmu yang dengannya manusia dapat memperbaiki hati dan
menjadikannya semata-mata bagi Allah, dengan menggunakan pengetahuan Islam,
khususnya fiqih dan pengetahuan yang berkaitan, untuk memperbaiki amal dan
menjaganya dalam batas-batas syariat Islam agar kebijaksanaan menjadi nyata.
- Al-Syibli
Tasawuf ialah mengabdikan diri kepada Allah Swt tanpa
keluh kesah.
- Ibnu Kaldum
Tasawuf adalah sebagian ilmu dari ajaran Islam yang
bertujuan agar seseorang tekun beribadah dan memutuskan hubungan selain Allah
hanya menghadap Allah semata, menolak hiasan-hiasan duniawi, serta membenci
sesuatu yang memperaya manusia dan menyendiri menuju jalan Allah dalam
beribadah.[4]
Dari pengertian tersebut di atas dapat
dipahami, bahwa merupakan ilmu yang membahas cara-cara mendekatkan diri kepada
Allah, seperti berakhlak mulia, tekun dalam beribadah tanpa keluh kesah,
memutuskan hubungan selain Allah karena kita merasa tidak memiliki suatu
apapun di dunia ini dan kita tidak dimiliki oleh siapa pun di kalangan makhluk,
menolak hiasan-hiasan duniawi seperti kelezatan dari harta benda yang biasa
memperdaya manusia, dan menyendiri menuju jalan Allah dalam untuk beribadah.
Tasawuf juga merupakan kesungguhan untuk membersihkan dan memperdalam
kerohanian dalam rangka mendekatkan kepada Allah, sehingga dengan itu maka
segala konsentrasi seseorang hanya tertuju kepada-Nya.
C.
Aspek dan Efek
Terapi Tasawuf
Tasawuf sebagai terapi menawarkan cara
Islami dalam pengobatan kejiwaan yang dialami manusia, yaitu dengan cara
melalui kepasrahan. Terapi tasawuf bukanlah bermaksud mengubah posisi maupun
menggantikan tempat yang selama ini di dominasi oleh medis, justru cara terapi
ini memiliki karakter dan fungsi melengkapi. Karena terapi tasawuf merupakan
terapi pengobatan yang bersifat alternatif.
Mengenai aspek dan efek dari tasawuf
sebagai terapi kejiwaan dalam Islam dapat diuraikan sebagai berikut:
1.
Aspek Taubat
Taubat berarti al-ruju’ min ’l-żanbi,
al-ruju’ ‘an ’l-żanbi, kembali dari berbuat dosa menuju kebaikan atau
meninggalkan dosa. Dosa dimaknai sebagai ḥijāb (tirai/dinding/penghalang)
dari Kekasih (Tuhan). Oleh karena itu menjauhkan diri dari hal-hal yang tidak
disukai oleh Allah adalah perkara wajib. Hal ini dapat dilakukan dengan jalan al-‘ilm (pengetahuan), an-nadm (penyesalan)
dan al-‘azm (kemauan atau niat).[5]
Hijāb (tirai/dinding/penghalang)
terjadi akibat dari dosa manusia, sebagaimana yang dijelaskan oleh Rasulullah
saw:
Apabila seorang mukmin melakukan itu, maka dalam hatinya
terdapat satu noktah (titik hitam kotor). Kemudian bila dia bertaubat,
melepaskan diri dan memohon ampun, maka hatinya akan mengkilap. Apabila dia menambah
dosanya, maka bertambahlah noktah tadi. Itulah hijab.[6]
Dosa secara psikologis merupakan beban
bagi seseorang yang melakukannya. Akibat dosa yang dilakukannya itu, tidak
jarang mengakibatkan manusia menjadi stres/depresi, yang pada gilirannya
mendatangkan penyakit. Hal ini dapat dimaknai dari pemahaman tentang
noktah/titik hitam, yang secara fisik
dapat dimaknai sebagai bakteri atau bibit penyakit. Dengan demikian, dosa
adalah bibit penyakit secara fisik maupun secara psikis. Cara ampuh untuk
menghilangkan bibit penyakit itu, tidak lain dengan taubat.
2.
Aspek Wara’
Wara’ adalah mensucikan hati dan
berbagai anggota badan.[7]
Juga diartikan sebagai menjaga diri dari segala aktivitas yang tidak dapat
mengganggu stabilitas jiwa. Hal ini berupa perilaku seperti makanan yang haram,
yang meragukan (subhat), serta yang merugikan.[8]
Sebuah cerita, ketika seorang laki-laki
datang kepada seorang dokter dan menceritakan bahwa istrinya tidak bisa
melahirkan anak. Dokter memeriksa wanita itu dan mendengar denyut jantungnya,
lalu berkata: “Saya tidak bisa mengobatinya, sebab saya menemukan bahwa
setidak-tidaknya engkau akan meninggal dunia dalam waktu empat puluh hari.”
Mendengar keterangan ini, wanita itu pun demikian sedihnya, sehingga ia tidak
dapat makan sesuatu pun selama empat puluh hari. Tetapi ia tidak juga meninggal
dalam jangka waktu diramalkan. Sang suami membawa persoalan itu kepada dokter,
dan dokter kemudian berkata, “Ya, saya tahu itu. Sekarang ia akan menjadi
subur”. Sang suami menanyakan kembali bagaimana hal itu terjadi. Dokter
menjawab, “Istrimu terlalu gemuk, dan ini mengganggu kesuburannya. Saya tahu
bahwa satu-satunya jalan yang akan menjauhkannya dari makanan adalah ketakutan
akan kematian. Karena itu, ia sekarang sembuh.”[9]
Dapat dipahami bahwa makan adalah baik, tapi
jika melebihi kebutuhan, maka makanan justru akan menjadi penyakit. Sebaliknya
orang yang wara’, akan benar-benar memilih makanan yang bersih dan hanya cukup
bagi mencukupi kebutuhan hidupnya, meskipun makanan itu melimpah, menjaga
syahwat makan agar tidak menjadi sumber penyakit, baik hati maupun fisik. Dalam
sudut pandang lain, perilaku wara’ ini akan cenderung kepada zuhud.
3.
Aspek Zuhud
Zuhud dapat diartikan sebagai sikap
mental untuk menjauhkan
diri dari kehidupan di dunia demi akhirat, dengan kata lain menyeimbangkan antara aspek-aspek lahiriah dan batiniah, jasmaniah dan rohaniah. Atau dalam pengertian lain diartikan sebagai Proses kontrol emosional negatif menuju positif, seperti hawa nafsu, amarah, dan syahwat, dan sebagainya. Sebagaimana Q.S. al-Baraqah/2: 201
diri dari kehidupan di dunia demi akhirat, dengan kata lain menyeimbangkan antara aspek-aspek lahiriah dan batiniah, jasmaniah dan rohaniah. Atau dalam pengertian lain diartikan sebagai Proses kontrol emosional negatif menuju positif, seperti hawa nafsu, amarah, dan syahwat, dan sebagainya. Sebagaimana Q.S. al-Baraqah/2: 201
وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي
الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (٢٠١)
Artinya: dan di antara mereka ada orang yang berdoa: Ya Tuhan Kami, berilah Kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah Kami dari siksa neraka.
Berdasarkan pengertian di atas, maka
jelaslah bahwa zuhud dapat dijadikan sebagai sarana untuk penyembuhan bagi
penyakit jiwa. Penyakit jiwa yang dimaksud tentu saja penyakit jiwa yang
disebabkan oleh materi, sehingga melupakan segalanya, bahkan melupakan dirinya
sendiri. Mengutamakan tenaga tanpa menghiraukan kesehatan, seperti memakan
makanan yang haram, berlebih-lebihan terhadap yang halal. Pada akhirnya, materi
merasa tidak tercukupi, Allah pun ditinggalkan, yang akhirnya justru penyakit
lahir yang datang (seperti diabetes, strok, lumpuh dan lain-lain), yang juga
bisa jadi disebabkan oleh adanya penyakit seperti stres/depresi. Dalam hal ini
zuhud akan dapat menjadi obat yang mujarab dalam mengatasinya.
4.
Aspek Sabar
Sifat sabar dalam Islam menempati posisi
yang istimewa sebagai
inti perbuatan hati, sebagaimana Q.S. an-Nahl/16: 41-42
inti perbuatan hati, sebagaimana Q.S. an-Nahl/16: 41-42
وَالَّذِينَ
هَاجَرُوا فِي اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مَا ظُلِمُوا لَنُبَوِّئَنَّهُمْ فِي
الدُّنْيَا حَسَنَةً وَلأجْرُ الآخِرَةِ أَكْبَرُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ (٤١)الَّذِينَ
صَبَرُوا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ (٤٢)
Artinya: 41. dan orang-orang yang berhijrah karena Allah sesudah mereka dianiaya, pasti Kami akan memberikan tempat yang bagus kepada mereka di dunia. dan Sesungguhnya pahala di akhirat adalah lebih besar, kalau mereka mengetahui. 42. (yaitu) orang-orang yang sabar dan hanya kepada Tuhan saja mereka sabar (bertawakal.
Dengan demikian, maka sabar akan dapat
dijadikan sebagai sarana penyembuhan yang ampuh. Ketika mendapat ujian berupa
sakit, maka seseorang dapat menggunakan kesabarannya dalam menahan serangan
rasa sakit dengan mengembalikannya kepada Allah. Sabar atas segala keputusan-Nya,
sehingga rasa sakit justru menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah
dan memahami betapa besar kekuasaannya. Pada gilirannya, sakit fisik tidak akan
menambah sakit psikis (kejiwaan) dan sebaliknya, jika semuanya dikembalikan
kepada Allah Yang Maha Penyembuh.
5.
Aspek Ridha
Ridha secara etimologis berarti rela,
tidak marah. Menurut al Hujwiri, ridha terbagi menjadi dua, yaitu ridha Allah
terhadap
hambanya, dan ridha hamba terhadap Allah. Ridha Allah terhadap hamba-Nya, adalah dengan cara memberikan pahala, nikmat, dan karamah-Nya,
Sedangkan ridha hamba kepada Allah adalah melaksanakan segala perintah-Nya dan tunduk atas segala hukum-hukum-Nya.[10]
hambanya, dan ridha hamba terhadap Allah. Ridha Allah terhadap hamba-Nya, adalah dengan cara memberikan pahala, nikmat, dan karamah-Nya,
Sedangkan ridha hamba kepada Allah adalah melaksanakan segala perintah-Nya dan tunduk atas segala hukum-hukum-Nya.[10]
Kaitannya dengan masalah terapi dalam
kesehatan kesembuhan, terlihat jelas bahwa riḍha menjadi salah satu sarana jiwa
atas segala keputusan atau ketentuan Allah. Seringkali penyakit menjadi
bertambah parah, akibat hilangnya kerelaan hati menerima keadaan, sehingga hati
menjadi kotor dan pikiran kusut, yang pada gilirannya penyakit datang dan
bertambah. Jika demikian, maka ridha Allah tidak akan turun kepada hamba untuk
memberikan pahala dan nikmat-Nya, sehingga penyakit menjadi sulit untuk
disembuhkan.
Oleh karena itu, ridha hamba terhadap
ketentuan Allah pada dirinya, akan menentukan ridha Allah pula terhadap
hamba-Nya. Dengan kata lain, kerelaan hati menerima penyakit yang ditentukan
Allah pada diri seseorang, akan menentukan kesembuhan yang diberikan Allah
kepada hamba yang diridhai-Nya. Sebagaimana sabda Rasulullah saw: “akan merasakan
kelezatan/kemanisan iman orang-orang yang ridha terhadap Allah sebagai Rabb-nya
dan Islam sebagai agamanya serta (nabi) Muhammad sebagai rasulnya (HR. Muslim).[11]
6.
Aspek Tawakal
Dari segi bahasa, tawakal berasal dari
kata ‘tawakala’ yang memiliki arti menyerahkan,
mempercayakan dan mewakilkan. Seseorang yang bertawakal adalah seseorang
yang menyerahkan, mempercayakan dan mewakilkan segala urusannya hanya kepada
Allah Swt. Lawan dari sifat tawakal adalah sifat-sifat tercela, yaitu takabur,
bangga diri, sandaran kosong pada diri dan kekuatan-kekuatan materi semata
dengan mengesampingkan tawakal kepada allah.[12]
Menurut al-Qusyairi, tawakal bertempat
hati, sedangkan gerakan lahiriah tidak menanggalkan tawakal dalam hati manakala
si hamba telah yakin bahwa takdir datang dari Allah, sehingga ketika ia
mendapatkan kemudahan dalam sesuatu, maka ia melihat kemudahan dari Allah di
dalamnya.[13] Sedangkan al-Ghazali
mengatakan tawakal ialah menyerahkan urusan kepada seseorang yang kemudian
disebut wakil, dan memercayakan kepadanya dalam urusan tersebut.[14]
Dalam Q.S. al-Anfal/8: 61
وَإِنْ جَنَحُوا لِلسَّلْمِ فَاجْنَحْ لَهَا وَتَوَكَّلْ
عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ (٦١)
Artinya: dan jika mereka condong kepada perdamaian,
Maka condonglah kepadanya dan bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah
yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui.
Obat apa pun yang diinjeksikan ke dalam tubuh, tidak akan bermanfaat manakala dalam hati
seseorang tidak ada rasa tawakal dan ridha. Ada pepatah mengatakan, “Jangan pergi
ke dokter, kalau engkau membawa obat”. Artinya, ketika seseorang diberi obat,
dia belum bisa berserah diri pada satu obat, melainkan masih berpikiran obat
lain, yang menurutnya memungkinkan untuk menyembuhkan. Ia belum ridha jika
diobati dengan satu jenis obat. Hal ini tentu saja, kecil kemungkinan untuk
sembuh dari penyakit, sebab goyahnya keyakinan dalam diri akan sembuhnya suatu
penyakit. Oleh karena itu, tawakal dan ridha, dapat dijadikan salah satu terapi
untuk mempercepat proses penyembuhan, di samping tentu saja untuk pencegahan
penyakit
Tawakal juga memberikan pemahaman bahwa
tawakal itu terkait erat dengan ikhtiar atau dapat disimpulkan bahwa tidak ada
tawakal tanpa ikhtiar. Orang-orang yang memiliki sifat tawakal ini akan selalu
bisa bersyukur jika mendapat keberhasilan atau kebahagiaan dalam hidupnya
ataupun dalam usahanya. Ini dikarenakan dia sadar bahwa segala keberhasilannya
adalah atas kehendak dan rahmat dari Allah Swt.
Jika sedang mengalami kegagalan maka
orang yang tawakal akan selalu ikhlas dalam menerima kegagalannya tersebut
tanpa berlarut-larut dalam kesedihan dan merasa putus asa. karena orang yang
tawakal menyadari bahwa setiap keputusan dari allah merupakan keputusan yang
terbaik. Sikap tawakal ini harus ada dan ditanamkan pada setiap diri umat
muslim. karena sifat tawakal ini memiliki banyak sekali keuntungan bagi diri
kita agar terhindar dari sikap cepat putus asa dan sebagainya.
7.
Aspek Muqarabah
Muqarabah dinyatakan dalam Q.S.
al-Baqarah/2: 186
وَإِذَا
سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا
دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ (١٨٦)
Artinya: dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka
(jawablah), bahwasanya aku adalah dekat. aku mengabulkan permohonan orang yang
berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala
perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada
dalam kebenaran.
Ayat tersebut di atas menjelaskan
tentang cara membangun keakraban bersama Allah Swt, yaitu berdoa, menjalankan
perintah-Nya dan beriman kepada-Nya. Menurut Amin al-Najar, muqarabah
bersandar kepada-Nya semata, merasa tenteram bersama-Nya, dan meminta
pertolongan-Nya. Ketika seorang hamba telah berlaku seperti itu, maka Allah
akan menganugerahkan keakraban kepada-Nya. [15]
Kunci penyembuhan dengan metode ini
adalah doa, di mana Allah akan mengabulkan doa orang yang dekat dengan-Nya,
karena sesungguhnya Dia dekat. Sebagaimana diketahui bahwa kekuatan doa begitu
penting dalam terapi apa pun sebagai sugesti diri dan upaya meraih
anugerah Allah Swt.
8.
Aspek Muraqabah
Muraqabah ialah konsentrasi penuh dan
waspada terhadap segenap kekuatan jiwa, pikiran, imajinasi, dan tindakan; suatu
pengawasan diri yang cermat atas keadaan lahir dan batin sehingga menghasilkan
terpeliharanya suasana hati yang jernih dan sehat. Kejernihan dan kesehatan
hati terukur dan kemampuan hati untuk menjalankan fungsinya.[16]
Fungsi hati adalah hikmah dan pengenalan
Tuhan (ma’rifah). Tanpa hikmah dan ma’rifah, dapat muncullah
berbagal penyakit hati, seperti sombong, dengki, curang, dan berbagai bentuk
perasaan, pikiran, dan perilaku negatif lainnya. Muraqabah adalah terapi
yang bersifat pribadi (preventive) supaya hati bisa tetap menjalankan fungsinya.
Orang yang senantiasa dalam kondisi muraqabah berarti merasa selalu
terawasi dan terlihat oleh Tuhan. Pikiran dan perasaannya senantiasa terkontrol
dan bekerja dalam batas-batas ketentuan hukum, sehingga melahirkan perilaku
(moral) yang luhur. Berkaitan
dengan hati Allah
berfirman Q.S. Qaaf/50: 16
وَلَقَدْ
خَلَقْنَا الإنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ
إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ (١٦
Artinya: dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.
Dengan demikian, muraqabah
pangkal ketaatan dan bisa memelihara diri dari dosa, merasa malu kepada-Nya,
berhati-hati dalam berbicara, bersikap dan melakukan perbuatan, tidak pernah
merasa ditinggalkan Allah, ikhlas dalam menjalankan ketaatan dan bertaubat
ketika karena menjalankan kemaksiatan, bersyukur terhadap nikmat, sabar ketika
datang musibah, istiqamah dalam kebaikan dan sebagainya yang bernilai positif.
Kesadaran dalam bermuraqabah, akan
melahirkan prinsip, 1) Tuhan selalu hadir dalam hati, 2) malaikat yang mencatat
amal perbuatan manusia, 3) Alquran sebagai pedoman hidup, 4) Rasul sebagai
teladan, 5) teratur dalam segala hal, sebagai perwujudan dari iman kepada
takdir Allah Swt, baik yang bernilai positif maupun yang bernilai negatif.
Orang seperti ini akan terpancar akhlak karimah, dan terhindar dari perbuatan
dosa. Dan pada gilirannya akan sehat jasmani dan rohani.[17]
9.
Aspek Zikir
Zikir dalam arti sempit memiliki makna
menyebut asma-asma Allah dalam berbagai kesempatan. Sedangkan dalam arti luas
mengingat segala keagungan dan kasih sayang Allah Swt yang telah diberikan, serta
dengan menaati perintahnya dan menjauhi larangannya. Zikir dapat mengembalikan
kesadaran seseorang yang hilang, sebab aktivitas zikir mendorong seseorang
untuk mengingat, menyebut kembali hal-hal yang tersembunyi dalam hatinya. Zikir
juga mampu mengingatkan seseorang bahwa yang membuat dan menyembuhkan penyakit
hanyalah Allah Swt semata, sehingga zikir mampu memberi sugesti penyembuhannya.
Melakukan zikir sama halnya nilainya
dengan terapi rileksasi, yaitu satu bentuk terapi dengan menekankan upaya
mengantarkan pasien bagaimana cara ia harus beristirahat dan bersantai-santai
melalui pengurangan ketegangan atau tekanan psikologis. Kunci utama keadaan
jiwa mereka itu adalah karena melakukan zikir. Seperti firman Allah dalam Q.S. al-Ra’d /13:
28
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ
اللَّهِ أَلا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ (٢٨)
Artinya: (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.
Terapi dengan doa dan munajat. Doa
adalah permohonan kepada Allah Swt agar segala gangguan dan penyakit jiwa yang
dideritanya hilang. Allah yang memberikan penyakit dan Dia pula yang memberikan
kesembuhan. Doa dan munajah banyak didapat dalam setiap ibadah, baik dalam
shalat, puasa, haji, maupun dalam aktivitas sehari-hari. Agar doa dapat
diterima maka diperlukan syarat-syarat khusus, di antaranya dengan membaca
istigfar terlebih dahulu. Istigfar tidak hanya berarti memohon ampunan kepada
Allah, tetapi memiliki makna taubat. Dalam melakukan terapi ini, masing-masing
individu memiliki tingkat kualitas yang berbeda seiring pengetahuan,
pengalaman, dan pengamalan yang dimiliki. Tentunya hal itu mempengaruhi tingkat
kemujaraban terapi yang diberikan. Perbedaan itu dapat dipahami sebab dalam
Islam mempercayai adanya anugerah dan kekuatan agung di luar kekuatan manusia,
yaitu Allah swt.
BAB III
SIMPULAN
SIMPULAN
Eksistensi manusia yang terdiri dari jasmani dan rohani,
mental dan spiritual yang satu sama lain harus memiliki keseimbangan dalam interaksi
dengan lingkungan di mana ia berada. Kemampuan menyesuaikan diri dan mengontrol
emosi dalam menyikapi berbagai problema kehidupan menjadikan manusia rentan
pada gangguan jiwa seperti stres, cemas dan gelisah.
Kemajuan sains dan teknologi pada masyarakat modern dan
munculnya
pemahaman yang membuat manusia semakin jauh dari keagamaan dan lingkungan sosial sehingga mengangap dirinya adalah pencipta karya nyata. Berlandaskan pada akal (menuhankan rasio) sebagai penyelamat bagi dirinya menjadikan dirinya termasuk dalam kategori orang yang mengalami gangguan kesehatan jiwa. Hadirnya konsep tasawuf dalam terapi memberikan solusi bagi jiwa manusia. Melalui maqam taubat meluruskan jalan yang salah, maqam zuhud mengubah gaya hidup, dan maqam ridha konsep diri untuk lebih mengenal hakikat dari seorang hamba yang harus rela dan cinta pada ketentuan dari yang Maha Kuasa. Tasawuf dapat memberikan peranannya dalam menciptakan kesehatan jiwa manusia yang efektivitasnya nampak pada kelebihan utama spiritualitas yang menenangkan, dan mengajak manusia untuk kembali pada fitrahnya, sebagai manusia yang terdiri dari unsur jasmani dan rohani. Oleh karena itu dapat diharapkan pada masa yang akan datang, tasawuf menjadi rujukan utama, baik dalam arti secara utuh tasawuf, atau dalam bentuk pendamping dunia medis.
pemahaman yang membuat manusia semakin jauh dari keagamaan dan lingkungan sosial sehingga mengangap dirinya adalah pencipta karya nyata. Berlandaskan pada akal (menuhankan rasio) sebagai penyelamat bagi dirinya menjadikan dirinya termasuk dalam kategori orang yang mengalami gangguan kesehatan jiwa. Hadirnya konsep tasawuf dalam terapi memberikan solusi bagi jiwa manusia. Melalui maqam taubat meluruskan jalan yang salah, maqam zuhud mengubah gaya hidup, dan maqam ridha konsep diri untuk lebih mengenal hakikat dari seorang hamba yang harus rela dan cinta pada ketentuan dari yang Maha Kuasa. Tasawuf dapat memberikan peranannya dalam menciptakan kesehatan jiwa manusia yang efektivitasnya nampak pada kelebihan utama spiritualitas yang menenangkan, dan mengajak manusia untuk kembali pada fitrahnya, sebagai manusia yang terdiri dari unsur jasmani dan rohani. Oleh karena itu dapat diharapkan pada masa yang akan datang, tasawuf menjadi rujukan utama, baik dalam arti secara utuh tasawuf, atau dalam bentuk pendamping dunia medis.
DAFTAR PUSTAKA
Ahyani, Abdul Aziz. Psikologi Agama. Bandung: Sinar Baru
Algensindo, 1995.
Al-Barini, Abd al-Aziz. Terapi Mensucikan Hati. Diterjemahkan
oleh Ida Nursida dan Tiar AnwarBacthiar. Cet. 1. Bandung: PT. Mizan Pustaka,
2008.
Al-Jauziyah, Madarijus Salikin Ibn Qayyim. Jalan Menuju
Allah, diterjemahkan oleh Kathur Suhardi. Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 1998.
Al-Najar, Amir. Psikoterapi Sufistik dalam Kehidupan
Modern. Bandung: Hikmah, 2004.
Athaillah, Ibnu Athaillah al-Iskandariah Syekh ahamd ibn.
Diterjemahkan oleh Abu Jihaduddin, Mempertajam Mata Hati, diterjemahkan oleh Rifqi al-Hanif. T.k: Bintang Pelajar, 1990.
Hasyim, Muhammad. Dialog Antara Tasawuf dan Psikologi.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002.
Hendrawan, Sanerya. Spiritual Manajement. Cet. 1.
Bandung: PT.Mizan Pustaka, 2009.
Kartanegara, Mulyadhi. Menyelami Lubuk Tasawuf. Ciracas,
Jakarta: Erlangga, 2006.
Mazhahiri, Husain. Menelusuri Makna Jihad. Jakarta:Lentera,
2000.
Mujib, Abdul. Nuansa-nuansa Psikologi Islam. Jakarta:
PT Raja Grafindo Persada, 2002.
Solihin, M. dan Rosihon Anwar. Kamus Tasawuf. Bandung:
Remaja Rosdakarya, 2002.
Studi Pendidikan Agama Islam, Pembahasan Tasawuf, dalam http://www.masuk-islam.com/pembahasan-tasawwuf-lengkap-pengertian-tasawuf-dasar-dasar-tasawauf-tujuan
tasawuf- perkembangan-tasawauf-dll.html, (diakses tanggal 23 Februari 2017,
pukul 15.00).
Syukur, M. Amin. Sufi Healing. Nomor 8, volume 20.
Jakarta: IAIN Wali Songo, 2012.
Taslim, Abdullah. “Anugerah Penglihatan”, Majalah
Kesehatan Muslim, edisi 12 tahun 1 (2014).
[2] Abdul Mujib, Nuansa-nuansa Psikologi
Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2002), h. 207.
[3] Ibnu Athaillah al-Iskandariah Syekh
ahamd ibn Athaillah, diterjemahkan oleh Abu Jihaduddin, Mempertajam Mata
Hati, diterjemahkan oleh Rifqi al-Hanif, (t.k: Bintang Pelajar,
1990), h. 5.
[4] Studi Pendidikan Agama Islam, Pembahasan
Tasawuf, dalam http://www.masuk-islam.com/pembahasan-tasawwuf-lengkap-pengertian-tasawuf-dasar-dasar-tasawauf-tujuan
tasawuf- perkembangan-tasawauf-dll.html, (diakses tanggal 23 Februari 2017,
pukul 15.00).
[6] Madarijus Salikin Ibn Qayyim
al-Jauziyah, Jalan Menuju Allah, diterjemahkan oleh Kathur Suhardi,
(Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 1998), h. 233.
[8] Muhammad Hasyim, Dialog Antara
Tasawuf dan Psikologi, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002), h. 31.
[10] Al-Hujwiri, Kashf al-Mahjūb, (t.k.:
t.p., 1974), h. 404-405.
[11] Abdullah
Taslim, “Anugerah Penglihatan”, Majalah Kesehatan Muslim, edisi 12
tahun 1 (2014), h. 7.
[17]Abd al-Aziz al-Barini, Terapi Mensucikan Hati, diterjemahkan
oleh Ida Nursida dan Tiar AnwarBacthiar, cet.1, ( Bandung: PT. Mizan Pustaka,
2008), h. 478-491
Tidak ada komentar:
Posting Komentar