Senin, 03 Desember 2018

TEKNOLOGI INFORMASI ( TI ) DALAM PAI


Oleh: Nuthpaturahman

1. UNIVERSAL SKILL ABAD 21 DAN PEMBELAJARAN BERBASIS TI
1.1.    Universal Skill Abad 21
Skill menurut kamus bahasa Inggris artinya keterampilan, kecakapan, kepandaian, bakat atau kepiawaian, sedangkan universal artinya menyeluruh. Menurut Armala, skill adalah “kemampuan intelektual yang biasa berhubungan erat dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kemampuan ini diperoleh dengan cara belajar”[1] Sedangkan menurut Francis Green, “Skill is widely regarded as a focus for analytical research and as a core object for policy interventions in the modern global high-technology era.”[2]
Dari definisi dan paparan tersebut maka universal skill abad 21 dapat di maknai sebagai kemampuan dalam ilmu pengetahuan di bidang teknologi secara menyeluruh guna menghadapi dan mengikuti segala perubahan dan kemajuan TI di abad 21. Di era teknologi seperti jaman sekarang ini TI merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia, dengan adanya TI manusia bisa saling berkomunikasi dan saling berbagi informasi secara cepat dan tepat dengan waktu yang singkat.
Perkembangan Teknologi Informasi berjalan begitu cepat dan banyak memberikan kemudahan bagi manusia untuk melakukan komunikasi atau mendapatkan informasi tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu. Hampir semua aktivitas manusia selalu berhubungan dengan peralatan Teknologi Informasi. Di kantor atau lembaga pendidikan berbagai peralatan seperti komputer, laptop, dan internet juga sangat mendominasi cara kerja manusia secara modern dalam menghasilkan sebuah informasi.

1.2.     Hubungannya Dengan Pembelajaran Berbasis TI
Kecanggihan teknologi informasi memberikan tantangan besar bagi dunia pendidik dalam globalisasi tanpa batas di era informasi. Tantangan ini haruslah diterima sebagai hadiah besar bagi dunia pendidikan, kerena teknologi informasi dapat menjadi alat yang sangat berharga dan dapat  menghasilkan hasil yang luar biasa jika digunakan dan diintegrasikan dengan benar dan bijak dalam proses pembelajaran. Sebagaimana yang dipaparkan oleh Wan Noor Hazlina Wan Jusoh dan Kamaruzaman Jusoff, “Educational technology and multimedia can be valuable tools when they are integrated into the curriculum appropriately to achieve learning gains, particularly when they are combined with a twenty-first-century curriculum.”[3] Yang maksudnya adalah Teknologi dapat dijadikan sebagai pendidikan ketika teknologi tersebut diintegrasikan ke dalam kurikulum, terutama jika digabungkan ke dalam abad sekarang.
Pemanfaatan Teknologi informasi dalam pembelajaran dapat membuat pelajaran menjadi menyenangkan dan dapat meningkatkan minat siswa dalam mengikuti pelajaran tersebut. Di bandingkan dengan pembelajaran tradisional yang gurunya hanya ceramah sehingga dalam mengikuti proses belajar siswa cenderung pasif. Dalam hal ini seorang guru merupakan salah satu ujung tombak dalam proses pembelajaran bagi ketercapaiannya tujuan pendidikan, guru dituntut untuk terus meningkatkan kompetensi dan kualitas diri kemajuan teknologi di abad 21 ini.
Wan Noor Hazlina Wan Jusoh dan Kamaruzaman Jusoff kembali memaparkan, “Muslim educators need to equip themselves with ICT skills especially multimedia in order to cater the growth of students in all aspects; spiritual, intellectual, imaginative, physical, scientific, linguistic, both individually and collectively. If we fulfill this, only then we able to produce balanced students spiritually, physically and mentally...”.[4] Maksudnya adalah seorang pendidik muslim haruslah membekali diri dengan keterampilan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) untuk memenuhi pertumbuhan siswa dalam semua aspek; spiritual, intelektual, imajinatif, fisik, ilmiah, linguistik, baik individual dan kolektif hingga mampu menghasilkan keseimbangan rohani, fisik dan mental.
Pendapat senada juga diungkapkan oleh Stephanie Bell, “In the twenty-first century, students use computers in very advanced ways, but we must remember that they are still children and need guidance to use technology safely and effectively. Technology as a means, not an end, enables students to experiment with different technologies for all aspects of PBL. An authentic use of technology is highly engaging to students, because it taps into their fluency with computers”.[5] Maksudnya adalah teknologi bukanlah sekedar alat atau tujuan akhir, maka kita sebagai seorang guru yang berada pada abad ini haruslah bisa membimbing siswanya dalam penggunaan teknologi dengan aman dan efisien, sehingga siswa dapat bereksperimen dan tertarik dalam penggunaan komputer.
Perkembangan teknologi abad ini dalam dunia pendidikan telah banyak memperlihatkan keuntungan dan perubahan yang signifikan, sehingga daya imajinasi, kreativitas, fantasi, emosi peserta didik berkembang ke arah yang lebih baik. Selain itu pembelajaran dapat semakin berkembang dengan adanya inovasi elearning memudahkan proses pendidikan, serta memungkinkan berkembangnya kelas virtual atau kelas yang berbasis “teleconference” yang tidak mengharuskan seorang guru dan murid berada dalam satu ruangan.
Pembelajaran berbasis teknologi tersebut telah dibuktikan oleh Zulkifli. M (eds) pada penelitiannya yang berjudul “ON ICT-BASED LEARNING MODEL OF ISLAMIC EDUCATION AT SENIOR HIGH SCHOOL 4 KENDARI SOUTH-EAST SULAWESI PROVINCE”, yang berkesimpulan 87,88% siswa kelas XI IPS-2, 86,11% siswa kelas XI IPA-2 aktif dalam pembelajaran dan 85,69% siswa kelas XI IPS-2, 90,75% kelas XI IPA-2 menyatakan puas dan sangat senang dengan alasan bahwa pembelajaran PAI berbasis TIK dapat mempercepat pemahaman  materi, tepat, efektif, efisien, menarik dan menyenangkan karena diskusi dapat dilakukan secara online.[6]





2. PEMBELAJARAN TRADISIONAL,  WEB FACILITATED,  BLENDED DAN PEMBELAJARAN ONLINE

2.1.    Pembelajaran Tradisional
Pembelajaran tradisional adalah suatu model pembelajaran tanpa memanfaatkan fasilitas teknologi. Model ini berpusat pada guru dengan menempatkan peserta didik sebagai objek dalam proses belajar mengajar dan guru di tuntut menjadi serba bisa sebagai sumber belajar peserta didik. Sebagaimana yang dikatakan oleh Harasim (1995) “Collaborative learning is fundamentally different from the traditional "direct-transfer" or "one-way knowledge transmission" model in which the instructor is the only source of knowledge or skills”.[7]
2.2.    Web Facilitated
Web Facilitated merupakan proses pembelajaran dengan memanfaatkan fasilitas yang tersedia di  web online untuk membantu peningkatan penguasaan bahan ajar yang tidak terpenuhi dalam proses tatap muka, pemanfaatan ini lebih banyak dengan pengumpulan tugas.
Huaibo Xin, Monica Kempland dan Faustina H. Blankson mengemukakan, “The web facilitated section met face to face in class three hours each week, and used Blackboard Learning Management System (Blackboard 9.0 version) as an enhancement to the class; assignments, additional readings and other materials were provided to students through Blackboard to supplement traditional, in-class instruction. The hybrid section included 65% of coursework spent in a traditional face-to-face class setting, while additional web-facilitated lectures, assignments and activities were conducted using Blackboard. No face-to-face interactions were conducted for the online class, and all assignments, lectures and activities were presented via Blackboard”.[8]
Web sebagai pembelajaran yang dihasilkan berupa web yang memiliki beberapa fasilitas sepert forum diskusi atau obrolan. Forum diskusi disediakan untuk peserta didik dan guru, guru dapat menggunakan forum diskusi sebagai penyampai materi, sedangkan peserta didik dapat menanggapi dan memberikan tangapan atau komentar di dalam forum tersebut.
2.3.    Blended
Menurut Harton (2006) yang dikutip oleh Wajeha Thabit Al-Ani, blended learning adalah “as any mixture of any form of learning possible: classroom, virtual-classroom, or standalone learning”,[9] maksudnya adalah sebagai salah satu  campuran atau pemaduan dari segala bentuk pembelajaran yang memungkinkan, seperti pembelajaran di ruang kelas, kelas virtual, atau belajar sendiri.
Sedangkan Kaye Thorne dan David Mackey, kegiatan pembelajaran alami yang didukung dan ditingkatkan kemudian mencampurkannya dengan media cd-rom, virtual classroom,  voice-mail, e-mail, video streaming. [10]
Dari definisi tersebut blended adalah suatu model pembelajaran yang menggabungkan atau memadukan pembelajaran tradisional (face to face) dengan media teknologi. Media teknologi tersebut berupa komputer yang terhubung dengan internet (online) atau tidak (ofline), multimedia dan sebagainya.


2.4.    Pembelajaran Online
Pembelajaran online atau online learning merupakan bagian dari e-learning, akan tetapi online learning memiliki cakupan yang lebih sempit, yaitu suatu rangkaian aplikasi menggunakan media elektronik untuk membuat pembelajaran yang menggunakan  jaringan komputer yang terhubung dengan internet secara langsung dan global.
Menurut David Huni dan Seng Chee Tan, “Over the Internet, we are now beginning to see many community-based sites where opinions are being shared by experts and Opinionators' over all kinds of issues, products, and ideas. In other words, the Internet has now enabled differing and distributed expertise to be within reach as long as there are individuals, who, for some reasons or others, are willing to make a contribution. Very often, when we are able to attend to a problem On the job', the situated context through which the problem has arisen often provides the abundant contextualized engagement of tasks”.[11] Maksudnya adalah melalui sebuah Internet, kita bisa memulai kegiatan bersama oleh para ahli dan membicarakan masalah atau ide-ide. Dengan kata lain, bersedia untuk memberikan kontribusi untuk menghadiri masalah pada pekerjaan, konteks terletak di mana masalah timbul sering memberikan konseptualisasi.
Jeffrey W. Butler menambahkan, To engage teachers in this endeavor, we must show the strong advantages of teaching and learning online. Some advantages include providing course continuity for absent students, teachers or substitute teachers; automatic access to tutorials; unlimited student access to review content prior to testing; compatibility with traditional scheduling; a complete course is prepared for new teachers; differentiated instruction and exponential learning is facilitated; virtual field trips are possible; multi sensory learning is fostered; content can be customized for students' learning styles; and electronic feedback analyzes student involvement in the course”.[12] Maksudnya adalah terlibat guru dalam menunjukkan keuntungan dari pengajaran dan pembelajaran online. Beberapa keuntungan termasuk memberikan kursus kontinuitas untuk peserta didik. guru mengakses siswa dapat untuk meninjau konten sebelum pengujian; kompatibilitas dengan penjadwalan tradisional; kursus lengkap disiapkan oleh guru yang dibedakan dan pembelajaran eksponensial difasilitasi; kunjungan lapangan virtual dan disesuaikan untuk gaya belajar siswa; dan umpan balik keterlibatan siswa dalam kursus.



3. BLENDED LEARNING
Ketika merancang model blended learning yang perlu diperhatikan adalah pembagian dari beberapa materi pembelajaran yang mencampurkan tatap muka dengan online, yang biasanya 50%  tatap muka di kelas dan 50% dilakukan secara online.[13] Adapun model-model tersebut adalah:
3.1.    Face-to-Face Driver
“The teacher still delivers the majority of curriculum. . .,This model is quickly evolving beyond remediation to allow teachers to integrate Web 2.0 technology to more fully engage students in online discussions, activities, and projects beyond the physical classroom”.[14] Dalam model ini guru memberikan silabus atau materi pelajaran kepada peserta didik dan kemudian melibatkan tidak sekedar tatap muka di ruang kelas, melainkan melibatkan siswa dalam diskusi online atau kegiatan di luar kelas dengan mengintegrasikan teknologi berbasis web.
3.2.    Rotation
“This blends self-paced work online with face-to-face instruction. In this model, the face-to-face teacher usually oversees the online york” [15]
“In a blended learning rotation model, students shift between traditional face-to-face, synchronous instruction and online content delivery in their home, a computer lab, or in a classroom”.[16]
Seperti  namanya model ini berjalan secara rotasi atau berputar yaitu kegiatan pembelajaran yang terlebih dahulu dilakukan secara offline dan kemudian dilanjutkan dengan online dengan bantuan media berbasis web sambil bertatap muka di dalam kelas yang di bimbing dan diawasi oleh guru atau pendidik.
3.3.    Flex
“The flex blended learning model features a learning management interface that delivers most of the curricula, and teachers provide on-site support on an as-needed basis through tutoring and small-group sessions”.[17]
Dalam model ini tatap muka hanya merupakan pengayaan atau pelengkap saja yang dilakukan oleh guru yang tidak harus profesional dengan peserta didik yang telah membentuk kelompok diskusi. Kemudian setelah melakukan tatap muka tersebut barulah peserta membawanya atau mencampurnya dengan pembelajaran online yang dibimbing oleh guru yang profesional.
Hal yang serupa juga di ungkapkan oleh M. Gail Derrick, Michael K. Ponton dan Paul B. Carr, “The online and face-to-face research courses were designed to provide opportunities for students to work towards these larger goals. For example, students in the face-to-face instruction were provided opportunities to work collaboratively in groups while students in the distance courses worked independently in similar assignments.” [18]
3.4.    Online Lap
“Learning takes place on a school campus in a computer lab. Online teachers deliver curriculum via an online learning platform”.[19] Pada model ini pembelajaran berlangsung di dalam ruang laboratorium komputer dan silabus atau materi pelajaran di bagikan oleh pendidik secara online. Di dalam ruang laboratorium tersebut peserta didik dipantau atau diawasi oleh orang yang tidak perlu terlatih dalam pelajaran yang diajarkan, pengawasan berfungsi hanya untuk menjaga disiplin dalam belajar terus berjalan.
3.5.    Self-Blend
“Student comments on the Online Discussion Rating Forms, Course Evaluations, and Final Reflections indicate that students appreciated the online resources and the ability to search for resources themselves, while also seeking further structure in optional in-seat workshops.”[20]
Dalam model ini peserta didik dibekali terlebih dahulu oleh pendidik dengan pembelajaran online dan offline di ruang kelas, kemudian selanjutnya peserta didik mengikuti kursus secara online yang dilakukan di luar kelas, baik di rumah maupun di mana saja. Dalam kursus online yang dilakukan di luar kelas, peserta didik dapat saling berkomunikasi atau bertatap muka melalui grup/komunitas dengan fasilitas teleconference di kelas virtual yang telah dibentuk  sebelumnya di dunia maya (internet).
3.6.    Online Driver
Staker dan Horn (2012) yang dikutip oleh Erica Lynn Kolat mengatakan “whole-school experience in which within each course (e.g., math), students divide their time between attending a brick-and-mortar campus and learning remotely using online delivery of content and instruction.”[21]. Kemudian Kafer (2003) juga mengatakan “An enriched-virtual model allows students to complete online courses at home, supported by face-to-face teachers, as needed by students.” [22]
Dari paparan tersebut maka dapat dipaparkan bahwa pada model ini sebelumnya seorang guru atau pendidik memberikan pengarahan terlebih dahulu kepada peserta didik melalui tatap muka di dalam kelas, kemudian guru mengupluad materi pelajaran ke web atau internet yang selanjutnya murid atau peserta didik dapat mendownload materi tersebut dan mengikuti instruksi yang ada di dalamnya serta mempelajarinya secara mandiri di rumah masing-masing.
Setelah mempelajari materi yang diberikan oleh guru secara online, maka dilanjutkan dengan mendiskusikan atau mempelajari ulang materi tersebut ke ruang kelas bersama guru dengan tatap muka dan online.

Dalam blended learning ada sebuah model yang di sebut dengan flipped classroom atau membalik, model ini merupakan bagian dari model rotation. Menurut Staker dan Horn (2012) yang kutip oleh Erica Lynn Kolat, “In a flipped classroom, teachers provide resources (typically vendorcreated, or teacher-created videos) for students to access content that is typically delivered through direct instruction outside of class time.” [23]
Sedangkan menurut Jacob Lowell Bishop dan Matthew A Verleger, “We define the flipped classroom as an educational technique that consists of two parts: interactive group learning activities inside the classroom, and direct computer-based individual instruction outside the classroom.”[24]
 Perbedaan yang tampak dengan model tradisional adalah: pada model tradisional perkuliahan dilakukan di sekolah/kampus dan bookwork di lakukan di rumah, sebaliknya pada model perkuliahan dilakukan lebih aktif dilakukan rumah dan bookwork di lakukan di sekolah/kampus. Dalam flipped classroom ini pendidik/dosen menjelaskan materi perkuliahan melalui sebuah video yang dibuat sebelumnya dan peserta didik mengaksesnya dari jarak jauh. Dalam kata lain model ini dapat dikatakan sebagai perkuliahan jarak jauh secara online.
Menurut analisa penulis dari beberapa model blended learning dapat diimplikasikan ke dalam materi pembelajaran PAI adalah Flipped Classroom, Self-Blend dan Online Driver. Misalnya materi PAI Akhlak Tasawuf yang membahas tentang akhlak kepada Khalid dan akhlak kepada makhluk.



SILABUS KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI) AL WASHLIYAH BARABAI

1.      Mata Kuliah                :   Akhlak Tasawuf
2.      Jumlah SKS                :   2 SKS
3.      Jurusan/Prodi              :   Tarbiah dan Dakwah/PAI dan BPI
4.      Tujuan Mata Kuliah    :   Mahasiswa mampu memahami dan menerapkan akhlak Islami dengan  pemahaman dan penerapan yang luas serta mengenal dan memahami aliran-aliran dalam Tasawuf dan Tarekat sebagai proses menjadi sarjana muslim yang berakhlak mulia.
5.      Silabus

No.
Pertemuan ke
Kompetensi
Dasar
Materi Pokok
Indikator
1.
I
Mampu mendeskripsikan konsep dasar akhlak
Akhlak terhadap Khaliq dan Akhlak terhadap makhluk
Mahasiswa mampu memahami dan menjelaskan akhlak terhadap Khaliq dan akhlak terhadap makhluk

Berdasarkan silabus tersebut, maka mengimplikasikannya pada tiga model tersebut, sebagai berikut:
No.
Model
Caranya
1.
















2.















3.
Flipped Classroom
















Self-Blend















Online Driver
1.1.    Pendidik menyampaikan materi pokok tentang akhlak terhadap Khaliq dan akhlak terhadap makhluk secara tradisional/tatap muka (face-to-face).
1.2.    Peserta didik mengikuti perkuliahan secara online, di mana dalam perkuliahan tersebut peserta didik menerima penjelasan materi yang dibahas secara online dari internet, baik berupa artikel atau video (video berupa penjelasan tentang materi yang dibahas) melalui di website yang telah dibuat oleh pendidik.
1.3.    Setelah mendapatkan dan menerima penjelasan, peserta didik membawanya dalam kelas untuk dibahas bersama-sama sebagai pembuktian pemahaman mereka pada topik yang dibahas.

2.1.    Seorang pendidik membelakali dan menjelaskan akhlak terhadap Khaliq dan akhlak terhadap makhluk kepada peserta didik secara tatap muka (tradisional) dan secara online yang berlangsung di dalam kelas.
2.2.    Peserta didik ditugaskan mengikuti pembelajaran secara online atau kursus online di luar jam pelajaran kelas (di rumah atau di mana saja) pada sebuah web pembelajaran (elearrning) yang tata caranya sudah dijelaskan sebelumnya. Di sini peserta mengambil (mendownload) tugasnya masing-masing secara online baik berupa pertanyaan (test) atau makalah dan tugas itu dikumpulkan secara online (di upload) di web elearrning tersebut.

3.1.     Pendidik memaparkan dan menjelaskan secara umum tentang akhlak terhadap Khaliq dan akhlak terhadap makhluk kepada peserta didik.
3.2.     Peserta didik belajar dengan sendirinya secara online di sebuah web yang telah di buat oleh pendidik, di sini peserta didik berkolaborasi dalam belajar dan memahami penjelasan dari pendidik dari web tersebut.
3.3.     Pendidik memantau dan menilai perkembangan peserta didik dalam memahami materi yang dibahas.



4. SOSIAL MEDIA SEBAGAI PROSES PEMBELAJARAN PAI
Media pembelajaran memiliki dampak positif dan keuntungan, dimana proses pembelajaran terjadi tanpa adanya keterbatasan dalam hal waktu dan kondisi. Di samping itu prinsip pembelajaran dapat terpenuhi dan dapat memotivasi anak untuk aktif belajar.
Dan McCole (eds) dalam penelitiannya, “didapatkan data bahwa 52 orang dari 60 siswa atau sekitar (87%) memilih menggunakan jejaring sosial Facebook, dimana selama 1 semester siswa menulis 283 postingan yang menghasilkan 840 komentar. Hasil dari survei menunjukkan bahwa facebook membawa banyak dampak positif bagi siswa yaitu untuk pemahaman, Selain itu sebagian orang berpikir Facebook memiliki dampak positif pada hubungan siswa dengan siswa lain pendidik”.[25]Dan McCole (eds) menyatakan, “In a large study of over 36,000 college students from the U.S. and found that just over 90% of college students use online social networking sites, and of these, 97% use Facebook”.[26] Maksudnya adalah ditemukan lebih dari 36.000 mahasiswa dari Amerika Serikat dan Kanada bahwa lebih dari 90% siswa yang kuliah menggunakan situs online jejaring sosial, dan  97% menggunakan Facebook.
Kelebihan lain dari Facebook karena memiliki beberapa fitur yang bisa dimanfaatkan sebagai media pembelajaran di antaranya: 1) Fitur grup dan halaman, pengguna facebook dapat membuat dan bergabung pada sebuah grup/halaman yang mengarah ke grup/halaman yang telah dibuat oleh guru mata pelajaran, sehingga peserta didik dapat belajar tentang materi pelajaran dan guru pun kebanjiran pengunjung yang tidak lain adalah peserta dirinya sendiri. 2) Fitur chat, fitur ini dapat digunakan oleh peserta didik untuk saling berkomunikasi kepada  sesama pengguna facebook atau guru dan bisa menjadi media diskusi secara online. 3) Fitur Status Update, lewat fitur ini guru dapat mengupdate status berupa bahan ajar yang memungkinkan peserta didiknya dapat merespons dan memberi komentar terhadap update status gurunya. 4) Fitur Share, lewat fitur ini guru dapat men-share materi pelajar baik berupa link, video atau tulisan singkat yang kemudian diakses oleh peserta didik.




DAFTAR PUSTAKA

Armala. Meraih Sukses Itu Gampang. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, t.h.

Bell, Stephanie. “Project-Based Learning for the 21st Century: Skills For The Future”, The Clearing House, vol. 2, no. 83, (2010): h.42.

Bishop, Jacob Lowell. and Matthew A Verleger, “The Flipped Classroom: A Survey of the Research.” American Society for Engineering Education, 6219 (2013): h.5.

Boyer, Naomi. and Maxine Kelly, “Breaking The Institutional Mold: Blended Instruction, Self-Direction, And Multi-Level Adult Education.” International Journal of Self-Directed Learning, Vol. 2, No. 1 (2005): h. 12.

Butler, Jeffrey W. “Online Learning: Lessons Learned”, Techniques, vol. 85, no. 6 (2010): h. 34.

Derrick, M. Gail. Michael K. Ponton dan Paul B. Carr, “A Preliminary Analysis Of Learner Autonomy In Online And Face-To-Face Settings.” International Journal of Self-Directed Learning, Vol. 2, No. 1 (2005): h. 66.

Francis Green, “What is Skill? An Inter-Disciplinary Synthesis.” Disertasi, Centre for Learning and Life Chances in Knowledge Economies and Societies, Institure of Education University of London, London, 2011.

Huni, David. and Seng Chee Tan, “Ow The Internet Facilitates Learning As Dialog: Design Considerations for Online Discussions”, International Journal of Instructional Media, vol. 32, no. 1 (2005): h. 39.

Jusoh, Wan Noor Hazlina Wan and Kamaruzaman Jusoff. “Using Multimedia in Teaching Islamic Studies”, Journal Media and Communication Studies, vol. 1, no. 5 (2009): h. 086-088.

Kemplang, Huaibo Xin, Monica. and Faustina H. Blankson, “Adaptability and Replicability of Web-Facilitated, Hybrid, and Online Learning In An Undergraduate Exercise Psychology Course”, The Turkish Online Journal of Educational Technology, vol. 14, no. 1 (2015): h. 21.

Kolat, Erica Lynn. “Blended And Online Learning In K-12 Traditional School Districts Of Southwestern Pennsylvania.” Disertasi, Graduate Faculty of The School of Education, University Of Pittsburgh, 2014.

Lukman, Rebeka. and Majda Krajnc, “Exploring Non-traditional Learning Methods in Virtual and Real-world Environments”, Educational Technology & Society, vol. 15, no.1, (2012): h. 238.

M, Zulkifli. et al., eds., “On Ict-Based Learning Model Of Islamic Education At Senior High School 4 Kendari South-East Sulawesi Province,” Journal of Arts Science & Commerce, vol. iv, no. 4 (2013): h. 37-38.

McCole, Dan. et al., eds., “Integrating Facebook into the College Classroom: Student Perceptions and Recommendations for Faculty”, Nacta Journal (2014): h. 246-247.

Sahin, Mehmet. “Blended Learning Model In Mechanical Manufacturing Training,” African Journal of Business Management, vol. 4, no. 12 (18 September 2010): h. 2521.

Thorne, Kaye. and David Mackey. Everything You Ever Needed to Know About Training. London: Kogan Page Publishers, 2007.

Tucker, Catlin R. Blended Learning in Grades 4–12. London: Corwin Press, 2012.


Wajeha Thabit Al-Ani, “Blended Learning Approach Using Moodle and Student’s Achievement at Sultan Qaboos University in Oman,” Journal of Education and Learning, vol. 2, no. 3 (2013): h. 96.



[1] Armala, Meraih Sukses Itu Gampang, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, t.h.), h.13.
[2] Francis Green, “What is Skill? An Inter-Disciplinary Synthesis” (Disertasi, Centre for Learning and Life Chances in Knowledge Economies and Societies, Institure of Education University of London, London, 2011), h. 4.
[3] Wan Noor Hazlina Wan Jusoh and Kamaruzaman Jusoff, “Using Multimedia in Teaching Islamic Studies”, Journal Media and Communication Studies, vol. 1,  no. 5 (2009): h. 086-087.
[4]  Ibid, h. 088.
[5] Stephanie Bell, “Project-Based Learning for the 21st Century: Skills For The Future”, The Clearing House, vol. 2, no. 83, (2010):  h.42.
[6] Zulkifli. M, et al., eds., “On Ict-Based Learning Model Of Islamic Education At Senior High School 4 Kendari South-East Sulawesi Province,” Journal of Arts Science & Commerce, vol. iv, no. 4 (2013): h. 37-38.
[7] Rebeka Lukman and Majda Krajnc, “Exploring Non-traditional Learning Methods in Virtual and Real-world Environments”, Educational Technology & Society, vol. 15, no.1, (2012): h. 238.
[8] Huaibo Xin, Monica Kemplang and Faustina H. Blankson, “Adaptability and Replicability of Web-Facilitated, Hybrid, and Online Learning In An Undergraduate Exercise Psychology Course”,  The Turkish Online Journal of Educational Technology, vol. 14, no. 1 (2015): h. 21.
[9] Wajeha Thabit Al-Ani, “Blended Learning Approach Using Moodle and Student’s Achievement at Sultan Qaboos University in Oman,” Journal of Education and Learning, vol. 2, no. 3 (2013): h. 96.
[10] Kaye Thorne and David Mackey, Everything You Ever Needed to Know About Training, (London: Kogan Page Publishers, 2007), h.113.
[11] David Huni and Seng Chee Tan, “Ow The Internet Facilitates Learning As Dialog: Design Considerations for Online Discussions”, International Journal of Instructional Media, vol. 32, no. 1 (2005): h. 39.
[12] Jeffrey W. Butler, “Online Learning: Lessons Learned”, Techniques, vol. 85, no. 6 (2010): h. 34.
[13] Mehmet Sahin, “Blended Learning Model In Mechanical Manufacturing Training,” African Journal of Business Management, vol. 4, no. 12 (18 September 2010): h. 2521.
[14] Catlin R.Tucker, Blended Learning in Grades 4–12,(London: Corwin Press, 2012), h.13-14.
[15] Ibid.
[16] Erica Lynn Kolat, “Blended And Online Learning In K-12 Traditional School Districts Of Southwestern Pennsylvania” (Disertasi, Graduate Faculty of The School of Education, University Of Pittsburgh, 2014), h. 41.
[17] Ibid.
[18] M. Gail Derrick, Michael K. Ponton dan Paul B. Carr, “A Preliminary Analysis Of Learner Autonomy In Online And Face-To-Face Settings.” International Journal of Self-Directed Learning, Vol. 2, No. 1 (2005): h. 66.
[19] Catlin R.Tucker, Blended Learning in Grades, . . . , h.13-14.
[20] Naomi Boyer and Maxine Kelly, “Breaking The Institutional Mold: Blended Instruction,
Self-Direction, And Multi-Level Adult Education.” International Journal of Self-Directed Learning, Vol. 2, No. 1 (2005): h. 12.
[21] Erica Lynn Kolat, “Blended And Online Learning In K-12 Traditional School Districts Of Southwestern Pennsylvania” . . . , h. 44.
[22] Ibid, h. 45.
[23] Erica Lynn Kolat, “Blended And Online Learning In K-12 Traditional School Districts Of Southwestern Pennsylvania” . . . , h. 42.
[24] Jacob Lowell Bishop and Matthew A Verleger, “The Flipped Classroom: A Survey of the Research.” American Society for Engineering Education, 6219 (2013): h.5.
[25] Dan McCole, et al., eds., “Integrating Facebook into the College Classroom: Student Perceptions and Recommendations for Faculty”, Nacta Journal (2014): h. 246-247.

[26] Ibid, h. 244.

Artikel Terbaru

HAKIKAT BELAJAR Oleh: Nuthpaturahman _________________________ BAB I PENDAHULUAN A.     Latar Belakang Masa...

Arsip