BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Masalah belajar dapat dikatakan sebagai
tindak usaha pendidikan setiap orang. Namun, tidak setiap orang mengetahui apa
belajar itu. Sebagian orang beranggapan bahwa belajar adalah semata-mata
mengumpulkan atau menghafal fakta-fakta yang tersaji dalam bentuk materi
pelajaran. Di samping itu, ada pula sebagian orang yang memandang belajar
sebagai latihan belaka seperti yang tampak pada latihan membaca dan menulis.
Belajar
merupakan peranan penting dalam kehidupan berbangsa dan bertanah air serta
merupakan hal yang penting karena pendidikan bisa mengubah perilaku seseorang,
bilamana dalam proses pelaksanaannya berjalan dengan baik.
Jika manusia ingin mempertahankan
hidupnya, maka ia haruslah tubuh dan berkembang. Lalu bagaimana agar bisa
tumbuh dan berkembang?, jawabannya adalah dengan belajar. Belajar merupakan
unsur yang sangat fundamental dalam proses pendidikan, karena dalam pencapaian
tujuan pendidikan amat tergantung pada proses belajar, baik di sekolah maupun
di lingkungan.
Sebenarnya dari kata belajar itu ada
pengertian yang tersimpan di dalamnya. Pengertian dari kata belajar itulah yang
perlu diketahui, sehingga tidak melahirkan pemahaman yang keliru mengenai
masalah belajar.
BAB II
HAKEKAT BELAJAR
A.
Belajar Menurut Islam
Belajar menurut Islam adalah sepanjang
masa tanpa ada batasan lingkungan dan waktu, Sebagaimana Hadist Rasulullah saw:
أُطْلُبُوا الْعِلْمَ
مِنْ المَهْدِ إِلَى الْلَحَد
Artinya: Tuntutlah ilmu dari buaian
hingga liang lahad
Juga sebuah pepatah Arab yang mengatakan:
أُطْلُبُ الْعِلْمَ وَلَوْ
بِي الصِين
Artinya: Tuntutlah ilmu walau sampai
ke negeri Cina
Dari kedua pernyataan tersebut maka maksudnya adalah kita dapat belajar kapan saja dan di mana saja. Dalam Islam tidak dijelaskan secara rinci tentang proses belajar, akan tetapi lebih ditekankan terhadap fungsi akal dan indera sebagai alat yang penting dalam proses belajar. Hal ini disinggung dalam Alquran tentang fungsi akal dalam meraih pengetahuan, QS. az-Zumar/39: 9.
أَمَّنْ
هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الآخِرَةَ وَيَرْجُو
رَحْمَةَ رَبِّهِ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لا
يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الألْبَابِ
Artinya: "Adakah sama
orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?"
Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.
Ayat ini menerangkan bahwa kedudukan orang yang berilmu
memiliki kedudukan yang tinggi bila dibandingkan orang yang tidak berilmu, dan
hanya orang yang berakal yang dapat menerima pengetahuan/pengajaran melalui
proses belajar. Berkaitan dengan penciptaan manusia pertama yaitu Adam as yang
menerima pengajaran dan belajar langsung dari Allah sebagaimana yang dijelaskan
dalam QS. al-Baqarah/2: 31.
وَعَلَّمَ آدَمَ الأسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى
الْمَلائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَؤُلاءِ إِنْ كُنْتُمْ
صَادِقِينَ
Artinya: dan Dia mengajarkan kepada Adam Nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada Para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang benar orang-orang yang benar!"
Ayat tersebut menggambarkan bahwa Adam as sebagai makhluk yang memiliki akal serta memiliki kedudukan
tertinggi dibandingkan makhluk lain ciptaan-Nya dapat menyebutkan dan
menjelaskan nama-nama benda dari hasil belajar kepada Allah swt, berbeda dengan
malaikat yang tidak dapat menyebutkannya satu-persatu.
Allah juga berfirman dalam QS. al-Israa’/17:
36.
Artinya: dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.
وَعَلَّمَ آدَمَ الأسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى
الْمَلائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَؤُلاءِ إِنْ كُنْتُمْ
صَادِقِينَ
Artinya: dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.
Dalam ayat tersebut Allah menegaskan bahwa sebagai manusia
janganlah membiasakan diri tidak mengetahui tentang apa yang seharusnya dapat
diketahui, yang tentunya semua itu dapat dilakukan melalui proses belajar.
Allah juga memberikan potensi kepada manusia yang bersifat jasmani dan rohani
berupa mata, telinga dan hati yang berfungsi sebagai alat untuk melakukan
proses belajar hingga dapat mengembang pengetahuan guna kemaslahatan umat
manusia di muka bumi sebagaimana tugasnya sebagai Khalifatullah (wakil
Allah) yang ditegaskan oleh Allah dalam surat al-Anbiyaa’/21: 107.
وَمَا
أَرْسَلْنَاكَ إِلا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
Artinya: Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.
Adapun fungsi potensi-potensi tersebut diungkapkan oleh
Muhibbin Syah, yaitu:
1.
Penglihatan, yakni
alat fisik yang berguna untuk menerima informasi visual.
2.
Pendengaran, yakni
alat fisik yang berguna untuk menerima informasi verbal.
3.
Akal, yakni potensi
kejiwaan manusia berupa sistem psikis yang kompleks untuk menyerap, mengolah,
menyimpan, dan memproduksi kembali item-item informasi dan pengetahuan (ranah
kognitif).[1]
Potensi tersebut saling berhubungan satu sama lain, yang
sudah tertanam sejak manusia berada dalam kandungan ibunya. maka proses belajar
manusia dalam kandungan tergantung pendidik pertama yaitu ibunya yang
mengandung, kemudian ayahnya. Firman Allah dalam QS. an-Nahl/16:
78:
وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالأبْصَارَ وَالأفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Artinya: dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam Keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.
Hal tersebut senada dengan apa yang diungkapkan oleh Kamrani
Buseri, bahwa “pembelajaran dapat diberikan kepada anak semenjak masih dalam
kandungan, tepat setelah usia kandungan 120 hari (4 bulan) karena pada saat
itulah mulai tumbuh potensi untuk melihat, mendengar, merasa dan berpikir.”[2]
Sebagaimana yang digambarkan dalam QS. as-Sajdah ayat/32:
9.
ثُمَّ سَوَّاهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِنْ رُوحِهِ وَجَعَلَ لَكُمُ
السَّمْعَ وَالأبْصَارَ وَالأفْئِدَةَ قَلِيلا مَا تَشْكُرُونَ (٩)
Artinya: kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya
dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu
sedikit sekali bersyukur.
Dalam belajar untuk menuntut ilmu tidak dapat ditempuh dengan
santai atau hanya berdiam diri saja, akan tetapi berusahalah untuk bertanya
bila tidak tahu ataupun mengharuskan kita untuk bepergian.
Artinya: Barang siapa yang tidak mengetahui tentang sesuatu maka sebaiknya bertanya. Barang siapa yang tidak menemukan guru maka sebaiknya bepergian.
Dari pernyataan tersebut menyatakan bahwa belajar merupakan hal yang sangatlah penting
dan tidak dapat diremehkan begitu saja, karena dengan belajar kita bisa
mendapatkan ilmu pengetahuan. Ibnu Ruslan yang dikutip oleh M. Syafi’i Hamdani
mengatakan:
Artinya: setiap orang yang beramal tanpa ilmu, maka segala
amalnya ditolak dan tidak diterima.
Imam Syafi’i dalam syairnya mengatakan:
Imam Syafi’i dalam syairnya mengatakan:
Artinya: “dan barang siapa yang tidak merasakan pahitnya menuntut ilmu walau sekejap mata, niscaya dia akan merasakan kebodohan sepanjang hidupnya.”
Dari pendapatnya Ibnu Ruslan dan Imam Syafi’i
dapat disimpulkan bahwa manusia yang tidak mau belajar dan menuntut ilmu, maka
hidupnya ada dalam kebodohan dan amal ibadahnya sia-sia (tidak bernilai) di
mata Allah swt.
B.
Proses Belajar
Hakikat merupakan hati atau jiwa
manusia, hakikat merupakan diri manusia. Sedang syariatnya adalah tubuh
lahiriah manusia dan pakaian yang dikenakan di tubuh.[6]
Sedangkan menurut Juraid, “hakikat tidak
lain adalah sesuatu yang mesti ada pada sesuatu yang
jikalau sesuatu itu tidak ada.”[7]
Maka belajar pada hakikatnya adalah “perubahan” yang terjadi pada diri
seseorang setelah berakhirnya aktivitas belajar. Belajar yang dimaksud berkenaan
dengan perubahan-perubahan pada diri orang yang belajar, apakah itu mengarah
kepada yang lebih baik atau pun yang kurang baik, direncanakan atau tidak. Akan
tetapi tidak semua perubahan dapat dikategorikan sebagai hasil dari belajar,
seperti berubahan fisik atau gila.
Perubahan dan pengalaman hampir selalu
ditekankan dalam definisi belajar yang diungkapkan oleh para ahli. Di antaranya
menurut Andrew, “learning is interpreted as any change in behaviour brought
about by experience.”[8]
Maksudnya adalah belajar diartikan
sebagai perubahan dalam perilaku
dibawa oleh pengalaman. Sedangkan
menurut Witherington yang dikutip oleh Nana Syaodih, “belajar merupakan
perubahan dalam kepribadian, yang baru, yang berbentuk keterampilan, sikap,
kebiasaan, pengetahuan dan kecakapan.”[9]
Dalam proses belajar
sangat didukung oleh fungsi psikomotor yang meliputi penglihatan, pendengaran
dan pengucapan. Belajar juga di dukung oleh fungsi memori (ingatan), memori
berfungsi untuk menangkap informasi dari stimulus (lingkungan internal atau eksternal yang dapat diketahui) yang merupakan sistem penyimpanan informasi dan
pengetahuan yang terdapat di dalam otak manusia.
Harry Morgan
mengatakan, “learning is deemed to have occurred when information is stored in
long-term memory. In education, learning must be confirmed by information that
is retrieved from long term memory.”[10]
Maksudnya adalah belajar dianggap sebagai proses terjadinya penyimpanan
informasi dalam ingatan jangka panjang dan
dalam proses pendidikan serta belajar
harus disertai dengan informasi
yang diperoleh dari ingatan jangka panjang.
Sebuah pertanyaan
bagaimana hubungan memori dengan belajar?, maka jawabannya adalah; **Seseorang ketika
belajar tentang seorang Agama, maka informasi pertama yang diterima akan masuk
ke dalam short term memory (memori
jangka pendek) melalui indera penglihatan ataupun pendengaran, kemudian informasi
tersebut diberi dengan simbol I-S-L-A-M. Setelah penyimbolan selesai, maka
informasi tersebut akan tersimpan di long term
memory (memori jangka panjang). Suatu saat
ketika di tanya “Apa agamamu?” maka memori akan merespons dan memproses mencari kumpulan informasi
yang telah tersimpan dalam long term memory. Setelah informasi yang
relevan berhasil ditemukan, maka seseorang itu akan mudah menjawabnya dengan
kata “Islam agamaku”.
Proses pencarian
atau respons seperti ini disebut dengan istilah recall (pemulihan) atau mendapatkan kembali informasi/pengetahuan yang telah
tersimpan sebelumnya. Lihat diagram berikut:
Perbedaan short term memory dan long term memory dapat dilihat dari tabel
berikut:
No.
|
Jenis
|
Short Term Memory
|
Long Term Memory
|
1.
|
Input
|
Sangat cepat
|
Relatif lambat
|
2.
|
Kapasitas
|
Terbatas
|
Tidak terbatas
|
3.
|
Durasi
|
Kisaran beberapa
detik[11]
(bila diulang = menyimpan lebih lama)
|
Tidak terbatas
|
4.
|
Retrieval/Pemulihan
|
Langsung
|
Tergantung
prosesnya
|
Berhasil atau
tidaknya proses belajar dipengaruhi beberapa faktor, yaitu:
1. Faktor fisiologis
Faktor ini berhubungan dengan kondisi
fisik/jasmani seseorang. Sehat atau bugarnya dapat berpengaruh positif terhadap
proses belajar, akan tetapi sebaliknya lemah atau sakitnya fisik seseorang bisa
saja dapat menghambat tercapainya hasil belajar yang maksimal.
2.
Faktor psikologis
Beberapa faktor psikologis yang utama
memengaruhi proses belajar adalah kecerdasan, motivasi, minat, sikap, dan
bakat.
3. Faktor Lingkungan
Adapun faktor
lingkungan yang dimaksud dibagi menjadi 2 yaitu: lingkungan sosial, seperti
lingkungan keluarga, masyarakat dan sekolah dan lingkungan nonsosial, yakni
kondisi alam sekitar (udara, cahaya, suhu dan lain-lain).
Dari beberapa
tinjauan tentang belajar yang telah diuraikan di atas penulis menyimpulkan,
belajar ditinjau dari psikologi Islam merupakan proses perubahan seseorang yang
diawali dengan niat untuk memperoleh pengetahuan/ilmu dengan sebuah usaha melalui
potensi-potensi yang tertanam sejak dalam kandungan ke arah yang lebih baik
atau benar. Sehingga dirinya menjadi bernilai yang membawa kemaslahatan bagi umat
manusia.
Adapun yang dimaksud dengan niat dalam
pandangan islam adalah niat yang mendatangkan keikhlasan
dan kesadaran yang tinggi bukan karena duniawi tapi karena kesadaran
rohaniahnya. Niat yang benar akan memunculkan motivasi yang benar pula untuk
beraktivitas, sehingga bernilai di mata manusia maupun di mata Allah swt.
BAB III
SIMPULAN
Belajar secara umum
diartikan sebagai perubahan. Akan tetapi tidak semua perubahan
dapat dikategorikan sebagai hasil dari proses belajar, seperti berubahan fisik
(kurangnya salah satu anggota badan, patah tulang) atau gila. Belajar yang
dimaksud berkenaan dengan perubahan-perubahan pada diri orang yang belajar,
baik direncanakan atau tidak.
Belajar sangat didukung oleh fungsi
psikomotor yang meliputi penglihatan, pendengaran, pengucapan dan memori (ingatan) serta akal yang merupakan potensi
alamiah sejak dalam kandungan, seperti yang singgung dalam QS. as-Sajdah
ayat/32: 9 dan QS. an-Nahl/16: 78. Potensi tersebut bekerja dengan menerima informasi pertama yang didapat indera jasmani masuk ke
dalam short term memory dan selanjutnya
informasi tersebut akan tersimpan di long term memory, dan
kemudian ketika informasi tersebut diperlukan maka akan dipulihkan (recall)
untuk mendapatkan kembali informasi/pengetahuan yang telah tersimpan
sebelumnya.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Jarallah, Adullah bin Jarallah. al-‘Abiyat
al-Jâmi’ah Lilmasâ’il al-Nafi’ah. www.saaid.net/book/11/4313.doc (27
September 2015).
Baharun, Ali. Al-Fawaid Al-Mukhtarah. Bangil: PP.
Dalwa, 2012.
Buseri, Kamrani. Dasar, Asas dan Prinsip Pendidikan
Islam. Cet.1. Yogyakarta: Aswaja Pressindo, 2014.
Colman, Andrew M. What is
Psychology. Cet. 2. New York: Kogan Page Ltd, 1999.
Hamdani, M. Stafi’i. Taudhîhul Adillah. Jakarta: PT.
Elek Media Komputindo-Gramedia, 2010.
Hening, Cipta. Di Dalam Diri Ada Allah. Jakarta:
PT Elek Media Komputindo, 2010.
Latief, Juraid Abdul. Manusia, Filsafat, dan Sejarah.
Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2006.
Morgam, Harry. Real Learning: A Bridge to Cognitive Neuroscience. Maryland: R&L Publishing Grup, 2004.
Mushthawi, Abdurrahman. Diwan al-Imâm Asy-Syâfi’î. Beirut: Dar El-Marefah, 2005.
Santrock, John W. Adolescence Perkembangan Remaja,
diterjemahkan oleh Shinto B. Adelar dan Sherly Saragih, (Jakarta: Erlangga,
2003).
Sukmadinata, Nana Syaodih. Landasan Psikologi Proses
Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2009.
[1]
Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, (Bandung,
PT. Remaja Rosdakarya: 2010), h.99.
[2]
Kamrani Buseri, Dasar, Asas dan Prinsip Pendidikan Islam, Cet. 1, (Yogyakarta:
Aswaja Pressindo, 2014), h.111.
[3] Adullah bin Jarallah Al-Jarallah, Kitab al-‘Abiyat al-Jàmi’ah Lilmasà’il al-Nafi’ah, h. 4. www.saaid.net/book /11/4313.doc (27 September
2015).
[4] M.
Stafi’i Hamdani, Taudhîhul Adillah, (Jakarta: PT Elek Media
Komputindo-Gramedia, 2010), h. 58.
[5] Abdurrahman
Mushthawi, Diwan al-Imâm Asy-Syâfi’î, (Beirut: Dar El-Marefah, 2005),
h.37.
[6] Cipta
Hening, Di Dalam Diri Ada Allah, (Jakarta: PT Elek Media Komputindo,
2010), h. 44.
[7]
Juraid Abdul Latief, Manusia, Filsafat, dan Sejarah, (Jakarta: PT. Bumi
Aksara, 2006), h. 14.
[8] Andrew M. Colman, What is Psychology, Cet. 2, (New York:
Kogan Page Ltd, 1999), h. 91.
[9] Nana
Syaodih Sukmadinata, Landasan Psikologi Proses Pendidikan, (Bandung: PT.
Remaja Rosdakarya, 2009), h.156.
[10] Harry Morgam, Real Learning: A Bridge to
Cognitive Neuroscience, (Maryland: R&L Publishing Grup, 2004), h. 94.
[11] John
W. Santrock, Adolescence Perkembangan Remaja, diterjemahkan oleh Shinto
B. Adelar dan Sherly Saragih, (Jakarta: Erlangga, 2003), h. 138.


