Jumat, 11 Juni 2021

HAKIKAT BELAJAR


HAKIKAT BELAJAR


Oleh:
Nuthpaturahman
_________________________



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Masalah belajar dapat dikatakan sebagai tindak usaha pendidikan setiap orang. Namun, tidak setiap orang mengetahui apa belajar itu. Sebagian orang beranggapan bahwa belajar adalah semata-mata mengumpulkan atau menghafal fakta-fakta yang tersaji dalam bentuk materi pelajaran. Di samping itu, ada pula sebagian orang yang memandang belajar sebagai latihan belaka seperti yang tampak pada latihan membaca dan menulis.
Belajar merupakan peranan penting dalam kehidupan berbangsa dan bertanah air serta merupakan hal yang penting karena pendidikan bisa mengubah perilaku seseorang, bilamana dalam proses  pelaksanaannya berjalan dengan baik.
Jika manusia ingin mempertahankan hidupnya, maka ia haruslah tubuh dan berkembang. Lalu bagaimana agar bisa tumbuh dan berkembang?, jawabannya adalah dengan belajar. Belajar merupakan unsur yang sangat fundamental dalam proses pendidikan, karena dalam pencapaian tujuan pendidikan amat tergantung pada proses belajar, baik di sekolah maupun di lingkungan.
Sebenarnya dari kata belajar itu ada pengertian yang tersimpan di dalamnya. Pengertian dari kata belajar itulah yang perlu diketahui, sehingga tidak melahirkan pemahaman yang keliru mengenai masalah belajar.






BAB II
HAKEKAT BELAJAR

A.    Belajar Menurut Islam
Belajar menurut Islam adalah sepanjang masa tanpa ada batasan lingkungan dan waktu, Sebagaimana Hadist Rasulullah saw:
أُطْلُبُوا الْعِلْمَ مِنْ المَهْدِ إِلَى الْلَحَد
Artinya: Tuntutlah ilmu dari buaian hingga liang lahad

Juga sebuah pepatah Arab yang mengatakan:
أُطْلُبُ الْعِلْمَ وَلَوْ بِي الصِين
Artinya: Tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri Cina

Dari kedua pernyataan tersebut maka maksudnya adalah kita dapat belajar kapan saja dan di mana saja. Dalam Islam tidak dijelaskan secara rinci tentang proses belajar, akan tetapi lebih ditekankan terhadap fungsi akal dan indera sebagai alat yang penting dalam proses belajar. Hal ini disinggung dalam Alquran tentang fungsi akal dalam meraih pengetahuan, QS. az-Zumar/39: 9.


أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الألْبَابِ
Artinya: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.
Ayat ini menerangkan bahwa kedudukan orang yang berilmu memiliki kedudukan yang tinggi bila dibandingkan orang yang tidak berilmu, dan hanya orang yang berakal yang dapat menerima pengetahuan/pengajaran melalui proses belajar. Berkaitan dengan penciptaan manusia pertama yaitu Adam as yang menerima pengajaran dan belajar langsung dari Allah sebagaimana yang dijelaskan dalam QS. al-Baqarah/2: 31.


وَعَلَّمَ آدَمَ الأسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَؤُلاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ  

Artinya: dan Dia mengajarkan kepada Adam Nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada Para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang benar orang-orang yang benar!"
Ayat tersebut menggambarkan bahwa Adam as sebagai makhluk yang memiliki akal serta memiliki kedudukan tertinggi dibandingkan makhluk lain ciptaan-Nya dapat menyebutkan dan menjelaskan nama-nama benda dari hasil belajar kepada Allah swt, berbeda dengan malaikat yang tidak dapat menyebutkannya satu-persatu.
Allah juga berfirman dalam QS. al-Israa’/17: 36.


وَعَلَّمَ آدَمَ الأسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَؤُلاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ 

Artinya: dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.

Dalam ayat tersebut Allah menegaskan bahwa sebagai manusia janganlah membiasakan diri tidak mengetahui tentang apa yang seharusnya dapat diketahui, yang tentunya semua itu dapat dilakukan melalui proses belajar. Allah juga memberikan potensi kepada manusia yang bersifat jasmani dan rohani berupa mata, telinga dan hati yang berfungsi sebagai alat untuk melakukan proses belajar hingga dapat mengembang pengetahuan guna kemaslahatan umat manusia di muka bumi sebagaimana tugasnya sebagai Khalifatullah (wakil Allah) yang ditegaskan oleh Allah dalam surat al-Anbiyaa’/21: 107.


وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ    

  Artinya: Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.

Adapun fungsi potensi-potensi tersebut diungkapkan oleh Muhibbin Syah, yaitu:
1.      Penglihatan, yakni alat fisik yang berguna untuk menerima informasi visual.
2.      Pendengaran, yakni alat fisik yang berguna untuk menerima informasi verbal.
3.      Akal, yakni potensi kejiwaan manusia berupa sistem psikis yang kompleks untuk menyerap, mengolah, menyimpan, dan memproduksi kembali item-item informasi dan pengetahuan (ranah kognitif).[1]

Potensi tersebut saling berhubungan satu sama lain, yang sudah tertanam sejak manusia berada dalam kandungan ibunya. maka proses belajar manusia dalam kandungan tergantung pendidik pertama yaitu ibunya yang mengandung, kemudian ayahnya. Firman Allah dalam QS. an-Nahl/16: 78:

وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالأبْصَارَ وَالأفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ 

Artinya: dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam Keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.
Hal tersebut senada dengan apa yang diungkapkan oleh Kamrani Buseri, bahwa “pembelajaran dapat diberikan kepada anak semenjak masih dalam kandungan, tepat setelah usia kandungan 120 hari (4 bulan) karena pada saat itulah mulai tumbuh potensi untuk melihat, mendengar, merasa dan berpikir.”[2] Sebagaimana yang digambarkan dalam QS. as-Sajdah ayat/32: 9.
ثُمَّ سَوَّاهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِنْ رُوحِهِ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالأبْصَارَ وَالأفْئِدَةَ قَلِيلا مَا تَشْكُرُونَ  (٩) 
 
Artinya: kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.

Dalam belajar untuk menuntut ilmu tidak dapat ditempuh dengan santai atau hanya berdiam diri saja, akan tetapi berusahalah untuk bertanya bila tidak tahu ataupun mengharuskan kita untuk bepergian.
مَنْ لَمْ يَكُنْ يَعْلَمُ ذَا فَلْيَسْـأَلِ.  مَنْ لَمْ يَجِدْ مُعَلِّمًا فَلْيَرْحَلِ [3]

Artinya: Barang siapa yang tidak mengetahui tentang sesuatu maka sebaiknya bertanya. Barang siapa yang tidak menemukan guru maka sebaiknya bepergian.

Dari pernyataan tersebut menyatakan bahwa belajar merupakan hal yang sangatlah penting dan tidak dapat diremehkan begitu saja, karena dengan belajar kita bisa mendapatkan ilmu pengetahuan. Ibnu Ruslan yang dikutip oleh M. Syafi’i Hamdani mengatakan:
فَ كُلُّ  مَنْ  بِغَيْرِ  عِلْمٍ  يَعْمَلُ   :  اَعْمَلُهُ  مَرْدُوْدَةٌ  لاَتُقْبَلُ    [4]
Artinya: setiap orang yang beramal tanpa ilmu, maka segala amalnya ditolak dan tidak diterima.

Imam Syafi’i dalam syairnya mengatakan:
وَمَنْ لَمْ يَذُقْ ذُلَّ التَّعَلُّمِ سَاعَةً   , تَجَرَّعْ ذُلَّ الْجَهْلِ طُوْلَ حَيَاتِهِ [5]

Artinya: “dan barang siapa yang tidak merasakan pahitnya menuntut ilmu walau sekejap mata, niscaya dia akan merasakan kebodohan sepanjang hidupnya.”

Dari pendapatnya Ibnu Ruslan dan Imam Syafi’i dapat disimpulkan bahwa manusia yang tidak mau belajar dan menuntut ilmu, maka hidupnya ada dalam kebodohan dan amal ibadahnya sia-sia (tidak bernilai) di mata Allah swt.

B.     Proses Belajar
Hakikat merupakan hati atau jiwa manusia, hakikat merupakan diri manusia. Sedang syariatnya adalah tubuh lahiriah manusia dan pakaian yang dikenakan di tubuh.[6]
Sedangkan menurut Juraid, “hakikat tidak lain adalah sesuatu yang mesti ada pada sesuatu  yang jikalau sesuatu itu tidak ada.”[7] Maka belajar pada hakikatnya adalah “perubahan” yang terjadi pada diri seseorang setelah berakhirnya aktivitas belajar. Belajar yang dimaksud berkenaan dengan perubahan-perubahan pada diri orang yang belajar, apakah itu mengarah kepada yang lebih baik atau pun yang kurang baik, direncanakan atau tidak. Akan tetapi tidak semua perubahan dapat dikategorikan sebagai hasil dari belajar, seperti berubahan fisik atau gila.
Perubahan dan pengalaman hampir selalu ditekankan dalam definisi belajar yang diungkapkan oleh para ahli. Di antaranya menurut Andrew, “learning is interpreted as any change in behaviour brought about by experience.”[8] Maksudnya adalah belajar diartikan sebagai perubahan dalam perilaku dibawa oleh pengalaman. Sedangkan menurut Witherington yang dikutip oleh Nana Syaodih, “belajar merupakan perubahan dalam kepribadian, yang baru, yang berbentuk keterampilan, sikap, kebiasaan, pengetahuan dan kecakapan.”[9]
Dalam proses belajar sangat didukung oleh fungsi psikomotor yang meliputi penglihatan, pendengaran dan pengucapan. Belajar juga di dukung oleh fungsi memori (ingatan), memori berfungsi untuk menangkap informasi dari stimulus (lingkungan internal atau eksternal yang dapat diketahui) yang merupakan sistem penyimpanan informasi dan pengetahuan yang terdapat di dalam otak manusia.
Harry Morgan mengatakan, learning is deemed to have occurred when information is stored in long-term memory. In education, learning must be confirmed by information that is retrieved from long term memory.”[10] Maksudnya adalah belajar dianggap sebagai proses terjadinya penyimpanan informasi dalam ingatan jangka panjang dan dalam proses pendidikan serta belajar harus disertai dengan informasi yang diperoleh dari ingatan jangka panjang.
Sebuah pertanyaan bagaimana hubungan memori dengan belajar?, maka jawabannya adalah; **Seseorang ketika belajar tentang seorang Agama, maka informasi pertama yang diterima akan masuk ke dalam short term memory (memori jangka pendek) melalui indera penglihatan ataupun pendengaran, kemudian informasi tersebut diberi dengan simbol I-S-L-A-M. Setelah penyimbolan selesai, maka informasi tersebut akan tersimpan di long term memory (memori jangka panjang). Suatu saat ketika di tanya “Apa agamamu?” maka memori akan merespons dan memproses mencari kumpulan informasi yang telah tersimpan dalam long term memory. Setelah informasi yang relevan berhasil ditemukan, maka seseorang itu akan mudah menjawabnya dengan kata “Islam agamaku”.
Proses pencarian atau respons seperti ini disebut dengan istilah recall (pemulihan) atau mendapatkan kembali informasi/pengetahuan yang telah tersimpan sebelumnya.  Lihat diagram berikut:

 
  Perbedaan short term memory dan long term memory dapat dilihat dari tabel berikut:
No.
Jenis
Short Term Memory
Long Term Memory
1.
Input
Sangat cepat
Relatif lambat
2.
Kapasitas
Terbatas
Tidak terbatas
3.
Durasi
Kisaran beberapa detik[11]
(bila diulang = menyimpan lebih lama)
Tidak terbatas
4.
Retrieval/Pemulihan
Langsung
Tergantung prosesnya

Berhasil atau tidaknya proses belajar dipengaruhi beberapa faktor, yaitu:
1.      Faktor fisiologis
Faktor ini berhubungan dengan kondisi fisik/jasmani seseorang. Sehat atau bugarnya dapat berpengaruh positif terhadap proses belajar, akan tetapi sebaliknya lemah atau sakitnya fisik seseorang bisa saja dapat menghambat tercapainya hasil belajar yang maksimal.
2.      Faktor psikologis
Beberapa faktor psikologis yang utama memengaruhi proses belajar adalah kecerdasan, motivasi, minat, sikap, dan bakat.
3.      Faktor Lingkungan
Adapun faktor lingkungan yang dimaksud dibagi menjadi 2 yaitu: lingkungan sosial, seperti lingkungan keluarga, masyarakat dan sekolah dan lingkungan nonsosial, yakni kondisi alam sekitar (udara, cahaya, suhu dan lain-lain).

Dari beberapa tinjauan tentang belajar yang telah diuraikan di atas penulis menyimpulkan, belajar ditinjau dari psikologi Islam merupakan proses perubahan seseorang yang diawali dengan niat untuk memperoleh pengetahuan/ilmu dengan sebuah usaha melalui potensi-potensi yang tertanam sejak dalam kandungan ke arah yang lebih baik atau benar. Sehingga dirinya menjadi bernilai yang membawa kemaslahatan bagi umat manusia.
Adapun yang dimaksud dengan niat dalam pandangan islam adalah niat yang mendatangkan keikhlasan dan kesadaran yang tinggi bukan karena duniawi tapi karena kesadaran rohaniahnya. Niat yang benar akan memunculkan motivasi yang benar pula untuk beraktivitas, sehingga bernilai di mata manusia maupun di mata Allah swt.



BAB III
SIMPULAN

Belajar secara umum diartikan sebagai perubahan. Akan tetapi tidak semua perubahan dapat dikategorikan sebagai hasil dari proses belajar, seperti berubahan fisik (kurangnya salah satu anggota badan, patah tulang) atau gila. Belajar yang dimaksud berkenaan dengan perubahan-perubahan pada diri orang yang belajar, baik direncanakan atau tidak.
Belajar sangat didukung oleh fungsi psikomotor yang meliputi penglihatan, pendengaran, pengucapan dan memori (ingatan) serta akal yang merupakan potensi alamiah sejak dalam kandungan, seperti yang singgung dalam QS. as-Sajdah ayat/32: 9 dan QS. an-Nahl/16: 78. Potensi tersebut bekerja dengan menerima informasi pertama yang didapat indera jasmani masuk ke dalam short term memory dan selanjutnya informasi tersebut akan tersimpan di long term memory, dan kemudian ketika informasi tersebut diperlukan maka akan dipulihkan (recall) untuk mendapatkan kembali informasi/pengetahuan yang telah tersimpan sebelumnya.



DAFTAR PUSTAKA

Al-Jarallah, Adullah bin Jarallah. al-‘Abiyat al-Jâmi’ah Lilmasâ’il al-Nafi’ah. www.saaid.net/book/11/4313.doc (27 September 2015).

Baharun, Ali. Al-Fawaid Al-Mukhtarah. Bangil: PP. Dalwa, 2012.

Buseri, Kamrani. Dasar, Asas dan Prinsip Pendidikan Islam. Cet.1. Yogyakarta: Aswaja Pressindo, 2014.

Colman, Andrew M. What is Psychology. Cet. 2. New York: Kogan Page Ltd, 1999.

Hamdani, M. Stafi’i. Taudhîhul Adillah. Jakarta: PT. Elek Media Komputindo-Gramedia, 2010.

Hening, Cipta. Di Dalam Diri Ada Allah. Jakarta: PT Elek Media Komputindo, 2010.

Latief, Juraid Abdul. Manusia, Filsafat, dan Sejarah. Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2006.

Morgam, Harry. Real Learning: A Bridge to Cognitive Neuroscience. Maryland: R&L Publishing Grup, 2004.

Mushthawi, Abdurrahman. Diwan al-Imâm Asy-Syâfi’î. Beirut: Dar El-Marefah, 2005.

Santrock, John W. Adolescence Perkembangan Remaja, diterjemahkan oleh Shinto B. Adelar dan Sherly Saragih, (Jakarta: Erlangga, 2003).

Sukmadinata, Nana Syaodih. Landasan Psikologi Proses Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2009.

Syah, Muhibbin. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2010.



[1] Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, (Bandung, PT. Remaja Rosdakarya: 2010), h.99.
[2] Kamrani Buseri, Dasar, Asas dan Prinsip Pendidikan Islam, Cet. 1, (Yogyakarta: Aswaja Pressindo, 2014), h.111.
[3] Adullah bin Jarallah Al-Jarallah, Kitab al-‘Abiyat al-Jàmi’ah Lilmasà’il al-Nafi’ah, h. 4. www.saaid.net/book /11/4313.doc (27 September 2015).
[4] M. Stafi’i Hamdani, Taudhîhul Adillah, (Jakarta: PT Elek Media Komputindo-Gramedia, 2010), h. 58.
[5] Abdurrahman Mushthawi, Diwan al-Imâm Asy-Syâfi’î, (Beirut: Dar El-Marefah, 2005), h.37.
[6] Cipta Hening, Di Dalam Diri Ada Allah, (Jakarta: PT Elek Media Komputindo, 2010),   h. 44.
[7] Juraid Abdul Latief, Manusia, Filsafat, dan Sejarah, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2006),   h. 14.
[8] Andrew M. Colman, What is Psychology, Cet. 2, (New York: Kogan Page Ltd, 1999),     h. 91.
[9] Nana Syaodih Sukmadinata, Landasan Psikologi Proses Pendidikan, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2009), h.156.
[10] Harry Morgam, Real Learning: A Bridge to Cognitive Neuroscience, (Maryland: R&L Publishing Grup, 2004), h. 94.
[11] John W. Santrock, Adolescence Perkembangan Remaja, diterjemahkan oleh Shinto B. Adelar dan Sherly Saragih, (Jakarta: Erlangga, 2003), h. 138.

Rabu, 23 Desember 2020

TEORI EMANASI (PANCARAN)

TEORI EMANASI 
FILSAFAT AL-FARABI

Oleh: Nuthpaturahman 
Dosen Pada Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Washliyah Barabai

*Telah Dipresentasikan dan Diseminarkan pada Pascacarjana
IAIN Antasari Banjarmasin 
Hari Senin, Tanggal 13 Oktober 2014




Abu Nashr Muhammad bin Muhammad bin Quzalq bin Turkhan al-Farabi. Ia lahir pada tahun 259 H/872 M. Al-Farabi diambil dari sebuah nama kota Farab, tempat kelahirannya. Ayahnya adalah seorang perwira tentara keturunan Persia dan ibunya dari Turkistan. Al-Farabi meninggal di Damaskus pada tahun 399 H/950 M, dalam usia kurang lebih 80 tahun. Al-Farabi dikenal sebagai filsuf Islam terbesar, memiliki keahlian dalam banyak bidang keilmuan seperti bahasa, matematika, logika, manthiq dan sebagainya. Beliau memandang filsafat secara utuh dan menyeluruh serta mengupasnya dengan sempurna.
Filsafat al-Farabi merupakan campuran antara filsafat Aristoteles dan Neoplatonisme dengan pemikiran ke-Islaman. Al-Farabi termasuk filosof Sinkrisme (pemaduan) yang percaya akan kesatuan filsafat, yaitu mempertemukan aneka macam aliran filsafat. beliau mendefinisikan filsafat adalah “Al-Ilmu bil Maujudaat bima hia Al-Maujudaat”.
Karya-karya al-Farabi sangat banyak, di antaranya Al-Jam’u baina Ra’yay al-Hakimain Alflatun wa Arissthu; Tahiq Ghard Aristu fi kitab ma Ba’da Ath-Thabi’ah; Syarah Risalah Zainun al-KAbir al-Yunani; At-Ta’liqat; Risalah fima Yajibu Ma’rofat Qabla ta’allumi al-Falsafah; Kitab Tahsil as-Sa’adah; Risalah fi Istbat al-Mufaraqah; ‘Uyun al-Masa’il; Ara ‘Ahl-al-Madinah al-Fadilah; Ihsa al-‘Ulum wa at-Ta’rif bi Aghradita; Maqalat fi Ma’ani Aql; Fushul al-Hukm; Risalat al-Aql; As-Siyasah al-Madaniyah; Al-Masa’il al-Falsafiyah wa al-Ajwibah Anha.
Menurut al-Farabi hakikat Tuhan itu adalah wujud yang sempurna tanpa ada sebab, karena Ia adalah azali atau tidak bepermulaan, selalu ada dan Maha Esa, oleh karena itu hakikat dari wujud Tuhan tidak dapat diberi batasan atau definisi, karena batasan berarti suatu penyusunan dengan materi (benda) dan form (surah) atau dengan annau’ wal fasal (spesies dan differentis), yang kesemuannya itu adalah suatu yang mustahil bagi Allah.
Wujud Tuhan yang satu itu memancar alam semesta, pancaran ini terjadi melalui tafakur Tuhan tentang diri-Nya sendiri, tafakur Tuhan tentang diri-Nya menjadi sebab adanya alam semesta. Tafakur Tuhan tentang diri adalah ilmu Tuhan tentang diri-Nya dan ilmu adalah daya (Al-Qudrah) yang menciptakan segala sesuatu.[1]

والأول هوالذي عنه وجد ... ووخود ما يوجدعنه انما هو على جهة فيض ووجوده  لوخود شيئ  اخر

Terjemah:
Yang Pertama (Tuhan) ialah yang menjadi sumber semua wujud...dan segala wujud yang bersumber dari-Nya berlangsung melalui pelimpahan (faydy) dan wujud-Nya menjadi sumber dari wujud yang lain.



Al-Farabi Mengatakan:
يفيض من الأول وجود الثاني. فهذا الثاني هو أيضا جوهر غير متجسم أصلا. وهو في مادة. فهو يعقل ذاته ويعقل الأول. فيما يعقل من الأول يلزم عنه وجود ثالث. وبما هو متجوهر بذاته التي تخصه يلزن عنه وجود السماء الأولى.
والثالث أيضا وجوده لا في مادة، وهو بجوهره عقل. وهو يعقل ذاته ويعقل الأول. فيما هو متجو هر بذاته التي تخصه بلزم عنه وجود كرة الكواكب الثابتة. وبما يعقله من الأول يلزم عنه وجود رابع. وهذا أيضا وجود لا فيي مادة. وهو يعقل ذاته ويعقل الأول. فيما هو متخو التي نخصه يلزم عنه وجود كرة المشتري. فيما يعقل من الأول يلزم عنه وجود سالس.
وهذا أيضا وجوده لا في مادة. وهو يعقل ذاته ويعقل الأول. فيماهو متجوهر بذاته التي تخصه بلزم عنه وجود كرة الكواكب الريخ. فبما يعقله من الأول يلزم عنه وجود سابع.
وهذا أيضا وجوده لا في مادة. وهو يعقل ذاته ويعقل الأول. فبما هو متجو هر بذته التي يلزم عنه وجود كرة المريخ. فبما يعقله من الأول يلزم عنه وجود سابع،
وهذا أيضا وجوده لا في مادة، وهو يعقل ذاته و يعقل الأول. فبما هو متجو هر بذاته التي تخصه يلزم عنه وجود كرة الشمس، فبما يعقله من الأول يلزم عنه وجود تامن.
وهذا أيضا وجوده لا في مادة. وهو يعقل ذاته ويعقل الأول. فبما هو متجو هر بذاته التي تخصه بلزم عنه وجود كرة الزهرة. فبما يعقل من الأول يلزم عنه وجود تامع.
وهذ أيضا وجوده لا في مادة. وهو يعقل ذاته ويعقل الأول. فبما هو متجو هر بذاته التي تخصه يلزم عنه وجود كرة عطارد. فبما يعقل من الأول يلزم عنه وجود عاشر.
وهذا أيضا وجود لا في مادة، فهو يعقل ذاته ويعقل الأول. فبما هو بذا ته التي تخصه يلزم عنه وجود كرة القمر. فبما يعقل من الأول يلزم عنه وجود عاشر، وهذا أيضا وجوده
Terjemah:
Dari yang I (Tuhan) melimpahkan wujud II yang sama sekali tidak memiliki jasad dan tidak memiliki substansi material. 
Wujud II memikirkan dirinya sendiri dan memikirkan Yang I. Ketika wujud II memikirkan Yang I muncullah wujud III dan dengan memikirkan dzat-Nya sendiri yang memiliki sisi substansi muncullah langit I (as-samâ al-úlâ). Wujud III tidak memiliki materi, substansinya adalah akal. 
Wujud III memikirkan dirinya dan memikirkan Yang I. Ketika wujud III memikirkan dirinya sendiri yang memiliki substansi, hal itu menimbulkan bintang-bintang tetap (al-kawâkib ats-tsâbitah). Sedangkan ketika memikirkan Yang I, ia memancarkan wujud IV. Wujud IV ini pun tidak memiliki materi. 
Wujud IV memikirkan dirinya dan memikirkan Yang I. Dengan memikirkan dirinya sendiri timbullah Saturnus (kurrah az-Zuhal) dan ketika wujud V memikirkan dirinya sendiri dan memikirkan Yang I. 
Ketika wujud V memikirkan dirinya sendiri muncullah bola Yupiter (kurrah al-Musytari) sedangkan ketika memikirkan Yang I timbullah wujud VI yang tidak yang memiliki materi. 
Wujud VI ini juga memikirkan dirinya dan memikirkan Yang I. Ketika memikirkan dirinya timbullah bola Mars (kurrah al-Mirrikh). Dan ketika memikirkan Yang I muncullah wujud VII. Wujud ini juga tidak memiliki materi. 
Wujud VII ini memikirkan dirinya dan memikirkan Yang I. Ketika wujud VII memikirkan dirinya sendiri muncullah bola Matahari (kurrah asy-Syams) dan ketika wujud VII memikirkan Yang I muncul wujud VIII. Wujud VIII pun tidak memiliki materi. Wujud VIII ini memikirkan dirinya dan memikirkan Yang I. 
Ketika wujud VIII memikirkan dirinya timbul bola Venus (kurrah az-Zuharah). Sementara ketika wujud VIII memikirkan Yang I muncul wujud IX. Wujud IX juga tidak memiliki materi. 
Wujud IX ini memikirkan dirinya dan memikirkan Yang I. Ketika wujud IX memikirkan dirinya timbul bola Merkuri (kurrah al-Utharid). 
Sementara ketikan wujud IX memikirkan Yang I maka muncul Wujud X. Wujud X ini pun tidak memiliki materi.
Wujud X memikirkan dirinya dan memikirkan Yang I. Ketika Wujud X memikirkan dirinya sendiri maka muncul bola Bulan (kurrah al-Qamar) dan ketika wujud X memikirkan Yang I maka muncul wujud XI. Wujud XI ini pun sama tidak memiliki materi.

Pada pemikiran Wujud 11/Akal 10 berhentilah terjadinya akal-akal.  Tetapi dari Akal 10 muncullah bumi serta ruh dan materi pertama yang menjadi dasar dari keempat unsur yakni api, udara, air dan tanah. Dengan demikian, ada 10 akal dan 9 langit. Akal 10 mengatur dunia yang ditempati manusia ini. Akal 10 ini disebut juga Akal Aktif (‘Aql Fa’al) yaitu Jibril.[4] Al-Farabi menyatakan bahwa jumlah akal ada sepuluh, sembilan di antaranya untuk mengurus benda-benda langit yang sembilan.[5] Dasar penetapan itu ialah mengingat jumlah planet yang berjumlah sembilan. Tiap akal membutuhkan satu planet, kecuali akal pertama yang tidak membutuhkan planet.[6]







[1] Abuddin Nata, Ilmu Kalam, Filsafat, dan Tasawuf, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1998), Cet. Ke-IV, h. 87
[2] Amroeni Derajat, Surawardi; Krtik Filsafat Peripatetik, (Yogyakarta: Pelangi Aksara, 2005), Cet.ke-I, h.172 
[3] Amroeni Derajat, Surawardi; Krtik Filsafat Peripatetik, (Yogyakarta: Pelangi Aksara, 2005), Cet.ke-I, h.172-174
[4] Hasyimsyah NasutionFilsafat Islam, (Jakarta: Gaya Media Pratama, 2002), Cet. Ke-III, h.37
[5] A. Mustofa, Filsafat Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 1999), h.127
[6] Miska Muhammad Amien, Epistemologi Islam, (Jakarta:Universitas Indonesia, 2006), Cet. Ke-I, h.46


Artikel Terbaru

HAKIKAT BELAJAR Oleh: Nuthpaturahman _________________________ BAB I PENDAHULUAN A.     Latar Belakang Masa...

Arsip